Senin, 17 Oktober 2011

ESQ DAN URGENSINYA

-->
Kesopanan Lebih Tinggi Nilainya Daripada Kecerdasan
Sekilas, motto yang coba penulis jadikan judul di atas, memanglah sangat sederhana. Namun ketika penulis telaah, amati dan penulis  kaji, tentunya tidak demikian. Sebab motto tersebut mempunyai orientasi yang sangat dalam dan sangat subtansial.
Jauh sebelum seorang Ary Ginanjar mengeluarkan bukunya yang berjudul Emosional Spiritul Quesent. Motto di atas sudah ditemukan dan biasa dijadikan pijakan khususnya di pondok pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata. Katanya motto tersebut dibuat oleh pengasuh kedua yaitu (RKH. Ahmad Mahfudz Zayyadi). Yang mana beliau secara tidak langsung, memperingatkan kepada santri-santrinya agar lebih memprioritaskan kecerdasan emosianalnya daripada kecerdasan intlektualnya. Yang hal itu sesuai dengan apa yang dituangkan oleh Ary Ginanjar dalam kajiannya mengenai urgennya kecerdasan emosianal.
Banyak alasan kenapa kecerdasan emosianal lebih penting daripada kecerdasan intlektual. Diantranya; orang yang lebih cerdas emosianalnya, lebih peka dan menghargai orang lain, sebab dalam melakukan sesuatu, ia lebih cendrung menggunakan perasaannya. Yang hal itu bersumber dari lubuk hati yang paling dalam, sehingga ia dapat membedakan mana masalah yang dianggap sepele dan mana yang dianggap serius.  Beda halnya, dengan seseorang yang lebih mengandalkan otaknya, ia sering kali harus menyalahkan dan mengacuhkan orang lain, dikarenakan apa yang yang dilakukan oleh orang lain tidak sejalan dengan alur pemikirannya, dikarenakan tidak rasioanal atau tidak ilmiah dan tidak sesuai dengan pengetahuannya. Akibatnya ia kurang dihargai meski apa yang ia katakan logis dan berdasarkan argumen ilmiah.
Hal itu telah terbukti, berapa banyak para cendikiawan yang kecerdasannya di atas rata-rata, namun acapkali mereka dimata masyarakat tidak ada apa-apanya. Sehingga tidak heran, jika dalam bukunya yang berjudul Emosional Spiritual Quesent (ESQ) Ary Ginanjar mengatakan “Mayoritas orang-orang yang sukses ialah dari kalangan orang-rang yang cerdas dalam mengendalikan emosinya, bukan dari orang-orang yang cerdas dalam intlektualnya”.
Sejauh ini pula, dikenal dalam pondok pesantren adanya “barakah”. Barakah akan didapatkan jika, dalam masa pendidikannya dipondok pesantren seorang selalu mematuhi aturan pesantren dan selalu panut dengan apa yang diucapkan kiyai (madura tidak cangkolang). Sehingga kesuksesan seorang santripun seakan-akan, masih ditangguhkan terhadap tindakannya semasa berada dipondok pesantren. Jangan harap seorang santri ketika boyong dari pondoknya akan sukses, jika ia selalu melanggar undang-undang pesantren. Dari adanya hal itu seakan-akan kecerdasan intlektual tidak menjamin akan kesuksesan seorang santri, melainkan kesuksesan seorang santri tergantung dari perilakunya semasa ada dipondok.
Sehingga disini, penulis sengaja angkat judul di atas, dalam rangka mengoreksi ulang bagi para cendikiawan-cendikiawan yang mulai banyak menyisihkan dan menyepelehkan kecerdasan itu. Akibatnya banyak dari mereka yang hanya mengandalkan intlektualnya saja, namun   tetap saja kurang dihargai dimata manusia. Dari itu marilah kita jangan sampai hanya mengisi otak kita dengan berbagai macam ilmu saja, namun marilah kita juga mengisi hati kita dan menjaga sikap kita, lebih-lebih kita masih berada di pondok pesantren. Akhirnya, Wamaa ata mukhalifan lima madlo fababuhun naqlu kasuhtin wa ridlo. Wassalam..

0 komentar: