DI PRAKOM PP. MAMBAUL ULUM BATA-BATA PAMEKASAN
(SAHRUL ANAM : 2882 )
Dalam pribahasa arab terkenal bahwa At-thoriqatu ahammu minal madah (metode lebih penting daripada materi). Dengan artian, bahwa yang menentukan mutu dan keberhasilan suatu pemebelajaran itu ditentukan dengan metode yang digunakan.
Begitu juga dalam konteks pengembangan sumber daya manusia, pendidikan sebagai usaha sadar diarahkan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar dapat diwujudkan dalam bentuk kemampuan, keterampilan, sikap, dan kepribadian yang sesuai dengan tujuan pendidikan nasional. Dalam upaya lebih mewujudkan fungsi pendidikan sebagai wahana pengembangan sumber daya manusia, perlu dikembangkan iklim belajar mengajar yang konstruktif bagi berkembangnya potensi peserta didik sehingga dapat lahir potensi-potensi yang sesuai dengan tantangan pembangunan nasional.
Untuk itu hakekat belajar dengan segala dimensinya merupakan hal mutlak yang harus dipahami oleh pendidik. Belajar dipandang sebagai perubahan perilaku peserta didik. Perubahan perilaku ini tidak terjadi dengan sendirinya tetapi melalui proses. Proses perubahan perilaku ini dimulai dari adanya rangsangan yaitu peserta didik menangkap rangsangan kemudian mengolahnya sehingga membentuk suatu persepsi. Semakin baik rangsangan diberikan semakin kuat persepsi peserta didik terhadap rangsangan tersebut. (Aunurrahman, 2009:22)
Dalam buku KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) mengisyaratkan bahwa proses pembelajaran yang ideal adalah pembelajaran yang dapat merangsang peserta didik untuk dapat mengungkapkan segala potensi dirinya untuk dapat meraih sekian kompetensi sesuai dengan bakat dan minatnya, bukan sebaliknya hanya disuapi oleh guru dengan segala macam pengetahuan. Pembelajaran yang bermakna juga demikian, mengedepankan pengembangan potensi peserta didik, sehingga pembelajaran bukan bersumber atau terfokus pada guru, melainkan berfokus dan terpusat pada peserta didik. Hal itu sejalan dengan apa yang disampaikan Aunurrahman dalam bukunya “belajar dan pembelajaran” ia mengemukakan bahwa: “Dalam kegiatan pembelajaran fungsi guru sebagai mediator dan fasilitator.”(2009;22).
Dengan demikian, Salah satu cara untuk meningkatkan mutu pendidikan ialah dengan cara perbaikan proses belajar mengajar Dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan, pembelajaran secara terus menerus baik dari segi materi, evaluasi, metode, maupun media harus dilaksanakan oleh semua pihak terutama oleh guru. Proses pembelajaran yang demikian tentunya harus dilakukan dengan cara yang santun dan menyenangkan. Bukan dengan doktrinisasi dan intimidasi. Sehingga dapat dikatakan pembelajaran tersebut adalah “pembelajaran ramah anak” atau dengan prinsip asah, asih, asuh. Hal itu searah dengan lampiran yang terdapatr dalam Permendiknas nomor 41 tahun 2007 tentang Standar Proses Pendidikan untuk satuan Pendidikan Dasar dan Menengah dijelaskan bahwa:
“Proses pembelajaran pada setiap satuan pendidikan Dasar dan Menengah harus interaktif, inspiratif, meneyangkan, menantang, dan memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik.” (Depdiknas;2007:424)
Di sinilah Sumber daya manusia yang berkualitas merupakan modal dasar sekaligus menjadi kunci keberhasilan pembangunan nasional jika di tinggalkan mutu dan pendayagunaannya. Hal tersebut merupakan tantangan bagi sekolah bagaimana menghasilkan lulusan yang berkualitas, tidak saja mampu dan terampil melakukan pekerjaan, tetapi juga mempunyai kreatifitas yang tinggi serta pandangan jauh ke depan. Untuk kepentingan tersebut, sekolah perlu melakukan pembaharuan–pembaharuan terutama berkait dengan model pembelajaran yang di gunakan oleh guru. Melalui pembaharuan-pembaharuan model pembelajaran ini, di harapkan tidak hanya menambah variasi dalam pembelajaran, tetapi juga dapat menciptakan proses belajar mengajar yang lebih efektif serta sesuai dengan kehidupan yang nyata yang ada di masyarakat saat ini (Mulyasa, 2005).
Pembelajaran yang cocok untuk melaksanakan amanah permendiknas tersebut adalah pembelajaran yang dapat membuat anak didik menjadi Aktif, kreatif,efektif dan menyenangkan atau yang dikenal dengan nama Pembelajaran PAKEM. Dengan pembelajaran pakem diyakini bahwa potensi siswa akan dapat berkembang secara wajar, siswa akan mendiri dan tidak takut untuk mengemukakan pendapat, sehingga kelak akan dapat hidup di alam demokrasi.
Disamping pembelajaran atau model pembelajaran serta metode yang digunakan guru dalam melaksanakan pembelajaran hal lain yang sangat berpengaruh dalam pembelajaran adalah motivasi.Aunurrahman dalam bukunya Belajar dan Pembelajaran mengemukakan bahwa :
“Motivasi dalam kegiatan belajar merupakan kekuatan yang dapat menjadi tenaga pendorong bagi siswa untuk mendayagunakan potenjsi-potensi yang ada pada dirinya dan potensi di luar dirinya untuk mewujudkan tujuan belajar” (2009:180).
Berdasar pendapat tersebut, artinya siswa yang memiliki motivasi belajar akan nampak melalui kesungguhan untuk terlibat dalam proses pembelajaran, gejala yang dapat dilihat dari kegiatan ntersebut diantaranya adalah tampak pada keaktifan bertanya, mengemukakan pendapat, menyimpulkan pelajaran, mencatat, membuat resume, mempraktekkan sesuatu, mengerjakan latihan-latihan dan evaluasi sesuai dengan tuntutan kegiatan pembelajaran yang dilakukan. Di dalam aktivitas belajar motivasi induvidu dapat dimanifestasikan dalam bentuk-bentuk ketahanan atau ketekunan dalam belajar, kesungguhan dalam menyimak isi pelajaran yang diberikan atau yang dipelajari, kesungguhan dan ketlatenan dalam melaksanakan tugas dan masih banyak contoh lain yang tidak dikemukakan dalam tulisan ini.
Dengan demikian motivasi belajar merupakan hal yang sangat penting dan tidak boleh dilupakan oleh guru agar proses pembelajaran bisa berjalan secara PAKEM dan dapat mencapai hasil yang optimal.
Berdasar pada kenyataan lapangan dan harapan paradigma baru dalam pembelajaran di atas penulis ingin meneliti “Sistem Pendidikan Dengan Pembelajaran PAKEM Dalam Meningkatkan Minat Belajar Siswa Di Perakom PP. Mambaul Ulum Bata-Bata Pamekasan”.
B. FOKUS PENELITIAN
Berdasarkan konteks penelitian di atas, dapat ditetapkan fokus dalam penelitian ini sebagaimana berikut :
“Sistem pendidikan dengan pembelajaran pakem dalam meningkatkan minat belajar siswa di PERAKOM PP. Mambaul Ulum Bata-Bata Pamekasan.
Adapun sub pokok dalam penelitian ini meliputi :
1. Bagaimana bentuk pembelajaran PAKEM dalam meningkatkan minat belajar siswa di PRAKOM PP. Mambaul Ulum Bata-Bata Pamekasan ?
2. Bagaimana minat belajar siswa di PERAKOM PP. Mambaul Ulum Bata-Bata Pamekasan?
C. TUJUAN PENELITIAN
Bertitik tolak dari sub pokok penelitian sebagaimana disebutkan di atas, maka tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui bentuk pembelajaran PAKEM dalam meningkatkan minat belajar siswa di PRAKOM PP. Mambaul Ulum Bata-Bata Pamekasan.
2. Untuk mengetahui minat belajar siswa di Perakom PP. Mambaul Ulum Bata-Bata Pamekasan.
D. KEGUANAAN PENELITIAN
Kegunaan penelitian ini secara umum penulis rangkai sebagai berikut :
1 Secara Teoritis
a. Bagi penulis guna untuk memenuhi persyaratan mencapai gelar S1.
b. Serta sebagai praktik bagi penulis dari teori-teori yang telah dipelajari selama mengikuti perkuliahan dikampus.
2. Secara Praktis
a. Lembaga terkait, agar dapat memberikan kontribusi dan memilih metode yang benar-benar efktif demi meningkatkan minat belajar siswa.
b. Sebagai bahan untuk meningkatkan mutu pendidikan di lembaga yang bersangkutan.
c. Semua lembaga pendidikan, dan para guru sebagai informasi bahwa pentingnya kecakapan dan penguasaan metode dalam meningkatkan prestasi belajar siswa.
d. Pembaca sebagai pandangan agar lebih mengetahui dan untuk mengaplikasikan tentang sistem pembelajaran PAKEM dalam meningkatkan prestasi belajar siswa.
E. DEVINISI OPERASIONAL
Ada beberapa istilah untuk didefinisikan secara operasional agar menghindari interpretasi dan pemahaman yang salah, maka penulis perlu memberikan batasan-batasan terhadap istilah yang digunakan dalam penelitian ini yaitu :
1. Sistem adalah suatu kebulatan/keseluruhan yang kompleks atau terorganisir; suatu himpunan atau perpaduan hal-hal atau bagian-bagian yang membentuk suatu kebulatan/keseluruhan yang kompleks.”( Anas Sudjana, 1997)
2. Pendidikan. adalah berasal dari bahasa Arab yaitu tarbiyah yang berbeda dengan kata ta’lîm yang berarti pengajaran atau teaching dalam bahasa Inggris. Kedua istilah (tarbiyah dan ta’lîm) berbeda pula dengan istilah ta’dzîb yang berarti pembentukan tindakan atau tatakrama yang sasarannya manusia.( Rusli Karim, 1991)
4. Pembelajaran adalah perubahan tingkahlaku atau kebolehan seseorang yang dapat dikekalkan, tidak termasuk perubahan yang disebabkan proses pertumbuhan.
5. PAKEM merupakan singkatan dari Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan.” Aktif artinya : dalam proses pembelajaran guru dapat menciptakan suasana kelas sedemikian rupa sehingga anak berani bertanya dan berani mengemukakan gagasannya, Kreatif artinya : guru mampu menciptakan kegiatan belajar mengajar yang beragam, sehingga anak mampu mengembangkan kemampuan secara maksimal. Efektif artinya : setelah proses pembelajaran anak dapat menguasai apa yang menjadi target dalam pembelajaran, Menyenangkan artinya : suasana belajar mengajar yang dapat menarik perhatian anak secara penuh sehingga waktu curah perhatiannya sangat tinggi. (Sediono, 2003 : 41)
6. Minat ialah suatu pemusatan perhatian yang tidak disengaja yang terlahir dengan penuh kemauannya dan yang tergantung dari bakat dan lingkungan (Sujanto Agus : 1981 ).
7. Belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku individu melalui interaksi dengan lingkungan.( Hamalik Pemar : 2001 )
8. PRAKOM merupakan singkatan dari prakomisi Majelis Musyawarah Kutubuddiniyah (Pra komisi M2KD). Sebuah lembaga kursus baca kitab kuning yang diadakan selama 3 bulan, yang pesertanya di ambil dari santri yang tidak tahu sama sekali baca kitab dan tidak mengusai sama sekali ilmu gramatika bahasa arab (ilmu nahwu dan ilmu saraf). Yang mana dalam kursus tersebut yang ditekankan adalah fasih membaca kitab, bukan pemahaman terhadap isinya.
F. KAJIAN PUSTAKA
1. TINJAUAN TENTANG SISTEM PEMBELAJARAN PAKEM
a. Penegrtian tentang sistem pembelajaran PAKEM
Pakem adalah singkatan dari pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif dan Meyenangkan. Atau bisa dikatakan sebuah metode pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan, yang hal tersebut ditujukan sebagai alternatif serta solusi dalam meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah khususnya di sekolah dasar. (Sentot Kusairi 2003.53)
Pembelajaran aktif dimaksudkan bahwa dalam proses pembelajaran guru harus menciptakan suasana yang sedemiakan rupa sehingga siswa aktif bertanya, mempertanyakan, dan mengemukakan gagasan.
Belajar merupakan proses aktif dari si pembelajar dalam membangun pengetahuannya, bukan proses pasif yang hanya menerima kucuran ceramah guru tentang pengetahuan.sehingga, Jika pembelajar tidak memberikan kesempatan kepada siswa untuk berperan aktif, maka pembelajar tersebut bertentang dengan hakikat belajar. Peran aktif dari siswa sangat penting dalam rangka pembentukan generasi yang kreatif, yang mampu menghasilkan sesuatu untuk dirinya dengan orang lain. Kreatif di artikan agar guru memberikan variasi dalam kegiatan belajar mengajar dan membuat alat bantu belajar bahkan menciptakan teknik-teknik mengajar tertentu sesuai dengan tingkat kemampuan peserta didik dan tujuan berelajarnya. Peserta didik akan kreatif bila di berikan kesempatan merancang atau membuat sesuatu, menuliskan idea atau gagasan. Kegiatan tersebut akan memuaskan rasa keingin tahuan dan imajinasi mereka. Apabila suasana belajar yang aktif dan kreatif terjadi, maka akan mendorong peserta didik untuk menyenangi dan memotivasi mereka untuk terus belajar.Menyenangkan adalah suasana belajar yang hidup, semarak, terkondisi, untuk tetap terus berlanjut, ekspresif sehingga siswa memusatkan perhatianya secara penuh pada belajar sehingga waktu curahan perhatiannya (“time on task”) tinggi.
Agar menyenangkan di perlukan afirmasi (penguasan atau penegasan) member pengakuan dan merayakan kerja keras dengan tepuk tangan, selamat.
Kegiatan belajar yang aktif, kreatif, dan menyenangkan harus tetap berstandar pada tujuan atau kompetensi yang akan di capai. Efektif yang di artikan sebagai tercapainya suatu tujuan (kompetensi) merupakan pijakan utama suatu rancangan pembelajaran. Jika pembelajaran hanya aktif dan menyenangkan tetapi tidak efektif. Maka pembelajaran tak ubahnya seperti permainan belaka. (Suparlan,2008 : 70-71).
Secara garis besar, PAKEM dapat di deskripsikan sebagai berikut :
1. Siswa terlibat dalam berbagai kegiatan yang mengembangkan pemahaman dan kemampuan mereka dengan penekansan pada belajar melalui berbuat.
2. Guru menggunakan berbagai alat bantu dan berbagai cara dalam membangkitkan semangat, termasuk menggunakan lingkungan sebagai sumber belajar untuk di jadikan pembelajaran menarik, menyenangkan, dan cocok bagi siswa.
3. Guru mengatur dengan memanjang buku-buku dan bahan belajar yang lebih menarik dan menyediakan ‘pojok baca’
4. Guru menerapkan cara mengajar yang lebih kooperatif dan interaktif termasuk cara belajar kelompok.
5. Guru mendorong siswa untuk menentukan caranya sendiri dalam pemecahan masalah untuk mengungkapkan gagasannya dan melibatkan siswa dalam menciptakan lingkungan sekolahnya (Suparlan,2008 : 70-71).
Menurut (Fadjar Shadik dalam Setiawan 2004) masalah trend dan berbagai isu tentang pembelajaran PAKEM di kembangkan atas dasar tuntutan karena perubahan pradikma pembelajaran yaitu :
a. Peralihan pendidikan dari bentuk formal (teori latihan) kerevintion, proses (activitees), penerapan dan pemecahan masalah nyata.
b. Perubahan dari pradikma dari guru mengajar ke siswa belajar.
c. Peralian dari belajar perorangan ke belajar bersama (konvertiv learning).
d. Peralihan dasar positivik (behavioristik) ke konstruktivistik atau dari subjek centred ke clearer centred (terbentuk/konstruksinya pengetahuan) suatu teori baru yang menyatakan bahwa pengetahuan terbentuk di dalam pikiran sendiri berdasarkan pada pengetahuan yang di punyainya.
e. Peralihan dari teori pemindahan pengatahuan (knowledge transmited) ke bentuk intraktif, investigasi eksploratif, kegiatan-kegiatan terbuka, keterampilan proses dan pemecahan masalah.
f. Peralihan dari belajar menghafal (rote learning) ke belajar pemahaman (learning of understanding)
g. Penyempurnaan evaluasi dengan authentic assessment seperti misalnya poftofolio, jurnal, proyek, laporan siswa,untuk kinerja atau yang lain.
Dari kedua pendapat di atas pembelajaran yang aktif, kretif, efektif dan menyenangkan (PAKEM) pada hakikatnya adalah suatu strategi pembelajaran terpadu yang menggunakan strategi, metode, pendekatan dan teknik pengajaran terpadu sedemikian rupa baik prosedur maupun tujuan pembelajaran dapat terlaksana dan tercapai dengan baik.
b. Dimensi PAKEM Dari Segi Guru Dan Siswa
Tinjau PAKEM dari segi guru dan siswa dalam proses belajar mengajar adalahh sebagai berikut :
PAKEM GURU SISWA
A (Aktif) • Memantau kegiatan belajar siswa
• Member umpan balik
• Mengajukan pertanyaan
• Mempertanyakan gagasan siswa • Bertanya
• Mengemukakan gagasan
• Mempertanyakan gagasan orang lain
K (kreatif ) • Mengembangkan kegiatan yang bervariasi
• Membuat alat bantu yang sederana
• Memilih media pembelajaran yang sesuai dengan materi belajar • Merancang atau membuat sesuatu
• Menulis
• Merangkum atau membuat soal sendiri
E (Efektif)
• Tidak membuat anak merasa takut • Hasil belajar meningkat
• Perhatian terhadap tugas
• Senang belajar
• Belajar seumur hidup
c. Hal-hal yang di perlu di perhatikan dalam melaksanakan PAKEM
1. Memahami sifat yang di miliki anak
2. Mengenal anak secara perorangan
3. Memanfaatkan prilaku anak dalam pengorganisasian belajar
4. Mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kreatif dan kemampuan memecahkan masalah
5. Mengembangkan ruang kelas sebagai lingkungan yang menarik
6. Memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar
7. Memberikan umpan balik yang baik untuk meningkatkan kegiatan belajar.
8. Membedakan yang aktif fisik dan aktif mental.
d. Pengelola Kelas PAKEM
Penataan dan atau pengelola kelas PAKEM perlu mempertimbangkan enam elemen constructivist learning design (CDL) yang di kemukakan oleh Gagnon and collay, yaitu situation, grouphhings, bridge, questions, exhibit, and reflection Situation, terkait dengan hal- hal berikut: apa tujuan episode pembelajaran yang akan dicapai, apa yang di harapkan setela siswa keluar ruangan kelas, bagaimana mengetahui bahwa siswa tela mencapai tujuan, tugas apa yang di berikan kepada siswa untuk mencapai tujuan, bagaimana deskripsi tugas tersebut (as a process of solving problems, answering question, creating metaphors, making decisions, drawing conclutions, or setting goals).
Grouping, dapat di lakukan berdasarkan karakteristik siswa atau di dasarkan pada
karakteristik materi Bridge, terkait dengan : aktivitas apa yang di pilih untuk menjembatani antara pengetahuan yang telah di miliki siswa sebelumnya dan pengetahuan baru yang akan di bangun siswa. Question, pertanyaan apa yang dapat membangkitkan tiap elemen desain (paduan pertanyaan apa yang dapat mengintrodusir situasi, menata pengelompokan, dan membangun jembatan), pertanyaan klarifikasi apa yang di gunakan untuk mengetahui cara berpikir dan aktivitas belajar siswa. Exhibit, bagaimana siswa merekam dan memamerkan kreasi mereka melalui demonstrasi cara berpikir mereka dalam menyelesaikan dan atau memenuhi tugas. Reflections, bagaimana siswa melakukan refleksi dalam menyelesaikan tugas mereka, apakah siswa ingat tentang (feeling, images, and language of their thought), apa sikap, proses, dan konsep yang akan di bawa siswa setelah keluar kelas (Anonym,2008).
e. Pelaksanaan PAKEM
Proses pembelajaran akan berlangsung seperti yang di harapkan dalam pelaksanaan konsep pakem jika peran para guru dalam berinteraksi dengan siswanya selalu memberikan motivasi, dan memfasilitasinya tanpa mendominasi, memberikan kesempatan untuk berpartisipasi aktif, membantu dan mengarahkan siswanya untuk mengembangkan bakat dan minat mereka melalui proses pembelajaran yang terencana.
Gambaran PAKEM di perlihatkan dengan berbagai kegiatan yang terjadi selama proses pembelajaran, dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar yang berorientasi pada pakem guru perlu menguasai kemampuan untuk menciptakan situasi pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan. (Suparlan, 2009:79)
Kemampuan tersebut melalui hal-hal berikut :
Kemampuan guru Kemampuan siswa
Guru merancang dan mengelola KBM yang mendorong siswa untuk berperan aktif dalam pembelajaran Guru melaksanakan pembelajaran dalam kegiatan yang beragam, misalnya :
• Percobaan
Diskusi kelompok
Memecakan masalah
Mencari informasi
Menulis laporan
Guru menggunakan alat bantu dan sumber belajar yang beragam Sesuai mata pelajaran, guru menggunakan, misalnya :
• Alat yang tersedia atau yang di buat sendiri
• Gambar
• Nara sumber
• Lingkungan
Guru memberikan kesempata kepada siswa untuk mengembangkan keterampilan. Siswa :
Melakukan percobaan, pengamatan
Mengumpulkan data/ jawaban dan mengelolanya sendiri
• Menarik kesimpulan, mencari rumus sendiri
• Menulis laporan/hasil karya lain dengan kata-kata sendiri
Guru memberikan kesempatan untuk mengungkapkan gagasannya sendiri secara lisan atau tulisan Melalui :
• Diskusi
• Lebi banyak pertanyaan terbuka
• Hasil karya hasil yang merupakan pemikiran sendiri
Guru menyesuaikan baan dan kegiatan belajar dengan kemampuan siswa Siswa di kelompokan sesuai dengan kemampuan (untuk kegiatan tertentu)
• Bahan pelajaran di sesuaikan dengan kemampuan kelompok tersebut
• Tugas perbaikan atau pengayaan di berikan
Guru mengaitkan KBM dengan pengalaman siswa sehari-sehari
Siswa menceritakan atau memanfaatkan pengalamannya sendir.
Menilai KBM dan kemajuan belajar siswa secara terus menerus.
Guru memantau kerja siswa
Guru memberikan umpan balik
Dari table di atas PAKEM menggambarkan kondisi-kondisi, dimana peserta didik terlibat dalam berbagai kegiatan (aktivitas) yang menggambarkan keterampilan, kemampuan, dan pemahaman dengan menekankan pada belajar dengan berbuat (learning bay doing), sedangkan guru menggunakan berbagai stimulus/motivasi dan alat peraga termasuk lingkungan sebagai sumber belajar agar pelajaran lebih menarik, menyenangkan dan relevan bagi peserta didik penerapan Pakem di maksudkan sebagai usaha mendorong untuk selalu aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan.
2. TINJAUAN TENTANG MINAT BELAJAR SISWA
a. Pengertian tentang minat belajar siswa
Minat berperan sangat penting dalam kehidupan peserta didik dan mempunyai dampak yang besar terhadap sikap dan perilaku. Siswa yang berminat terhadap kegiatan belajar akan berusaha lebih keras dibandingkan siswa yang kurang berminat.
Menurut Hilgard (1977 :19) memberi rumusan pengertian tentang minat sebagai berikut: “Interest is persisting tendency to pay attention to and enjoy some activity or content” yang berarti minat adalah kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan mengenang beberapa kegiatan. Kegiatan yang diminati seseorang, diperhatikan terus-menerus yang disertai dengan rasa senang dan diperoleh suatu kepuasan.
Menurut Slameto (2003 : 57) minat adalah kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan mengenang beberapa kegiatan. Kegiatan yang diminati siswa, diperhatikan terus-menerus yang disertai rasa senang dan diperoleh rasa kepuasan. Lebih lanjut dijelaskan minat adalah suatu rasa suka dan ketertarikan pada suatu hal atau aktivitas, tanpa ada yang menyuruh.
Minat adalah kecenderungan dalam diri individu untuk tertarik pada sesuatu objek atau menyenangi sesuatu objek (Sumadi Suryabrata, 1988 :109).
Minat adalah sesuatupemusatan perhatian yang tidak disengaja yang terlahir dengan penuh kemauannya dan yang tergantung dari bakat dan lingkungan.
Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa minat adalah kecenderungan tertarik pada sesuatu yang relatif tetap untuk lebih memperhatikan dan mengingat secara terus-menerus yang diikuti rasa senang untuk memperoleh suatu kepuasan dalam mencapai tujuan pembelajaran.
Dalam belajar diperlukan suatu pemusatan perhatian agar apa yang dipelajari dapatdipahami. Sehingga siswa dapat melakukan sesuatu yang sebelumnya tidak dapat dilakukan, maka terjadilah suatu perubahan kelakuan. Perubahan kelakuan ini meliputi seluruh pribadi siswa; baik kognitip, psikomotor maupun afektif. Untuk meningkatkan minat, maka proses pembelajaran dapat dilakukan dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami apa yang ada di lingkungan secara berkelompok.
Sedangkan yang penulis maksudkan dengan minat belajar di sini adalah suatu kemampuanumum yang dimiliki siswa untuk mencapai hasil belajar yang optimal yang dapat ditunjukkan dengan kegiatan belajar.
b. Ciri-ciri Siswa Berminat dalam Belajar
Menurut Slameto (2003 :58) siswa yang berminat dalam belajar mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
1) Mempunyai kecenderungan yang tetap untuk untuk memperhatikan dan mengenang sesuatu yang dipelajari secara terus menerus.
2) Ada rasa suka dan senang pada sesuatu yang diminati.
3) Memperoleh suatu kebanggaan dan kepuasan pada sesuatu yang diminati. Ada rasa keterikatan pada sesuatu aktivitas-aktivitas yang diminati.
4) Lebih menyukai suatu hal yang menjadi minatnya daripada yang lainnya.
5) Dimanifestasikan melalui partisipasi pada aktivitas dan kegiatan.
c. Membangkitkan Minat Belajar Siswa di Sekolah
Minat sangat besar pengaruhnya terhadap hasil belajar, karena apabila bahan pelajaran yang dipelajari tidak sesuai dengan minat, siswa tidak akan belajar dengan baik sebab tidak menarik baginya. Siswa akan malas belajar dan tidak akan mendapatkan kepuasan dari pelajaran itu. Bahan pelajaran yang menarik minat siswa, lebih mudah dipelajari sehingga dapat mingkatkan prestasi belajar.
Minat terhadap sesuatu hal tidak merupakan yang hakiki untuk dapat mempelajari hal tersebut, asumsi umum menyatakan bahwa minat akan membantu seseorang mempelajarinya. Membangkitkan minat terhadap sesuatu pada dasarnya adalah membantu siswa melihat bagaimana hubungan antara materi yang diharapkan untuk dipelajari dengan diri sendiri sebagai individu.
Menurut Slameto (2003 :180) proses ini berarti menunjukkan pada siswa bagaimana penetahuan atau kecakapan tertentu mempengaruhi dirinya, melayani tujuan-tujuannya, dan memuaskan kebutuhan-kebutuhannya. Bila siswa menyadari bahwa belajar merupakan suatu alat untuk mencapai tujuan yang dianggap penting, dan bila siswa melihat bahwa hasil dari pengalaman belajar akan membawa kemajuan pada dirinya, ia akan lebih berminat untuk mempelajarinya.
Minat pada dasarnya merupakan penerimaan akan suatu hubungan antara diri sendiri dengan sesuatu di luar diri, semakin kuat atau dekat hubungan tersebut, semakin besar minatnya.
Jika terdapat siswa yang kurang berminat dalam belajar dapat diusahakan agar mempunyai minat yang lebih besar dengan cara menjelaskan hal-hal yang menarik dan berguna bagi kehidupannya serta berhubungan dengan cita-cita yang berkaitan dengan materi yang dipelajari. Minat dapat diekspresikan melalui suatu pernyataan yang menunjukkan bahwa siswa lebih menyukai suatu hal dari pada hal lainnya, dapat pula dimanifestasikan melalui partisipasi dalam suatu aktivitas. Siswa yang memiliki minat terhadap subyek tertentu cenderung untuk memberikan perhatian yang lebih besar terhadap subyek tersebut. Minat tidak dibawa sejak lahir, melainkan diperoleh kemudian. Minat terhadap pelajaran mempengaruhi belajar selanjutnya serta mempengaruhi minat-minat baru. Menurut ilmuwan pendidikan cara yang paling efektif untuk membangkitkan minat belajar pada siswa adalah dengan menggunakan minat-minat siswa yang telah ada dan membentuk minat-minat baru pada diri siswa. Hal ini dapat dicapai dengan jalan memberikan informasi pada siswa mengenai hubungan antara suatu bahan pengajaran yang akan diberikan dengan bahan pengajaran yang lalu, menguraikan kegunaan bagi siswa dimasa yang akan datang. Minat dapat dibangkitkan dengan cara menghubungkan materi pelajaran dengan suatu berita sensasional yang sudah diketahui kebanyakan siswa.
Indikator-indikator minat belajar siswa terdiri dari: adanya perhatian, adanya ketertarikan, dan rasa senang. Indikator adanya perhatian dijabarkan menjadi tiga bagian yaitu: perhatian terhadap bahan pelajaran, memahami materi pelajaran dan menyelesaikan soal-soal pelajaran. Ketertarikan dibedakan menjadi ketertarikan terhadap bahan pelajaran dan untuk menyelesaikan soal-soal pelajaran. Rasa senang meliputi rasa senang mengetahui bahan belajar, memehami bahan belajar, dan kemampuan menyelesaikan soal-soal.
G. METODE PENELITIAN
1. Pendekatan dan jenis penelitian
a. Pendekatan dan jenis penelitian
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif (qualitative approach), karena pendekatan kualitatif ini merupakan seperti yang dikemukakan oleh Bagdan dan Tailor, bahwa metodologi kualiatif adalah prosedur penelitian yang dapat menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan prilaku yang dapat diamati yang mana pendekatan ini diarahkan latar dan individu tersebut secara holistic (utuh) (Lexi J. Moleong, MA 2005 :4).
Metode kualitatif ini digunakan karena beberapa pertimbangan. Satu, menyesuaikan metode kualitatif lebih mudah apabila berhadapan dengan pernyataan jamak. Kedua, metode ini menyajikan secara langsung hakikat hubungan peneliti dengan responden. Ketiga, metode ini lebih peka dan lebih menyesuaikan diri dengan banyak penajaman pengaruh bersama terhadap pola-pola nilai yang dihadapi (Lexi J. Moleong, MA 2005 :4).
Untuk lebih mempermudah proses penelitian ini peneliti juga menggunakan dasar teori “fenomenologi” yang berarti bahwa peneliti menggunakan fenomina yang terjadi di PRAKOM PP. Mambal Ulum Bata-Bata Pamekasan.
Langakah pertama yang dilakukan dalam penelitian adalah observasi dan wawancara dengan guru pengajar yang kemudian diteruskan para siswa di lokasi penelitian. Cara ini digunakan ntuk lebih mudah bagi peneliti untuk menangkap pengertian dan dapat memahami persoalan-persoalan seputar objek peneliti.
2. Kehadiran Peneliti
Dalam penelitian yang menggunakan metode pendekatan kualitatif ini, kehadiran peneliti dilapangan merupakan salah satu langkah penting dan mutlak diperlukan. Karena peneliti merupakan instrumen pertama, sekaligus sebagai pengumpul data dalam rangka memperoleh vadilitas data yang diperlukan sesuai tujuan yang telah dicapai.
Dalam hal ini peneliti bertindak sebagai instrument (the main instrument) sekaligus pengumpul data. Maka dengan melakukan observasi, peneliti dapat mengetahui dan memahami gambaran tentang objek yang sedang diteliti, atau dapat berhubungan langsung dengan responden.
Sebelum terjun ke lapangan, peneliti sudah mengenal beberapa informan sebagai sumber informasi, diantaranya adalah beberapa orang guru dan beberapa orang siswa di PRAKOM PP. Mambaul Ulum Bata-Bata Pamekasan. Dengan demikian akan membantu mempermudah peneliti dalam melakukan penelitian. Jadi kehadiran peneliti dilapangan sudah diketahui statusnya sebagai peneliti oleh informan.
3. Lokasi Penelitian
Dalam penelitian ini, peneliti mengambil lokasi PRAKOM PP. Mambaul Ulum Bata-Bata Pamekasan sebagai lokasi penelitian. Karena peneliti ingin mengetahui pentingnya sistem pembelajaran dalam meningkatkan minat belajar siswa di PRAKOM PP. Mambaul Ulum Bata-Bata Pamekasan.
Disamping itu penentuan lokasi ini dikarenakan peneliti memiliki ikatan yang sangat erat, karena tempat penelitan tersebut adalah merupakan tempat peneliti membantu para guru yang mengajar.
4. Sumber Data
Yang dimaksud sumber data adalah subjek dari mana data dapat diperoleh (Suharsimi Arikunto, 2006 : 129). Yag menjadi sumber data dalam penelitian ini adalah:
a. Guru pengajar
b. Siswa
5. Prosedur Pengumpulan Data
Prosedur pengumpulan data yang dilakukan peneliti antara lain observasi, wawancara (interview), dan dokumentasi.
a. Observasi
Observasi adalah pengumpulan data yang dilakukan dengan mengadakan pengamatan yang dilengkapi dengan format atau blangko sebagai instrument dalam mencatat yang ingin diteliti (Suharsimi Arikunto, 2006 : 129)
b. Wawancara (Interview) dipandang sebagai pengumpulan data dengan cara tanya yang dikerjakan dengan sistematis dan tentunya berlandaskan pada tujuan penelitian. Menurut Suharsimi Arikunto, wawancara adalah suatu dialog yang dilakukan oleh pewawancara untuk memperoleh informasi dari orang yang diwawancara (Suharsimi Arikunto, 2003 : 132). Jadi wawanacara merupakan percakapan yang dilakukan dengan melibatkan kedua belah pihak yaitu antara interviewer dan interviewee
c. Dokumentasi adalah mencari data mengenai hal-hal atau variable yang berupa catatan, seperti catatan tentang pembelajaran PAKEM dan minat belajar.
6. Analisis Data
Analisis data merupakan proses pengaturan urutan data, mengorganisasikannya kedalam suatu pola kategori, dan satuan urutan data.
Menurut Bogdan Biklen dalam Imron Arifin (1996:84) analisis data adalah “proses pelacakan dan pengaturan secara sistematik transkip wawancara, catatan lapangan, dan bahan-bahan lain yang dikumpulkan untuk meningkatkan pemahaman terhadap bahan-bahan tersebut agar dapat dipresentasikan semuanya kepada orang lain”
Dalam penelitian ini analisis data yang dianalisis adalah data yang terhimpun dalam transkip wawancara dan catatan lapangan hasil observasi maupun dalam dokumen.
Adapun tahapan-tahapan yang dilakukan dalam analisis data, sebagai berikut :
a. Cheking (pengecekan)
Pengecekan data dilakukan dengan memeriksa kembali lembar transkip data wawancara, observasi dan dokumen yang ada,. Tujuanannya adalah utuk mengetahui tingkat kelengkapan data atau informasi seperti yang diteliti peneliti. Tujuannya adalah untuk mengetahui tingkat kelengkapan data atau informasi yang diperiksa.
b. Organizing (pengelompokan)
Pengelompokan data dilakukan dengan memilah-milah atau mengklasifikasikan data sesuai dengan arah fokus penelitian. Dalam hal ini data yang sudah terkumpul diurut sesuai dengan urutan fokus penelitian. Pengelompokan ini dilakukan untuk memudahkan peneliti dalam mengurutkan analisis data sesuai dengan fokus penelitian.
7. Pengecekan Keabsahan Data
Untuk mengetahui keabsahan data-data yang diperoleh dari peneliti ini, maka peneliti berusaha mengeceknya secara cermat, sehingga penelitian ini tidak terkesan fiktif dan sia-sia. Dan untuk mengecek validitas keabsahan data temuan tersebut, maka peneliti merasa perlu mengemukakan teknik-teknik yang dilakukan peneliti dalam mengukur keabsahan temuan tersebut adalah sebagai berikut :
a. Ketekunan pengamatan, yaitu untuk menemukan ciri-ciri dan unsur-unsur dalam situasi yang sesuai dengan permasalahan yang sedang diamati seperti; Sistem Pendidikan Dengan Pembelajaran PAKEM Dalam Meningkatkan Minat Belajar Siswa Di PRAKOM PP. Mambaul Ulum Bata-Bata.
b. Triangulasi adalah merupakan pemeriksaan keabsahan data dengan memanfaatkan orang lain yang dianggap lebih tahu tentang permasalahan yang diamati, seperti; Sistem Pendidikan Dengan Pembelajaran PAKEM Dalam Meningkatkan Minat Belajar Siswa Di PRAKOM PP. Mambaul Ulum Bata-Bata.
Triangulasi peneliti tempuh dengan memanfatkan beberapa murid dan guru dan beberapa terkait dilembaga tersebut. Hal ini juga dapat dilakukan sekaligus dengan chek and recheck dari keabsahan data tersebut.
c. Uraian rinci, yaitu data yang diperoleh dipaparkan secara rinci sehingga pembaca dapat mengerti dan memahami temuan-temuan yang dihasilkan oleh peneliti seperti; Sistem Pendidikan Dengan Pembelajaran PAKEM Dalam Meningkatkan Minat Belajar Siswa Di PRAKOM PP. Mambaul Ulum Bata-Bata.
8. Tahap-tahap Penelitian
Tahap-tahap pelaksanaan penelitian yang akan ditempuh peneliti adalah sebagai berikut :
a. Tahap pra lapangan, meliputi :
1) Rancangan penelitian
2) Memilih lapangan penelitian
3) Mengurus perizinan
4) Menjajaki lapangan
5) menilai keadaan lapangan
6) Memilih dan memanfaatkan informasi
7) Manyiapkan perlengkapan penelitian
b. Tahap masuk lapangan
Pada tahap ini, peneliti sudah memasuki lapangan dan berperan serta sambil mengumpulkan data, baik dengan mengadakan wawancara, mengadakan observasi maupun mengumpulkan observasi.
c. Tahap pelaporan
Tahapan penelitian ini meliputi penyalinan hasil wawancara dan pendiskripsiannya, penguraian temuan hasil observasi dan penganalisaan dokumentasi yang diperlukan.
DAFTAR PUSTAKA
1. Depdiknas, 2007. Himpunan Perundang-undnagan Republik Indonesia, Humas Depdiknas, Jakarta.
2. Tatang Amirin . Amirin ,1996. Pokok-pokok Teori Sistem, Rajawali Pers, Jakarta.
3. E Mulyasa, 2005. Kurikulum Berbasis Komputer, Konsep, Karakteristik, dan Implementasi, PT. Remaja Rosdakarya, Bandung.
4. M.Rusli Karim, 1991, Pendidikan Islam dan Transformasi Sosial, Tiara Wacana Yogyakarta
5. http://bismillah-abie.blogspot.com/
6. Sentot Kusairi, 2003. Pembelajaran dengan Pendekatan Konstruktivis dan Kendala-kendala Implementasinya. FMIPA UM.
7. Sujanto, 1981 Bimbingan ke Arah belajar yang Sukses.Rineka Cipta.
8. Slameto. 2003. Belajar dan Faktor - Faktor Yang Mempengaruhinya.
Jakarta : Rineka Cipta.
9. Lexy J. Moleong. 1989. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung. Remadja Karya.
10. Sudjana, Nana, 1996. Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar, Sinar Baru lgesindo, Bandung.
11. Drs. Dr. Oemar Hamalik, Perencanaan Pengajaran Berdasarkan Pendekatan System, Bumi Aksara Jakarta, Oktober 2001
12. Drs. Sumadi Suryabrata, 1988. Psikologi Pendidikan, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta.
13. M. Dahlan. Al-Barri & L. Lya Sofyan Yacub, Kamus Induk Ilmiyah,Target Press Surabaya, 2003
14. Prof. Dr. suharsimi Arikunto, 2006 Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, edisi revisi VI, Rineka Cipta Jakarta.
15. Prof. Dr. Nana Syaodih Sukmadinata, tt. Metode Penelitian Pendidikan, Remaja Rosdakarya Bandung.
16. Miles, M.B., & Huberman, A.M. (1992). Analisis data kualitatif. (Terjemahan Tjetjep Rohendi Rohidi. Jakarta: Universitas Indonesia (UI-Press).
17. Kartini Kartono. (1995). Psikologi Umum. Bandumng: Mandar Maju.
18. Asrori Mohammad, 2007. Psikologi Pembelajaran. Bandung: CV Wacana Prima.
19. Soemanto, Wasty. 1983. Psikologi Pendidikan. Malang: PT. Rineka Cipta.
20. Syah, Muhibbin, M.Ed. 1995. Psikologi Pendidikan. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.







0 komentar:
Posting Komentar