RIDHOMU ADALAH KUNCI KESUKSESANKU DAN CINTAMU ADALAH PENGUAT IMANKU

اللهم اغفرلي ذنوبي ولوالدي وارحمهما كما ربياني صغيرا

BIARKAN MASA DEPAN TIDAK JELAS ASAL APA YANG KULAKUKAN HARI INI JELAS

ما مضى فات والمؤمل غيب ولك الساعة التي انت فيها

MY SWETT MEMORY IN THE LARANGAN BADUNG PAMEKASAN 2012-2013

وان فرق الأزمان بيني وبينكم فلا تنسواني وان طال يوم الفراق

JANGAN BERTANYA SIAPA AKU BERTANYALAH DARIMANA SAJA AKU

سوابق الهمم لا تخرق اسوار الاقدار

Kamis, 10 November 2011

KESALAHAN DALAM MEMAHAMI KONSEP IJBAR

Istilah ijbar memang bukan istilah baru ksususnya dalam kitab fiqh. Sebab setiap kali membicarakan tentang nikah tidak sedikit ulama yang menyinggung tentang hal itu, lebih-lebih dari kalangan mazhab syafi’i yang notabene adalah mazhab pertama yang memplopori adanya hak ijbar bagi orang tua terhadap putrinya, yang sampai saat ini seakan-akan menjadi doktrin bagi para pengikutnya yang ta’assub (fanatik) terhadap aliran mazhabnya.
Apa sebenarnya istilah ijbar?
Dalam pandangan as-syafi’i dan para pengikutnya ijbar diartikan dengan adanya hak atau wewenang wali (ayah atau kakek) dalam menikahkan putrinya yang masih gadis atau masih dibawah umur yang tidak sampai pada fase baligh atau putri yang tidak normal akalnya  meski tanpa persetujuannya terlebih dahulu.
Ada beberapa alasan kenapa dalam pemikiran mereka ijbar dibenarkan. Diantranya mereka beralasan, bahwa dalam suatu riwayat nabi pernah bersabda “Seorang janda lebih berhak atas dirinya dari pada walinya dan bagi seorang gadis seorang ayahlah yang akan menikahkannya. (HR. Daru Quthni) yang mana dalam memahami hadits tersebut mereka mengatakan “jika janda dikatan secara eksplisit oleh Rasul SAW. lebih berhak pada dirinya dalam menentukan pasangan, maka secara implisit seakan-akan Rasul mengatakan “Seorang gadis tidak lebih berhak terhadap dirinya” sehingga walinyalah yang berhak menentukan pasangannya. Pemikiran seperti itu rupanya mendapat respon positif dari kalangan syafi’iyah, bahkan ada sebagian yang ikut merasionalkan pendapat imamnya dengan mengatakan bahwa orang tua (ayah atau kakek) adalah orang yang penuh pertimbangan dan lebih berwawasan dan lebih pengalaman dalam mencari dan menentukan pendamping hidup.

Penyalah gunaan hak ijbar
Sebagaimana dijelaskan di atas bahwa sebenarnya hak ijbar itu hanya dikenal dan populer dalam pandangan aliran syafi’iyah, maka kiranya dianggap penting bagi setiap orang tua yang ingin menikahkan putrinya megetahui latar belakang kenapa ijbar itu dibenarkan dalam pandangan mereka. Sebab dalam pandangan mazhab lain ijbar tidak semudah dalam pandangan syafi’iyah yang hanya memberikan beberapa ketentuan saja. Cukup dengan adanya keserasian, bisa membayar mahar dan beberapa ketentuan lain, yang hal itu tidaklah begitu sulit untuk dilakukan. Hal itu sangat beda dengan pandangan mazhab-mazhab lain, yang cendrung meniadakan ijbar. Disamping menurut mereka, argumen yang dipakai oleh kalangan as-syafi’yah tidak proporsional, kesannya menurut mereka as-syafi’i terlalu memaksakan argumen yang ternyata bertentangan dengan hadis-hadis lain yang secara tegas meniadakan ijbar. Yusuf Qardlawi seorang ulama kontemporer, ketika ditanya tentang ijbar, beliau menjawab secara tegas bahwa konsep ijbar bertentangan dengan hadis rasul. Menurutnya banyak hadis yang secara tegas melaporkan bahwa anak diberi kebebasan untuk memilih jodohnya sendiri dan tidak boleh dipaksa. Sebagaimana hadis yang diceritkan dari Ibnu Abbas “Bahwasanya ada seorang gadis mendatangi rasul, ia menceritkan bahwa ayahnya telah menikahkanya dengan seorang laki-laki yang tidak ia cintai, kemudian rasulullah SAW. Pun memberi pilihan terhadap gadis tersebut” (HR. Abu Daud dan Ibnu Majah). Dalam hadis lain diceritakan “Ada seorang gadis mendatangi Aisyah ia menceritakan bahwa dirinya telah dinikahkan oleh ayahnya dengan sepupunya sendiri sedangkan ia tidak mau, kemudian Aisyah pun mempersilahkan ia duduk sambil menunggu Rasulullah datang. Setelah Rasulullah datang, ia pun menceritakan prilaku ayahnya yang telah menikahkan dirinya, Rasulpun memanggil ayah gadis tersebut, kemudian Rasul menyerahkan sepenuhnya urusan tersebut kepada si gadis. Kemudian si gadis berkata “Wahai Rasulullah aku bukan tidak terima dengan perlakuan ayahku, akan tetapi akau hanya memberi tahu kepada semua wanita bahwa seorang ayah sama sekali tidak mempunyai hak” (HR. An-Nasa’i)
Kemudian al-Qardlawi sedikit menjelaskan tentang timbulnya pendapat ijbar yang dikemukakan oleh mazhab syafi’i. beliau mengatakan adanya pendapat ijbar yang dikemukakan oleh as-Syafi’i, ternyata itu dikerenakan as-syafi’i terkontaminasi oleh lingkungan pada masa beliau hidup. Sebab tradisi yang berlaku pada waktu itu seorang wanita memasrahkan penuh terhadap orang tuannya dikarenakan mereka malu dan dan tertutup untuk memilih jodohnya sendiri. Disamping itu orang tua kebanyakan saat itu sangat arif dan bijaksana dalam memilihkan jodoh untuk putri-putrinya.
Jika realitanya demikian, lalu bagaimana dengan orang tua yang suka menyalah gunakan hak ijbar, dengan sengaja menikahkan putrinya dengan laki-laki yang tidak dicintainya hanya dikarenakan bisnis pribadinya semata. Sebagaimana hal itu sering ditemui dimedia-media masa seorang anak harus terlantar, dianiaya oleh orang tuannya sendiri lantaran kepentingan pribadi tersebut, seorang anak harus rela mengorbankan kebahagiaanya  demi kerakusan orang tua.
Maka dari itu, jangan sampai kisah seorang Siti Nurbaya harus terulang kembali, cikup dia yang mewakili kekarasan orang tua.

Kamis, 27 Oktober 2011

PENTINGNYA MENTRADISIKAN BAHTSUL MASAIL
(Dalam Rangka Meneruskan Detak Jantung Qolam Para Mujtahid)

“Al-Hanafy, al-Malikiy, as-Syafi’i dan Hambali memang telah tiada, namun buah pikir dan karya mereka terus siap iringi masa, dan mungkin kali ini giliran kita untuk menyebarkan dan menghidupkan kembali detak jantung qolam-qolam mereka” (M2KD).
Beberapa abad yang lalu, kita telah mempunyai beberapa tokoh yang nama-namanya sangat terkenal, bahkan sampai saat ini pun nama-nama mereka tetap harum dikalangan kaum muslimin, lebih-lebih di kalangan pesantren.  Pasalnya, mereka adalah tokoh yang sangat berjasa dalam kemajuan dan berkembangnya khazanah keilmuan umat Islam. Itu terbukti, berapa banyak ulama-ulama setelah mereka mencoba mengkaji kembali dan mengembangkan pemikiran mereka. Yang akhirnya ratusan-ratusan kitab pun dari masa kemasa berhasil ditulis sesuai pemikiran mazhab mereka.
Berangkat dari itu, akhirnya banyak pesantren-pesantren, khususnya yang terkenal sebagai pesantren salaf, berupaya melestarikan kajiannya terhadap kitab-kitab peninggalan para ulama salaf. Dan dan diantara salah satu upaya agar para santri tetap intens dalam kajiannya, akhirnya tidak jarang ditemukan di berbagai pesantren sering diadakan semacam batsul masail. Sebab cara itulah yang dianggap paling efektif untuk menumbuhkan kembali himmah (kesemangatan) para santri.
Selain itu, banyak hal yang dapat diambil dari adanya batsul masail. Diantaranya; Pertama: dengan diadakannya semacam bahtsul masail, seorang santri akan senantiasa tahu, sejauh manakah pemahaman dirinya terhadap suatu permasalahan yang sedang dikajinya. Sebab kadang seorang santri dalam mengkaji suatu permasalahan, ia hanya meninjau dari satu sisi saja. Tanpa memperhatikan sisi yang lain. Padahal, ketika ia mencoba untuk menjawabnya, ternyata masih banyak kelemahan-kelemahan yang perlu dibenahi. Dan itu tidak akan pernah didapatkan diluar bahtsul masail. Bahkan bisa dikatakan, seorang yang hanya belajar atau mengkaji suatu permasalahan dengan cara individual, cendrung menganggap bahwa permasalahan itu sepele dan dirinya telah benar. Kedua: Seorang santri ketika menyampaikan pendapatnya, dilatih untuk bisa meyakinkan para “lawananya” bahwa apa yang di sampai adalah sesuai dengan kajiannya. Sehingga, ia pun di tuntut untuk selalu kritis dan dapat mengaktualisasikan sebuah jawaban sesuai permasalahan.
Namun, tidak kalah pentingnya, dengan di adakannya semacam bahtsul masail antar pesantren, seorang santri dapat melakukan silaturrahmi dengan santri dari berbagai pesantren lain, sehingga sedikit banyak ia bisa saling tukar pengalaman.
Sehingga dengan demikian, adanya semacam acara bahtsul masail, penulis rasa sangat perlu untuk di adakan, sebagai motivator agar kesemangatan para santri dalam mengkaji ilmu-ilmu agama kembali lagi. Wallahu a’lamu binafsil amri wa haqiqatil haal

DENGAN QOLAM TELUSURI DUNIA JIHAD

“Maa kutiba qarra wa maa hufidhah farra” (setiap apa yang ditulis senantiasa akan abadi dan setiap apa yang dihafal sesuatu saat akan lepas).
Sebuah adigium yang pernah ditulis oleh Kholil bin Ahmad, rupanya bukanlah suatu hal yang sangat sederahana maknanya. Peran qolam atau sebuah tulisan ternyata mempunyai urgensi yang tersendiri yang tidak dimiliki lainnya, yaitu adanya orientasi “jaka panjang”. Tidak heran kenapa kita selalu ditekankan untuk selalu menulis dan menulis. Rupanya dengan sebuah tulisan kita akan bisa mengingat kembali apa yang telah kita lupakan dan sebagai antisipasi hilangnya apa yang telah diketahui sebelumnya. 
 Terkait dengan hal itu, historis ditulisnya alqur’an -dikarenakan mulai berkurangnya para penghafal-penghafal alqur’an (huffadz)- hingga terkodifiksinya sebuah mushaf di masa kepemimpinan Sayyidina Utsman Bin Affan, cukup untuk dijadikan tendensi betapa urgennya peran sebuah tulisan untuk generasi masa berikutnya. Dari masa terkodofikasinya mushaf alqur’an itulah, kemudian muncul para mufassir-mufassir, hingga akhirnya pada tahun sekitar 80 Hijriyah lahirlah seorang penyusun Mazhab yang pertama, yaitu Imam Abu Hanifah yang menjadi pelopor terbentuknya sebuah  mazhab, kemudian disusul oleh Imam Malik, Imam Syafi’i dan terakhir Imam Ahmad Bin Hambal. Yang mulai saat itu, para pengikut mereka mencoba menulis, mengomentari (men-syarahi ) pendapat-pendapat Imamnya, hingga akhirnya ratusan-ratusan judul kitab dari zaman ke zaman mereka tinggalkan untuk para generasi berikutnya.
Begitulah semangat jihad para mujtahid dalam mengkaji, menulis hingga tanpa terasa tulisan mereka pun menjadi sebuah karya yang dapat  dikenang sampai saat ini, dan tidak kalah pentingnya  tulisan mereka dapat dijadikan rujukan dari generasi ke generasi berikutnya. Mereka seakan tahu bahwa jihad melalui qolam itu lebih efektif dari pada hanya sekedar apologi. Namun, kadang kita hanya bisa takjub akan kegigihan mereka dalam mengkaji kemudian mengeksposnya dalam sebuah tulisan, sebab dari alat tulis yang mereka pakai hanyalah sebuah qolam sederhana, yang kadang tidak memadai. Tapi dengan semangat dan kesungguhan mereka akhirnya walau hanya bekal pena, mereka mampu menulis ratusan-ratusan kitab.
Lalu bagaimana dengan kita sekarang, yang secara fasilitas, kita sudah tercukupi bahkan lebih canggih dari pada masa mereka. Bukankh al-Hanafy, al-Maliky, as-Syafi’i dan al-Hambali   tidak pernah terdengar pernah memiliki sebuah komputer atau sebuah laptop. Dengan hal itu tidaklah heran, jika kita akhir-akhir ini dikatakan sebagai generasi-generasi yang hanya “Ramai dengan gelar namun sepi dengan karya”. Tentunya, demi menepis tuduhan itu, kita harus membuktikan bahwa kita mampu untuk melebihi mereka (para mujtahid), minimalnya kita mampu meneruskan jihad dan menghidupkan kembali detak-detak jantung qolam mereka. Dan tentunya itu tidak hanya berbentuk apologi, melainkan harus dibuktikan.
Dengan demikian, mari kita bangkit bersama. Tumbuhkan semangat jihad kita melalui tulisan. Ingatlah Al-hanafy, al-Malikiy, as-Syafi’i dan Hambali memang telah tiada, namun buah pikir dan karya mereka terus siap iringi masa, dan mungkin kali ini giliran kita untuk menyebarkan dan menghidupkan kembali detak jantung qolam-qolam mereka (M2KD).

Senin, 17 Oktober 2011

ESQ DAN URGENSINYA

-->
Kesopanan Lebih Tinggi Nilainya Daripada Kecerdasan
Sekilas, motto yang coba penulis jadikan judul di atas, memanglah sangat sederhana. Namun ketika penulis telaah, amati dan penulis  kaji, tentunya tidak demikian. Sebab motto tersebut mempunyai orientasi yang sangat dalam dan sangat subtansial.
Jauh sebelum seorang Ary Ginanjar mengeluarkan bukunya yang berjudul Emosional Spiritul Quesent. Motto di atas sudah ditemukan dan biasa dijadikan pijakan khususnya di pondok pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata. Katanya motto tersebut dibuat oleh pengasuh kedua yaitu (RKH. Ahmad Mahfudz Zayyadi). Yang mana beliau secara tidak langsung, memperingatkan kepada santri-santrinya agar lebih memprioritaskan kecerdasan emosianalnya daripada kecerdasan intlektualnya. Yang hal itu sesuai dengan apa yang dituangkan oleh Ary Ginanjar dalam kajiannya mengenai urgennya kecerdasan emosianal.
Banyak alasan kenapa kecerdasan emosianal lebih penting daripada kecerdasan intlektual. Diantranya; orang yang lebih cerdas emosianalnya, lebih peka dan menghargai orang lain, sebab dalam melakukan sesuatu, ia lebih cendrung menggunakan perasaannya. Yang hal itu bersumber dari lubuk hati yang paling dalam, sehingga ia dapat membedakan mana masalah yang dianggap sepele dan mana yang dianggap serius.  Beda halnya, dengan seseorang yang lebih mengandalkan otaknya, ia sering kali harus menyalahkan dan mengacuhkan orang lain, dikarenakan apa yang yang dilakukan oleh orang lain tidak sejalan dengan alur pemikirannya, dikarenakan tidak rasioanal atau tidak ilmiah dan tidak sesuai dengan pengetahuannya. Akibatnya ia kurang dihargai meski apa yang ia katakan logis dan berdasarkan argumen ilmiah.
Hal itu telah terbukti, berapa banyak para cendikiawan yang kecerdasannya di atas rata-rata, namun acapkali mereka dimata masyarakat tidak ada apa-apanya. Sehingga tidak heran, jika dalam bukunya yang berjudul Emosional Spiritual Quesent (ESQ) Ary Ginanjar mengatakan “Mayoritas orang-orang yang sukses ialah dari kalangan orang-rang yang cerdas dalam mengendalikan emosinya, bukan dari orang-orang yang cerdas dalam intlektualnya”.
Sejauh ini pula, dikenal dalam pondok pesantren adanya “barakah”. Barakah akan didapatkan jika, dalam masa pendidikannya dipondok pesantren seorang selalu mematuhi aturan pesantren dan selalu panut dengan apa yang diucapkan kiyai (madura tidak cangkolang). Sehingga kesuksesan seorang santripun seakan-akan, masih ditangguhkan terhadap tindakannya semasa berada dipondok pesantren. Jangan harap seorang santri ketika boyong dari pondoknya akan sukses, jika ia selalu melanggar undang-undang pesantren. Dari adanya hal itu seakan-akan kecerdasan intlektual tidak menjamin akan kesuksesan seorang santri, melainkan kesuksesan seorang santri tergantung dari perilakunya semasa ada dipondok.
Sehingga disini, penulis sengaja angkat judul di atas, dalam rangka mengoreksi ulang bagi para cendikiawan-cendikiawan yang mulai banyak menyisihkan dan menyepelehkan kecerdasan itu. Akibatnya banyak dari mereka yang hanya mengandalkan intlektualnya saja, namun   tetap saja kurang dihargai dimata manusia. Dari itu marilah kita jangan sampai hanya mengisi otak kita dengan berbagai macam ilmu saja, namun marilah kita juga mengisi hati kita dan menjaga sikap kita, lebih-lebih kita masih berada di pondok pesantren. Akhirnya, Wamaa ata mukhalifan lima madlo fababuhun naqlu kasuhtin wa ridlo. Wassalam..

TOLOK UKUR SEBUAH PESANTREN

-->
TOLOK UKUR KEMAJUAN SEBUAH PESANTREN
Sejauh ini, lembaga pesantren masih eksis mempertahankan tradisi lama, yaitu mengkaji karya-karya para ulama salafus shalih atau istilah pondoknyanya dikenal dengan kitab-kitab “gundul”. Hal tersebut telah menjadi ciri khas tersendiri bagi setiap pesantren pada umumnya. Banyak alasan kenapa hal tersebut sangat diprioritaskan di pendidikan pondok pesantren, diantaranya; karena visi dan misi utama pesantren ialah mencetak kader-kader umat yang tafaqquh fi ad-dien dan berakhlaqul karimah. Sehingga langkah pertama yang dilakukan pesantren biasanya menfokuskan kurikulumnya terlebih dahulu terhadap penguasaan ilmu gramatika bahasa arab, dengan tujuan agar dalam mendalami dan mengkaji ilmu dan hukum-hukum syariat dapat terealisasi secara maksimal. Sebab bagaimana mungkin seseorang bisa memahami apa yang ditinggalkan mereka (para ulama) jika ia sendiri belum  paham bahasa yang dieksposkan oleh mereka (para ulama)!
Tidak berhenti disitu saja, setelah mereka para santri bisa membaca kitab. Langkah selanjutnya  yang biasa dilakukan di pesantren ialah mengajari mereka ilmu-ilmu yang mendukung terhadap pemahaman dalam mengkaji al-qur’an dan al-hadist. Seperti ilmu balaghah, mantiq, dan lain semacamnya. Baru kemudian setelah itu, disajikanlah bermacam-macam disiplin ilmu sesuai minat dan fak mereka.
Itulah sebagian upaya yang dilakukan pondok pesantren selama ini, untuk menciptakan kader-kader umat yang tafaqquh fi ad-dien. Dengan hal itu pula, secara tidak langsung pesantren telah memberikan target terhadap semua santri yang terlibat di dalamnya. Targetnya adalah pengetahuan sekaligus penguasaan terhadap ilmu agama. Lebih spesifik lagi dalam bidang kutubiyah-nya. Dengan demikian, tidaklah heran jika ada sebuah pesantren yang mencoba menciptakan teori serta sistem baru, agar para santri kembali berminat untuk mempelajari ilmu-ilmu agama serta mengembalikan semangat baru untuk mempelajari kitab-kitab salaf. Yang hal itu menjadi target prioritas sebuah pesantren. Sebab spekulasi yang ada sampai saat ini, ialah pesantren merupakan satu-satunya pendidikan yang masih intens dalam mengembangkan kutubus salaf. Sehingga, jika ada orang tua yang memondokkan anaknya kepesantren dan setelah boyong dari pondok, ternyata anaknya tidak bisa bahasa inggris atau ahli dalam bidang biologi dan matematika misalnya, maka orang tua tidak akan merasa kecewa dan bisa memaklumi akan kekurangan anaknya. Beda halnya, jika seorang anak yang dimasukkan kepesantren ternyata setelah boyong tidak bisa baca kitab, maka orang tua akan merasa gagal dalam mendidiknya.
Lalu bagaimana sekarang jika ada sebuah pesantren yang sengaja merubah kurikulumnya dan mencoba mengesampingkan pelajaran kutubiah-nya, menganggap bahwa diera ini tidak lagi zamannya untuk belajar kitab kuning lagi, sebab itu tidak akan menjamin masa depannya! padahal itu merupakan kesalahan yang tidak pernah disadari, sehingga tidaklah heran jika akhir-akhir ini banyak pesantren yang kehilangan ruhnya. Namun bukan berarti ketika penulis katakan demikian, penulis harus divonis dari sebagian orang yang ta’assub (fanatik) terhadap ilmu-ilmu agama, sebab menurut penulis, seseorang yang hanya belajar agama tanpa diseimbangi ilmu-ilmu lainnya akan pincang,  tapi yang lebih parah lagi ialah seorang yang hanya bisa ilmu umum dan tidak paham ilmu agama, sebab orang itu akan senantiasa buta dan tidak akan tahu kemana ia harus langkahkan kakinya. Akhirnya penulis mengajak, marilah kita bangun dan temukan kembali eksistensi sebuah pesantren. Ingatlah tolok ukur kemajuan sebuah pesantren bukan dilihat dari banyaknya alumni yang telah dikeluarkan dan di wisuda, melainkan tolok ukur yang sebenarnya ialah dengan banyak tidaknya alumni yang telah menjadi panutan serta memberi manfaat terhadap orang lain, dan mampu menyelamatkn dirinya, baik di dunia lebih-lebih di akhirat.  Wallahu a’lamu binafsil amri wa haqiqatil haal.

Sabtu, 23 Juli 2011

Cincin Dua Angsa



Suara speda motor menderu di depan rumahku “Pos...!” terdengar si pengendara berteriak lantang, aku bergegas memenuhi panggilan itu “Dari pelestina”, ucap Pak pos sebari memberikan sepecuk surat dan sebuah bungkusan besar.
“Abi...!!!”, pekik hati kecilku penuh haru biru menerima bingkisan ini.
“Ulfah.... Junda.... ini ada kiriman dari Abi!”, aku memanggil mujahidah dan mujahid kecilku. Tak lama kemudian mereka lari ke arahku dan berebut membuka bungkusan besar itu. Oh, ternyata bungkusan besar itu berisi tiga buah baju, untukku, untuk ulfah dan untuk junda.
“Ah...., Abi masih sempatnya memerhatikan kami ditengah desingan peluru Israel yang siap memnerkammu”, desah hatiku lirih. Ulfah dan Junda kulihat sangat girang menerima kiriman baju dari abinya. Mereka langsung mematuk-matukkan baju itu ke tubuhnya.
“Mi...lebaran ini Abi pulang Nggak ya...? Ulfah sudah rinduu... deh,”ucap si sulungku dengan wajah sendu.
“Tidak..., Ramadhan dan lebaran kali ini Abi  tidak bersama kita,” jawabku sambil coba tersenyum walau hati ini sangat serat dengan gelembung haru.
“Yaaa lebaran sekarang nggak sama Abi .....dong, Mi,” desah ulfah kecewa.
“Tak kenapa Abi nggak datang, kalau Ulfah rindu sama Abi, ingat-ingat saja pesan abi waktu itu, waktu mau pergi dulu. Kalau Ulfah melaksanakan pesan-pesan itu, pasti Allah akan menyampaikan rindu Ulfah sama Abi”, hiburku.
    Setelah mendengar ucapanku si sulung yang baru berusia empat tahun itu langsung menangis tergugu.
“Maafkan Ulfah ya...Bi, Ulfah janji nggak lagi-lagi .....,”ucap Ulfah di sela-sela tangisnya.
“Kenapa ulfah.....?” tanyaku seraya mengusap kepala mungilnya.
“Mi... ulfah suka bandel kalau di suruh Ummi pakai jilbab. Padahal Abi dulu bilang kalau Ulfah mau keluar harus pakai jilbab. Mi..., Abi  maafin Ulfah nggak ya.... Mi?” tanya sulungku lugu.
    Aku tak mampu menjawab pertanyaannya dengan kata-kata, aku takut air mata ini jatuh berderai-derai di depan mujahidah dan mujahid kecilku. Ini merupakan pantangan besar bagiku!!!

        *     *     *

Malam telah menghamparkan gelapnya yang pekat, anak-anakpun sudah terlelap. Aku beringsut dari tempat tidur untuk membuka dan membaca surat dari Mas Pri. Sengaja surat ini ku baca diam-diam agar bila air mataku ini tumpah ruah, mereka tak akan dapat menyaksikannya. Ku buka amplop biru ini dengan getar rindu.

                            Untuk Ummi Thayyibah

Dengan asma Allah ku kirim salam
Dari medan jihad di negri sebrang
Semoga kau di beri ketabahan
Sanpai datang waktu kala itu
Kau ikhlas melepas kepergianku
Beribu kenangan terasa sendu

Dengan asma Allah ku kirim salam
Dari medan jihad di negri sebrang
Semoga kau di beri ketabahan
Satu tahun kini hampir berlalu
Semoga aku segera bersamamu
Membawa beribu kenangan haru
Dari bumi yang menyejukkan kalbu

Ummi Thayyibah....selamat Ramadhan dan Iedul fitri, mudah-mudahan semakin Taqwa walau tidak di sertai Abi. Ini ada baju untuk Ummi dan Anak-anak, tapi Ummi jangan sedih jika baju ini mungkin yang terakhir yang Abi berikan, dan surat yang Ummi baca ini, surat terakhir yang Abi tulis.
“Mi...coba tolong periksa dalam amplop ini, Abi sertakan Cincin Dua Angsa milikmu.
    Ummi Thayyibah... suatu ketika selepas sholat isya, ada seorang teman datang ke Pondok tempat para Mujahid berkumpul, Ia Membawa bantuan dari Muslim Indonesia berupa uang dan Perhiasan. Ketika Ikhwan itu membuka kotak tempat Perhiasan, mata Abi langsung tertuju pada sebuah Cincin Dua Angsa yang rasanya Abi sudah sangat mengenalanya. Ah, Mi... benar saja di dalam Cincin itu tertulis nama kita berdua .....
    Umi Thayyibah, sejak awal menikah, Abi yakin bahwa Ummi tidakkan mengecewakan, telah kau berikan seluruh apa yang kau cintai pada Allah; Abi, Harta bendamu dan skarang Cincin Dua Angsa yang merupakan bukti Cinta kita berdua.
    Ah, Mi..., Abi harus banyak bersyukur mendapatkan Istri se Sholihat engkau. Mi...., berdoa ya! agar Allah mengukirkan nama kita di surga sana seperti yang terukir dalam Cincin Dua Angsa yang telah engkau Infaqkan.
    Mi..., Abi ingin menjadi seperti Rasululah terhadap Ummi, Beliau rela membeli sebuah kalung perhiasan yang pernah di miliki Sitti Fatimah, putrinya. dan kalung perhiasan itu merupakan pemberian Siti Khadijah ketika Sitti Fatimah melangsungkan akad nikah dengan Sayyidina Ali bin Abi Thalib. karena faktor ekonomi yang pas-pasan akhirnya terpaksa Kalung perhiasan itu di jual.
    Alhamdulillah walau dengan susah payah, Abi berhasil mengumpulkan uang untuk menebus Cincin Dua Angsa ini. Sekarang Abi berikan kembali Cincin ini untukmu, Ummi Thayyibahku.
    Ingat Mi..! Cincin ini sebagai Titipan bukan sebagai Mahar. Jadi Ummi harus izin dulu kalau mau menginfaqkannya.
    Mi..., sudah dulu ya, sampaikan salam rindu Abi dan salam jihad Abi buat Ulfah dan Junda.
“Dan apa saja harta yang baik kamu nafkahkan di jalan Allah, maka sesungguhnya Allah maha menetahui,...Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan, niscaya kamu akan di beri pahala yang cukup sedang kamu sedikitppun tidak akan di aniaya.(Qs al- baqoroh: ayat 272-273)

                                Yang mencintaimu  karena Allah Abu Ulfah
                                         
  
Baju  dan kertas biru gelora rindu ini kini kuyup sudah, derai air mata pun sudah tak mau lagi untuk di bendung. Perlahan tanganku menelusuri ujung amplop, dan... ku temukan sesuatu yang berbentuk bundar di sana. Ah, ku pakai Cincin itu dengan hati penuh debar-debar Cinta. Seperti dulu ketika pertama kalinya saat Mas Pri mencapkan... “Saya terima Nikahnya dan Kawinnya Thayyibah binti Shabri dengan maskawin Cincin Emas lima gram tunai...”.

*      *      *
Adzan subuh Telah berkumandang, bunyi takbir dan bedug menggema di udara. Iedul fitri kembali datang mengunjugi manusia-manusia suci selepas Ramadhan. Keluarga berkumpul dalam suka cita. Keriangan menggantung di mana-mana. Termasuk di rumahku, walau tanpa Mas Pri. Kedua orang Anakkupun di liputi kegembiraan sekeliling.
    Kubayangkan Mas Pri membaawa mereka ke kebun binatang, bercengkrama dengan junda dan ulfah sebagai mana kini tengah di lakukan oleh banyak keluarga lainnya, tapi aku menyadari, bahwa pengorbanan ini pasti akan mendapatkan balasan yang setimpal oleh Dzat yng tak pernah tidur.

*      *      *
Beberapa hari setelah Ied berlalu, Seorang Ikhwah datang memberi berita," Akhuna Pri telah gugur sebagai mujahid sejati tengah malam menjelang Iedul Fitri..."
    Rasanya hatiku hancur berkeping-keping, langit seakan runtuh menerpa diriku. Kabar itu menyayat di hatiku," Apkah ini hayalan atau memang kenyataan ", gumamku seakan tidak percaya pada apa yang aku dengar.

























 

Rabu, 20 Juli 2011

Gangguan Khusyu' Dalam Shalat

Khusyu' merupakan sebuah tuntutan dalam menjalankan semua ibadah kepada Allah, baik ibadah tersebut bersifat materi (مالية محضة/مالية غير محض) ataupun yang bersifat non materi (بدنية محضة). Dengan artian semua ibadah yang dilakukan oleh seorang hamba seyogianya harus berlandaskan harapan kepada Allah atau istilah pondoknya لله تعالى.
Khusyu' dalam menjalankan ibadah yang sifatnya materi maksudnya ialah keikhlasan terhadap harta yang telah dikeluarkan dan mengharap apa yang dikerjakannya semata-mata hanya untuk Allah. Adapun khusyu' dalam mengerjakan ibadah yang bersifat non materi seperti shalat misalnya ialah ingatnya hati kepada Allah serta ketengan jiwa dengan tidak memikirkan sesuatu apapun, baik yang berhubungan dengan duniawi ataupun ukhrawi. Dan khusyu' seperti itulah dinobatkan oleh al-Quran dengan  orang-orang yang beruntung. 

Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman,. (yaitu) orang-orang yang khusyu' dalam sembahyangnya (QS. Al-Mu'minuun:1-2)

Mengenai hal ini al-Ghazali dalam kitab ihya' ulumuddin turut menyinggung bahwasanya khusyu' sangat ditekankan dalam dalam shalat bahkan saking pentingnya peranan khusyu' ada sebagian ulama yang menjadikannya sebagai penentu terhdap sahnya shalat. Alasannya cukup sederhana karena diantara tujuan diperintahkannya shalat ialah agar hamba selalu ingat kepada Allah. Sebagaimana Allah berfirman ; 
Sesungguhnya aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, Maka sembahlah aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat aku.(QS.Thahaa:14)
Mungkin dari itu pula mengapa seorang yang shalat itu disunnahkan menghadap tembok atau dingding sebagai antisipasi agar orang lain tidak lewat di depannya atau dengan cara meletakkan sajadah dan semacamnya (سترة) sebagai tanda bahwa dirinya sedang melaksanakan shalat sehingga dengan itu ke-khusyua'-annya senantiasa terjaga. 
Namun satu hal yang kadang kita lupa dan sering menganggap remeh dengan melakukan tindakan yang dapat menghilangkan ke-khusyu'-an orang lain yang sedang mengerjakan shalat seperti sengaja mengganggunya atau sengaja lewat di depannya padahal kita sudah tahu bahwa ia sedang shalat. Bukankah berdzikir yang pada dasarnya itu diperbolehkan dan disunnahhkan namun jika mengganggu itu juga diharamkan. 
Lalu bagaimana sekarang dengan tindakan kita yang memang sengaja mengganggu konsentrasi orang yang shalat dan sengaja lewat didepannya. Padahal kita tahu bahwa hal tersebut diharamkan. Masihkan kita dapat ditolerin atas perbuatan kita?. Bukankah andai kita  tahu akan dosa  yang kita dapat,  niscaya kita akan menyesali perbuatan kita. bukankah pada suatu kesempatan nabi pernah mengatakan bahwa orang yang memang sengaja lewat di depan mushalli itu tak ubahnya seperti syaitan.
إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ إِلَى شَىْءٍ يَسْتُرُهُ مِنَ النَّاسِ ، فَأَرَادَ أَحَدٌ أَنْ يَجْتَازَ بَيْنَ يَدَيْهِ فَلْيَدْفَعْ فِى نَحْرِهِ ، فَإِنْ أَبَى فَلْيُقَاتِلْهُ فَإِنَّمَا هُوَ شَيْطَانٌ ». رَوَاهُ مُسْلِمٌ
Jika salah satudiantara kalian shalat dan sudah menutup dari manusia, maka jika ada seseorang hendak lewat di depanmu maka cegahlah ia, jika ia menolak maka bunuhlah maka sesungguhnya ia adalah syaitan (HR. Imam Muslim)
Akhirnya sebelum tulisan ini ditutup, penulis ingin menyampaikan sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari Muslim yang menjelaskan bahwa hal-hal yang kadang dianggap remeh oleh kita seprti mengganggu, dan sengaja melintas di depan mushalli tanpa alasan yang dapat dibenarkan,  ternyata itu semua diharamkan.
لو يعلم المار بين يدي المصلي ماذا عليه لكان أن يقف أربعين ، خيراً له من أن يمر بين يديه (رواه الشيخان)
Andai tahu seseorang yang lewat di depan orang yang shalat terhadap  apa (dosa) yang akan ia peroleh, niscaya ia akan memilih lebih baik diam selama empat puluh tahun dari pada lewat di depan orang yang shalat (HR. Imam Bukhari Muslim). 
Wallahu a'lam bi nafsil amri wa haqiqatil hal.

Ada Apa Dengan Bulan Maulid
Latar belakang historis perayaan maulid nabi ialah berasal dari tradisi yang dikenalkan oleh Abu Sa’id al-Kokburi, yang dikenal sebagai al-Malik al-Muazzam Muzaffar al-Din yang berkuasa di kota Ibril menyusul pengangkatannya oleh Salahuddin Al-Ayyubi pada 586H. Al-Kokburi terkenal murah hati dan telah mengeluarkan seribu dinar untuk merayakan maulid, dan mengajak sejumlah besar kalangan  masyarakat dari berbagai tempat guna mengikuti ritual tersebut, karena memang  pada masa itu lapisan masyarakat sudah banyak yang melupakan tokoh-tokoh pejuang Islam. Mereka lebih mengenal dan mengidolakan orang-orang non muslim.
Sungguh tradisi maulid nabi sampai sekarang masih mengakar kuat dalam kebudayaan lslam, lebih-lebih di kalangan masyarakat NU, meskipun perayaannya sendiri masih menjadi kontroversi. Di antaranya ketidaksepahaman yang terjadi antara kaum reformis dan kaum tradisionalis. Misalnya Moenawar Chalil dari golongan reformis yang menganggap perayaan tersebut adalah bidah dan ia menuduh kaum tradisionalis telah melestarikan bidah. Ia mengatakan perayaan maulid sebagai bidah dengan alasan bahwa perayaan tersebut tidak berasal dari dogma;  keberadaannya tidak didukung baik oleh al-Quran maupun hadis; dan  tidak dilakukan oleh nabi maupun ulama salaf. Ia juga menuduh kaum tradisionalis telah menggunakan hadis yang salah untuk membenarkan perayaan itu, karena tak satu pun kitab hadis otoritatif yang melaporkan hadis yang demikian. Hadis yang dimaksud itu berbunyi :
“ Barangsiapa yang merayakan hari kelahiranku maka kelak akan kuberi syafaat di hari kiamat.”
Dalam kitab yang berjudul Husnul Maqosid fi Amalil Maulid al-Suyuthi membela pembaharuan yang baik dan menolak karya al-Faqihani al-Maliki yang secara tegas menolak tradisi perayaan maulid nabi dan mengklasifikasikannya sebagai bidah mazmumah,  pendapatnya itu berdasarkan pada pendapat-pendapat al-Asqolany dan al-Haitamy. Begitu juga wakil ketua syuriyah NU Kiai Sahal Mahfud. Ia menjustifikasikan perayaan maulid nabi sebagai anjuran. Ia beralasan bahwa nabi memperingati hari kelahirannya dengan cara berpuasa. Beliau juga menyatakan, selagi perayaan maulid dijadikan hari kegembiraan dengan cara bersedekah dan silaturrahim maka perayaan maulid itu termasuk bidah yang dianjurkan (bid’ah hasanah).  
Jawaban terhadap pertanyaan apakah maulid itu salah atau benar? Kaum tradisionalis merujuk pada pendapat al-Suyuthi yang menyatakan bahwa selama perayaan maulid dijadikan tempat untuk menggembirakan masyarakat dengan memasukkan pembacaan al-Quran, sejarah nabi, dsb maka perayaan itu secara kategoris termasuk bidah hasanah. Tapi masalahnya adalah, berdasarkan realita yang terjadi di sebagian daerah, perayaan maulid hanya dijadikan tempat untuk berpesta pora, bermain musik, dan menyanyi yang di dalamnya terdapat hal-hal yang munkarat dan terlalu berlebihan.
Maka kalau memang seperti itu yang terjadi, masihkah perayaan tersebut dapat ditolerir dan dikategorikan ke dalam bidah hasanah? 
Maka dari itu kita sebagai umat Islam janganlah sekali-kali menjadikan perayaan maulid nabi sebagai ajang yang bukan-bukan. Jadikanlah perayaan maulid nabi sebagai ajang untuk mengingatkan kita kepada sang penyebar agama Islam, Nabi Muhammad saw. 

Selasa, 19 Juli 2011

I Love You Lora

“Bundaku tercinta pengasuh penuh suka, senyum bahagia kutemukan surga
Kusujud bersimpuh ditelapak kaki sebagai tanda wajib ku mengabdi
Bunda….bunda….bunda…”
Lagu itu seakakan menambah kesediahannya, entah kenapa malam itu perasaannya selalu diingatkan kepada sosok wanita yang ia sangat rindukan, padahal tidak seperti biasanya ia bersedih pada saat malam-malam seperti itu.
“ Wi kenapa kamu” pertanyaan yang ditujukan kepadanya membuat lamunannya bubar, iapun bangun dari posisinya yang terlentang “ enggak kok, aku enggak apa-apa” jawab Dewi “ kamu lagi sedih”? Tanya Putri “ enggak juga, aku cuma ingat ibu di rumah, habis lagunya sih sedih banget” lanjut Dewi “oo..ya udahlah Wi lupakan saja ibumu, buat apa ingat ibu terus, lagian beliau gak butuh diingat kok, tapi butuh doa. Apa untungnya kalau cuma diingat kalau beliau gak didoa’in. ya udah kita shalat isya’ dulu, sekarang yuk keburu mau doain ibu soalnya tadi habis maghrib aku gak sempat mendoakannya, biasa keburu dengerin musik mumpung ada kesempatan” ajak Putri pada Dewi. Dewi pun mengiyakan permintaan Putri. Smbari menggelengkan kepalanya, heran atas sikap dan kata-kata putri yang ceplas-ceplos tapi kadang masuk akal..
Jarum jam hampir menunjukkan pukul 10.00 wib, bertanda kalau sebenrtar lagi malam liburan akan ditutup. Mereka pun melangkahkan kakinya ketempat wudlu’ dan setelah selesai merekapun menuju mushallah. Malampun semakin larut, rembulan seakan ikut serta meramaikan suasana malam yang penuh pujian dan munajat kepada Rabbnya.
Selang berapa jam kemudian dewi dan putripun kembali kekamarnya. Trettt…..dewi membuka pintu kamar dengan hati-hati, tatapannya menuju teman-teman yang sedang asyik tidur dengan bermacam-macam ekspresi. Tanpa basa-basi mereka langsung menganti pakainnya kemudian menuju tempat tidur di sebelah pojok dekat dengan lemarinya masing-masing. “ wi udah dengar belum kalu putra kiyai besok mau datang kesini, katanya sih beliau udah lulus dan mau boyong”? tanya putri disela-sela kesenyapan. “Enggak kok, emangnya kamu tahu dari mana”? tadi dari ustadazah iis waktu di mushallah, katanya beliau besok udah mau boyong dari pondoknya, maklum beliaukan udah lama mondoknya bosan kali, atau beliau mau cari pendamping” husst…jangan-macam-macam put” ingat dewi pada putri “ ya udah tidur aja kalau gak mau dengar cerita aku. O iya wi kalau kamu liat beliua kamu pasti jatuh hati” udah put jangan macam-macam.
Malampun semakin pekat bertanda kalau malam sebentar lagi akan digantikan siang, walaupun sebenaranya ia tidak ingin cepat-cepat menuju keperaduan. Tapi itulah takdir yang ditentukan Tuhan kepada malam dan siang yang harus bergantian melaksanakan titah Tuhannya.


*****

Pagipun telah menampakkan wujudnya dengan penuh ceria dipagi buta itu. Para santri sibuk aktivitasnya masing-masing tak terkecuali dewi dan teman-teman sekamarnya, mereka sibk membersihkan kamrnya yang kotor “ put kamu pernah lihat putra kiyai yang katanya mau pulang sekarang itu ”? tanya dewi di tengah kesibukannya “ memangnya kenapa”? balas putri “ya enggak kenapa Cuma nanya, soalnya cerita kamu tadi malam serius banget” “ya wi kalau aku enggak pernah lihat ngapain aku cerita sama kamu. o iya wi kata ustadzah Iis kalau sudah nyampek katanya beliau mau ngisi kajian kitab al-hikam mau menggantikan kiyai sepuh di mushallah” berarti beliau pinter ya put” sambung dewi “ ya iyalah wi kalau enggak pinter mau dikemanakan pesantren ini” jawab putri meyakinkan dewi

****

Sore itu adalah sore pertama bagi lora ilzam menggantikan abahnya kiayai yahya sebagai khodimul ma’had yang biasa mengisi kajian kitab al-hikam di mushallah. Para santri putra pun sudah berkumpul memadati mushallah menunggu sebagiamana biasanya mereka menunggu kiyai sepuh. Tak terkecualipun di bagian putri, walaupun mereka hanya sebatas mendengar melalui suara sound sistem mushallah namun mereka sangat antusias ingin segera menyimak paparan lora ilzam yang masih muda namun keilmuannya tidak diragukan lagi. “ para santri-santri sekalian yang dimuliakan Allah. sebenaranya saya enggan menggantikan kiyai mengisi ta’lim ini, disamping karena saya belum pantas, saya juga merasa khawatir akan tidak bisa mengamalkan apa yang saya ajarkan nanti, namun palah daya sebab ini adalah titah dari beliu yang harus saya terima. Lagi pula beliau telah memantapkan hati saya bahwa kata beliau “antara apa yang kita pelajari dan pengamalannya itu dua hal yang sifatnya berbeda, namun alangkah bijaknya jika setelah dipelajari itu diamalkan dan insyaallah ikamu bisa melakukannya zam” itulah sebagai pengantar ilzam sebelum memulai ta’limnya. Lebih lanjut beliau menjelaskan “bahwa kitab yang akan kita pelajari merupakan bagian dari kitab-kitab tasawuf yang ada. Kitab ini merupakan karya seorang tokoh sufi terkenal ibnu ‘athoillah as-sakandari. Dan kitab-kitab ini sangatlah penting untuk kita kaji, lebih-lebih akahir-akhir ini dimana kebanyakan dari kita sudah menyimpang dan lebih mementingkan keduniaan”. Dikesempatan itu ia juga tidak melewatkat dengan bercerita tentang tokoh-tokoh sufi lainnya seperti imam Ghazali, Syaikh Abdul Qadir Jailani. Dan tak kalah serunya saat ia bercerita tentang tokoh sufi perempuan yang bernama Robiah al-adawiah yang hidup pada abad ke2 ia menjelasakan panjang lebar mengenai kehidupan beliau, bahkan di akhir ceritanya ia mengatakan bahwa ia kagum dengan perempuan itu dan ia pun mengatakan kelak andaikata ia menikah semoga ia dikaruniai pendamping seperti itu. Setelah bercerita panjang lebar mengenai para tokoh-tokoh sufi ia pun menutup ta’lim di sore itu dengan pembacaan wallahu a’lam fi nafsil amri wa haqiqotil hal.
Para santripun berdo’a dan turun satu persatu setelah menunggu loranya beranjak menuju dhalem dan ada sebagian yang masih setia duduk menghadap kiblat sambil menunggu adzan maghrib dikomandangkan.

****

Di bagian putri Dewi pun seakan-akan kagum setelah mendengar paparan dari loranya, ia pun sekarang yakin akan cerita-cerita putri temannya tentang sosok dan keilmuan loranya, bahkan dewi merasa penasaran dan seakan-akan ia ingin sesekali melihatnya, bahkan ia merasa terkejut ketika diwaktu mengaji loranya menyebut nama Robiah al-adawiyah, yang hal itu secara kebetulan sama dengan nama aslinya.
Mulai saat itu dewi pun tahu bahwa sebenarnya nama dirinya adalah nama yang pernah tekenal yang dimilki seorang sufi perempuan, sehingga ia pun penasaran dan ingin menanyakan lebih lanjut tentang kehdupan robiah al-adawiah. Walaupun dalam hatinya pesimis niatnya tidak akan kesampaian. Tapi itulah takdir Tuhan yang bisa terjadi kapanpun untuk siapa pun dan di mana pun dan hal itu bukanlah suatu kebetulan. Di pagi itu di papan informasi bagian putri terpampang penguman :
“kepada setiap santri aliyah putri yang hendak mengikuti kajian fiqh, harap siap-siap memenuhi syarat-syarat dibawah ini:
membeli kitab fathu al-muin
niat yang tulus
siap mengamalkan
siap mengaji sampai selesai

setelah membaca innnformasi tersebut, dewipun gembira karenan ia merasa mempunyai kesempatan untuk bertemu. Iapun mempersiapkan apa yanga menjadi keperluanya. Malam itu sehabis sholat maghrib santrri putri kelas XI berkunpul bersiap mengikuti kajian kitab yang akan diasuh oleh lora zain. Denagan menunggu sebentar akhirnya ta’limpun dimualai, dewipun menyimaknya dengan sungguh-sungguh apa yang dipaparkan oleh loranya itu. Kemudian setelah lora zain memaparkan isi kitab fathul mu’in ia hendak mengakhiri, namun, sebelumnya ia meminta kepada para santri yang mengaji untuk menanyakan permasalahan yang bersangkutan dengan apa yang di paparkanya, para santripun diam, mungkin mereka canggung untuk menayakanya. Tapi tidaklah untuk dewi. Ia mengacungkan tanganya. Melihat hal itu, lora zain mempersilahkan dewi.
“ia silahkan” katanya…
“sebelumnaya mohon maaf, karena keluar dari pembahasan ini. Sebab ini berangkat dari rasa penasaran saya. Dan itu dimulai waktu kemarin ketika sampean menjelaskan tentang tokoh sufi perempuan yang bernama Robi’ah al-adewiyah. Jadi berkenan sampean menjelaskan ulang mengenai hal itu, terima kasih.” Ucapnya lembut.

Ssmenjak pertemuan itu, kekaguman dewi berubah menjadi rasa yang ia ssendiri tidak mengerti, bahkan lama-kelamaan sesakan bayangan seorang lora menghantuinya, bahkan dalam hayalnya. Kadang terlintas keinginanya untuk mengucakan satu kalimat “ I Love You Lora” nammun ketika ia sadar akan setatusnya iapun membuang jauh-jauh perasaan itu, dan menganggap itu hanyalah suatu perasaan yangn tidak normal yang semestinya. Ia tidak miliki. Sungguh aneh bagi dewi ketika ia tambah sadar akan statusnya, malah seakan-akan perasaan itu merongrong, seakan memaksa untuk mengungkapkan perasaanyua.

BERSAMBUNG....Tunggu di kesempatan kedua

Jumat, 01 Juli 2011

Kaifa Haluk

Teruntuk Calon Istriku:
Jamilatun Sholihah
Asslamu Alaikum Warrohmah…
Bertahun-tahun sudah aku berkelana tapaki jalan-jalan kehidupanku demi sebuah harapan. lama sudah aku mengasing tegarkan hati demi sebuah cita masa depan. Terkadang aku pun sudah merasa tak tahan lagi dan ingin segera diri terbebaskan namun aku pun sadar ini hanya bagian dari perjalanan yang akan berakhir jua nanti dipenghujung jalan. Kadang harus aku lalui lorong-lorong sunyi-sepi. Kadang harus aku injak kerikil-kerikil tajam dan sedikit duri dan kadang jua aku seakan kehilangan arah, kehabisan tenaga namun lagi-lagi aku harus sadarkan diri bahwa ini adalah bagian dari sandiwara yang aku perankan sendiri. Dan kini… aku sudah hampir sampai dipenghujung jalan yang kini aku jalani.

Calaon istriku Jamilatun Sholihah…
Kaifa haluk…?
Maaf, jika mungkin diwaktu-waktu kemarin aku tidak begitu menghiraukanmu. Jika terkesan aku tidak pedulikanmu dan jika kelihatannya aku hanya pentingkan diriku. Maaf…, itu pun jua aku lakukan  untukmu. Aku masih harus lalui lorong-lorong sana demi sebuah harapan masa depan aku denganmu. Ya…demi aku, kamu dan semua awlad sholih-sholihah aku denganmu.

Calon istriku Jamilatun Sholihah…
Hari-hari kemarin bukan aku buta, tapi aku sengaja enggan untuk menlirik, karena aku tak ingin perhatianku tercecer di jalan sana, pada orang-orang sana. Perhatianku hanya untukmu... Hari-hari kemarin bukan aku tak punya cinta, tapi aku sengaja mengurung rasa, karena aku tak ingin cintaku terbagi di lorong sana, pada orang-orang disana, cintaku hanya untukmu… Aku ingin memberikan yang seutuhnya padamu, cintaku…, rasaku… seutuhnya untukmu dan aku berharap kau pun jua begitu.

Calon istriku Jamilatun Sholihah…
Tenanglah…kini aku sudah hampir sampai dipenghujung jalan,  tersenyumlah… sebentar lagi aku akan datang dan menemuimu. Aku akan menjemputmu dan lalui jalan dan lorong-lorong berikutnya bersamamu. Akan aku berikan semua perhatian yang kemarin belum pernah kau dapatkan dariku, akan kuberikan semua cinta dan kasih sayang yang selama ini belum pernah kau rasakan dariku dan akan kuberikan semua apa yang belum pernah kau dapatkan dariku. Ya…Semuanya.

Calon istriku Jamilatun Sholihah…
Tinggal sebentar lagi…aku akan datang, sambutlah dan persiapkan semuanya, terimalah…apa yang akan aku bawakan dari perjalananku disana, semuanya…, seadanya… Sebab aku pun jua akan menerimamu sepenuhnya…seadanya… Lalu mungkin takkan kutarik semua itu lagi selamanya.
Ya… Kita akan lalui bersama… Kita rangkai bersama cerita-cerita indah berikutnya, kita lukis bersama pemandangan-pemandangan indah yang ada di jalan sana dan kita tembus dan susuri bersama jika mungkin ada lorong-lorong buntu disana, berikutnya… Genggamlah terus dengan erat tanganku…Sebab aku pun kan berusaha sekuatku untuk menggenggam erat genggamanmu, sekuat kita…

Calon istriku Jamilatun Sholihah…
Jika diperjalanan kita nanti sepoi angin telah buatmu senang tersenyumlah padaku, karena akulah orang yang tak akan pernah bosan dengan senyummu. Jika nanti kicau burung telah buatmu bahagia berikanlah tawa riangmu padaku, karena akulah orang yang tak akan pernah bising oleh gelak tawamu dan jika mungkin nanti duri-duri kecil telah menusuk dan melukai telapak kakimu mengadu dan menangislah padaku, karena aku jualah orang yang akan mendengarkanmu, mengusap air matamu, membiarkanmu menangis berpangku serta membalut luka-lukamu, karena akulah orang yang kini datang hanya untukmu, menjemputmu lalu membawamu berdiam bersamaku juga bersama awlad sholih-sholihah aku denganmu.
Dan jika nyatanya selama ini kau ditetapkan oleh-Nya untuk menantiku, maka memohonlah kepada-Nya agar dikehidupan yang akan datang nati kau tak lagi ditetapkan untuk menanti. Jika nyatanya selama ini kita ditetapkan oleh-Nya untuk terpisah sebelum bersama, maka memohonlah pada-Nya agar kelak dikehidupan yang akan datang kita tidak lagi ditetapkan untuk terpisah lagi. Ya…Kita mohon kepa-Nya agar aku, engkau dan semua awlad kita tidak berpisah dikehidupan kini hingga ajal tiba nanti, dan kehidupan nanti setelah semuanya dibangkitkan kembali. Selalu bersama, di dalam rahmat-Nya, ridlo-Nya…
Tsummassalamu Alaikum Warrohmah..
(Disunting dari tulisan Ad-Dlo'ify)

Senin, 27 Juni 2011

Sholihah Atua Syarifah?

Terima kasih kau telah kenakan hijab yang telah dia hibahkan padamu
Kini disekelilingku bungkam tak berkata
Meski aku tak pejamkan mata
Atau taruk muka karena tak rela
Kau lebih anggun dari para perimadona
Pun bidadari nian elok kata mereka
Benarkah kau Sholihah ataukah Syarifah
Yang banyak hadirkan cerita indah dikhayal mereka
Kadang alur-alur sendu dan suara parau para pujangga
Ah tidak, jangan-jangan kau hanya berpura
Aku ragu saat kau angkat suara
Aku semakin ragu kala kau berucap cinta
Benarkah kau Sholihah ataukah Syarifah
Yang kata mereka impian dan tempat berseminya harapan
Tak banyak tingkah, lembut dan menawan
Aku pikir kau tak bersandiwara
Kini, aku yakin kala kau rangkai kata-kata
Ternyata kau bukanlah Sholihah bukan pula Syarifah
Kau hanya Muslimah biasa
Tak se-sholihah Khodijah, tak se-syarifah Maryam
Kau hanya bersembunyi dibalik hijab yang mulai kusam
Aku tak mengira kau mainkan derama
Aku tak rela dibalik hijab itu kau masih berani menggoda
Aku tak suka…

Kenapa Harus Sedih

Tak usah kau sesali
Jika hujan yang dinantikan
Ternyata turun di tengah indahnya malam
Tak usah kau pungkiri
Kala impian tak jadi kenyataan
Biarkan luka terkubur bersama waktu
Pun tangis sesal tak guna lagi
Karena kau hanya ikuti cerita
Bangunlah
Tatap langit
Biarlah yang terjadi tetap terjadi
Tak usah kau sakiti
Ikutilah alur kisahnya
Meneruskan sepenggal cerita dari goresan-goresan malaikat
Sebab kau tak tahu apa arti cerita itu

Pemimpi Kecil

Meski bukan dalam kesadaran aku pergi
Mungkin hanya dalam lamunan aku terbang
Merangkai bingkai-bingkai kehidupan
Dalam kelam mencari penerang
Meski sekali roboh, terperosok disekitar curam
Bangkit dipekat malam tuk sampai diujung jalan
Bukan tak sadar pada ketentuan
Hany ingin ikuti roda berputar
Bukan mengelak akan ketetapan
Hanya coba tuk tatap keindahan
Pun akhirnya harus kecewa
Karna kusadar aku hanyalah pemimpi kecil 
Yang tak suka perbangku tangan dan berkata andai