Minggu, 06 April 2014

Skripsi

Aplikasi Pemebelajaran PAKEM
dalam meningkatkan minat belajar siswa
di PRAKOM PP. Mambaul Ulum Bata-Bata Pamekasan

Disusun oleh
SAHRUL ANAM
Nim : 20087602882
Nimko : 2008.4.076.0001.1.02640
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM (STAI)
AL-KHAIRAT PAMEKASAN 2012
BAB I
PENDAHULUAN
A. KONTEKS PENELITIAN
Dalam konteks pengembangan sumber daya manusia, pendidikan sebagai usaha sadar diarahkan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar dapat diwujudkan dalam bentuk kemampuan, keterampilan, sikap, dan kepribadian yang sesuai dengan tujuan pendidikan nasional. Dalam upaya lebih mewujudkan fungsi pendidikan sebagai wahana pengembangan sumber daya manusia, perlu dikembangkan iklim belajar mengajar yang konstruktif bagi berkembangnya potensi peserta didik sehingga dapat lahir potensi-potensi yang sesuai dengan tantangan pembangunan nasional. (Nana Sudjana, 1989:18)
Untuk itu hakekat belajar dengan segala dimensinya merupakan hal mutlak yang harus dipahami oleh pendidik. Belajar dipandang sebagai perubahan perilaku peserta didik. Perubahan perilaku ini tidak terjadi dengan sendirinya tetapi melalui proses. Proses perubahan perilaku ini dimulai dari adanya rangsangan yaitu peserta didik menangkap rangsangan kemudian mengolahnya sehingga membentuk suatu persepsi. Semakin baik rangsangan diberikan semakin kuat persepsi peserta didik terhadap rangsangan tersebut. (Aunurrahman, 2009:22)
Dalam buku KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) mengisyaratkan bahwa proses pembelajaran yang ideal adalah pembelajaran yang dapat merangsang peserta didik untuk dapat mengungkapkan segala potensi dirinya untuk dapat meraih sekian kompetensi sesuai dengan bakat dan minatnya, bukan sebaliknya hanya disuapi oleh guru dengan segala macam pengetahuan. Pembelajaran yang bermakna juga demikian, mengedepankan pengembangan potensi peserta didik, sehingga pembelajaran bukan bersumber atau terfokus pada guru melainkan berfokus dan terpusat pada peserta didik. Hal itu sejalan dengan apa yang disampaikan Aunurrahman dalam bukunya “Belajar dan Pembelajaran” ia mengemukakan bahwa: “Dalam kegiatan pembelajaran fungsi guru sebagai mediator dan fasilitator.”( Aunurrahman 2009;22).
Dengan demikian, Salah satu cara untuk meningkatkan mutu pendidikan ialah dengan cara perbaikan proses belajar mengajar Dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan, pembelajaran secara terus menerus baik dari segi materi, evaluasi, metode, maupun media harus dilaksanakan oleh semua pihak terutama oleh guru. Proses pembelajaran yang demikian tentunya harus dilakukan dengan cara yang santun dan menyenangkan. Bukan dengan doktrinisasi dan intimidasi. Sehingga dapat dikatakan pembelajaran tersebut adalah “pembelajaran ramah anak” atau dengan prinsip asah, asih, asuh. Hal itu searah dengan lampiran yang terdapatr dalam Permendiknas nomor 41 tahun 2007 tentang Standar Proses Pendidikan untuk satuan Pendidikan Dasar dan Menengah dijelaskan bahwa: “Proses pembelajaran pada setiap satuan pendidikan Dasar dan Menengah harus interaktif, inspiratif, meneyangkan, menantang, dan memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik.” (Depdiknas;2007:424)
Di sinilah sumber daya manusia yang berkualitas merupakan modal dasar sekaligus menjadi kunci keberhasilan pembangunan nasional jika di tinggalkan mutu dan pendayagunaannya. Hal tersebut merupakan tantangan bagi sekolah bagaimana menghasilkan lulusan yang berkualitas, tidak saja mampu dan terampil melakukan pekerjaan, tetapi juga mempunyai kreatifitas yang tinggi serta pandangan jauh ke depan. Untuk kepentingan tersebut, sekolah perlu melakukan pembaharuan–pembaharuan terutama berkait dengan model pembelajaran yang di gunakan oleh guru. melalui pembaharuan-pembaharuan model pembelajaran ini, di harapkan tidak hanya menambah variasi dalam pembelajaran, tetapi juga dapat menciptakan proses belajar mengajar yang lebih efektif serta sesuai dengan kehidupan yang nyata yang ada di masyarakat saat ini (Mulyasa, 2005).
Pembelajaran yang cocok untuk melaksanakan amanah permendiknas tersebut adalah pembelajaran yang dapat membuat anak didik menjadi Aktif, kreatif,efektif dan menyenangkan atau yang dikenal dengan nama Pembelajaran PAKEM. Dengan pembelajaran pakem diyakini bahwa potensi siswa akan dapat berkembang secara wajar, siswa akan mendiri dan tidak takut untuk mengemukakan pendapat, sehingga kelak akan dapat hidup di alam demokrasi.
Disamping materi, model pembelajaran atau metode yang digunakan guru dalam melaksanakan pembelajaran sangatlah penting untuk diperhatikan karena hal itu sangat berpengaruh.
Aunurrahman dalam bukunya Belajar dan Pembelajaran mengemukakan bahwa :
“Motivasi dalam kegiatan belajar merupakan kekuatan yang dapat menjadi tenaga pendorong bagi siswa untuk mendayagunakan potensi-potensi yang ada pada dirinya dan potensi di luar dirinya untuk mewujudkan tujuan belajar” (2009:180).
Berdasarkan pendapat tersebut, artinya siswa yang memiliki motivasi belajar akan nampak melalui kesungguhan untuk terlibat dalam proses pembelajaran, gejala yang dapat dilihat dari kegiatan ntersebut diantaranya adalah tampak pada keaktifan bertanya, mengemukakan pendapat, menyimpulkan pelajaran, mencatat, membuat resume, mempraktekkan sesuatu, mengerjakan latihan-latihan dan evaluasi sesuai dengan tuntutan kegiatan pembelajaran yang dilakukan. Di dalam aktivitas belajar motivasi induvidu dapat dimanifestasikan dalam bentuk-bentuk ketahanan atau ketekunan dalam belajar, kesungguhan dalam menyimak isi pelajaran yang diberikan atau yang dipelajari, kesungguhan dan ketlatenan dalam melaksanakan tugas dan masih banyak contoh lain yang tidak dikemukakan dalam tulisan ini.
Dengan demikian motivasi belajar merupakan hal yang sangat penting dan tidak boleh dilupakan oleh guru agar proses pembelajaran bisa berjalan secara PAKEM dan dapat mencapai hasil yang optimal.
Berdasar pada kenyataan lapangan dan harapan paradigma baru dalam pembelajaran di atas penelitiingin meneliti “Aplikasi Pembelajaran PAKEM Dalam Meningkatkan Minat Belajar Siswa di PRAKOM PP. Mambaul Ulum Bata-Bata Pamekasan”.

B. FOKUS PENELITIAN
Berdasarkan konteks penelitian di atas, dapat ditetapkan fokus dalam penelitian ini sebagaimana berikut :
“Aplikasi Pembelajaran PAKEM Dalam Meningkatkan Minat Belajar Siswa di PRAKOM PP. Mambaul Ulum Bata-Bata Pamekasan.
Adapun sub pokok dalam penelitian ini meliputi :
1. Bagaimana aplikasi pembelajaran dengan pendekatan PAKEM dalam meningkatkan minat belajar siswa di PRAKOM PP. Mambaul Ulum Bata-Bata Pamekasan?
2. Bagaimana minat belajar siswa di PRAKOM PP. Mambaul Ulum Bata-Bata Pamekasan?
3. Apa saja faktor pendukung dan penghambat pendekatan pembelajaran PAKEM dalam meningkatkan minat belajar siswa di PRAKOM PP. Mambaul Ulum Bata-Bata.

C. TUJUAN PENELITIAN
Bertitik tolak dari sub pokok penelitian sebagaimana disebutkan di atas, maka tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui aplikasi pembelajaran dengan pendekatan PAKEM dalam meningkatkan minat belajar siswa di PRAKOM PP. Mambaul Ulum Bata-Bata Pamekasan?
2. Untuk mengetahui minat belajar siswa di PRAKOM PP. Mambaul Ulum Bata-Bata Pamekasan?
3. Untuk mengetahui faktor pendukung dan penghambat pendekatan pembelajaran PAKEM dalam meningkatkan minat belajar siswa di PRAKOM PP. Mambaul Ulum Bata-Bata.

D. KEGUANAAN PENELITIAN
Kegunaan penelitian ini secara umum penelitirangkai sebagai berikut :
1. Secara Teoritis
a. Bagi peneliti guna untuk memenuhi persyaratan mencapai gelar S1
b. Bagi Serta sebagai praktik bagi penelitidari teori-teori yang telah dipelajari selama mengikuti perkuliahan dikampus.
2. Secara Praktis
a. Lembaga terkait, agar dapat memberikan kontribusi dan memilih metode yang benar-benar efktif demi meningkatkan minat belajar siswa.
b. Sebagai bahan untuk meningkatkan mutu pendidikan di lembaga yang bersangkutan.
c. Semua lembaga pendidikan, dan para guru sebagai informasi bahwa pentingnya kecakapan dan penguasaan metode dalam meningkatkan prestasi belajar siswa.
d. Pembaca sebagai pandangan agar lebih mengetahui dan untuk mengaplikasikan tentang sistem pembelajaran PAKEM dalam meningkatkan prestasi belajar siswa.

E. DEVINISI OPERASIONAL
Ada beberapa istilah untuk didefinisikan secara operasional agar menghindari interpretasi dan pemahaman yang salah, maka penelitiperlu memberikan batasan-batasan terhadap istilah yang digunakan dalam penelitian ini yaitu :
1. PAKEM merupakan singkatan dari Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan.” Aktif artinya : dalam proses pembelajaran guru dapat menciptakan suasana kelas sedemikian rupa sehingga anak berani bertanya dan berani mengemukakan gagasannya, Kreatif artinya : Guru mampu menciptakan kegiatan belajar mengajar yang beragam, sehingga anak mampu mengembangkan kemampuan secara maksimal. Efektif artinya : setelah proses pembelajaran anak dapat menguasai apa yang menjadi target dalam pembelajaran, Menyenangkan artinya : suasana belajar mengajar yang dapat menarik perhatian anak secara penuh sehingga waktu curah perhatiannya sangat tinggi. (Sediono, 2003 : 41).
2. Minat ialah suatu pemusatan perhatian yang tidak disengaja yang terlahir dengan penuh kemauannya dan yang tergantung dari bakat dan lingkungan (Sujanto Agus : 1981 ).
3. Belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku individu melalui interaksi dengan lingkungan.( hamalik pemar : 2001 )
4. PRAKOM merupakan singkatan dari Prakomisi Majelis Musyawarah Kutubuddiniyah (Pra Komisi M2KD). Sebuah lembaga kursus baca kitab kuning yang diadakan dengan waktu 3 bulan, yang pesertanya di ambil dari siswa yang sama sekali tidak tahu baca kitab dan tidak mengusai sama sekali ilmu gramatika bahasa arab (ilmu nahwu dan ilmu saraf). Yang mana dalam kursus tersebut yang ditekankan adalah fasih membaca kitab, bukan pemahaman terhadap isinya.

BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A. TINJAUAN TENTANG APLIKASI PEMBELAJARAN PAKEM
1. Penegrtian tentang aplikasi pembelajaran PAKEM
Sistem pembelajaran perlu diprbaiki dan dikembangkan guna tercapainya tujuan pendidikan secara menyeluruh, oleh karena itu upaya untuk melakukan inovasi bidang pemblajaran perlu selalu dikembangkan. Pendekatan dalam pembelajaran yang dianggap relevan untuk menjawab tntutan zaman adalah pembelajaran aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan atau bisa disebut dengan PAKEM. Dengan pemebelajaran PAKEM guru dituntut untuk melakukan kegiatan pembelajaran yang dapat melibatkan peserta didik melalui partisipatif, aktif kratif, dan menyenangkan yang pada akhirnya membuat peserta didik dapat membuat karya, gagasan, pendapat, ide atas penemannya dan usahanya sendidri bukan dari gurunya. (Achmad Fanani 2011:th)
PAKEM adalah singkatan dari pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif dan Meyenangkan. Atau bisa dikatakan sebuah metode pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan, yang hal tersebut ditujukan sebagai alternatif serta solusi dalam meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah khususnya di sekolah dasar. (Sentot Kusairi 2003:53).

a) Pembelajaran Aktif
Pembelajaran aktif merupakan pembelajaran yang lebih banyak melibatkan aktifitas peserta didik dalam mengakses informasi dan pengetahuan untuk dibahas dan dikaji dalam proses pembelajaran, sehingga peserta didik mendapatkan berbagai pengalaman yang dapat meningkatkan pemahaman dan kompetensinya. Pembelajaran aktif juga memungkinkan peserta didik mengembangkan kemampuan berfikir tingkat tinggi, seperti menganalisis dan mensintesis, serta melakukan penilaian terhadap berbagai peristiwa belajar dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Sementara itu guru lebih banyak memposisikan dirinya sebagai fasilitator. (Achmad Fanani, 2011:Th)
Menurut Dasim Budimansyah (2009:71), Pembelajaran aktif dimaksudkan bahwa dalam proses pembelajaran guru harus menciptakan suasana yang sedemikian rupa, sehingga siswa aktif bertanya, mempertanyakan, dan mengemukakan gagasan. Belajar merupakan proses aktif dari si pembelajar dalam membangun pengetahuannya, bukan proses pasif yang hanya menerima kucuran ceramah guru tentang pengetahuan. Sehingga, jika pembelajar tidak memberikan kesempatan kepada siswa untuk berperan aktif, maka pembelajar tersebut bertentang dengan hakikat belajar. Peran aktif dari siswa sangat penting dalam rangka pembentukan generasi yang kreatif, yang mampu menghasilkan sesuatu untuk dirinya dengan orang lain.

b) Pemebelajaran Kreatif
Adapun pemebelajaran kreatif merupakan proses pembelajaran yang mengharuskan guru untuk dapat memotivasi dan memunculkan kreatifitas peserta didik selama pembelajaran berlangsung dengan menggunakan beberapa metode dan strategi yang bervariasi. Pembelajaran kreartif menuntut guru untuk merangsang kreatifitas peserta didik, baik dalam mengembangkan kecakapan maupun dalam melakukan suatu tindakan. (Ach Fanani, 2011:th)

Menurut Suparlan (2009:71) kreatif di artikan agar guru memberikan variasi dalam kegiatan belajar mengajar  dan membuat alat bantu belajar bahkan menciptakan teknik-teknik mengajar tertentu sesuai dengan tingkat kemampuan peserta didik dan tujuan berelajarnya. Peserta didik akan kreatif bila di berikan kesempatan merancang atau membuat sesuatu, menuliskan ide atau gagasan. Kegiatan tersebut akan memuaskan rasa keingin tahuan dan imajinasi mereka. Apabila suasana belajar yang aktif dan kreatif terjadi, maka akan mendorong peserta didik untuk menyenangi dan memotivasi mereka untuk terus belajar.

c) Pembelajan Efektif
Suatu pembelajaran dapat dikatakan efektif jika mampu memberikan pengalaman baru kepada peserta didik, membentuk kompetensi didik, serta mengantarkan mereka ke tujuan secara optimal. Hal ini bisa dapat dicapai dengan melibatkan serta mendidik mereka dalam pembelajaran, pelaksanaan dan penilaian pembelajaran. (Achmad Fanani, 2011: th)

d) Pemebelajaran Menyenangkan
Adapun yang dimaksud menyenangkan mengutip pendapat Suparlan (2008 : 70-71) adalah suasana belajar mengajar yang menyenangkan sehingga siswa memusatkan perhatiannya secara penuh pada belajar sehingga waktu curah perhatiannya tinggi. Menurut penelitian, tingginya waktu curah terbukti meningkatkan hasil belajar. Masih menurut Suparlan, bahwa kegiatan belajar yang aktif, kreatif, dan menyenangkan harus tetap berstandar pada tujuan atau kompetensi yang akan dicapai. Efektif yang diartikan sebagai tercapainya suatu tujuan (kompetensi) merupakan pijakan utama suatu rancangan pembelajaran. Jika pembelajaran hanya aktif dan menyenangkan tetapi tidak efektif. Maka pembelajaran tidak ubahnya seperti permainan belaka.
Menurut Suparlan (2008 : 70-71) secara garis besar, PAKEM dapat di deskripsikan sebagai berikut :
1. Siswa terlibat dalam berbagai kegiatan yang mengembangkan pemahaman dan kemampuan mereka dengan penekansan pada belajar melalui berbuat.
2. Guru menggunakan berbagai alat bantu dan berbagai cara dalam membangkitkan semangat, termasuk menggunakan lingkungan sebagai sumber belajar untuk di jadikan pembelajaran menarik, menyenangkan, dan cocok bagi siswa.
3. Guru mengatur dengan memanjang buku-buku dan bahan belajar yang lebih menarik dan menyediakan ‘pojok baca’
4. Guru menerapkan cara mengajar yang lebih kooperatif dan interaktif termasuk cara belajar kelompok.
5. Guru mendorong siswa untuk menentukan caranya sendiri dalam pemecahan masalah untuk mengungkapkan gagasannya dan melibatkan siswa dalam menciptakan lingkungan sekolahnya.

Menurut Fadjar Shadik dalam Setiawan (2004:25) masalah trend dan berbagai isu tentang pembelajaran PAKEM di kembangkan atas dasar tuntutan karena perubahan pradikma pembelajaran yaitu :
1. Peralihan pendidikan dari bentuk formal (teori latihan) kerevintion, proses (activitees), penerapan dan pemecahan masalah nyata.
2. Perubahan dari pradikma dari guru mengajar ke siswa belajar.
3. Peralian dari belajar perorangan ke belajar bersama (konvertiv learning).
4. Peralihan dasar positivik (behavioristik) ke konstruktivistik atau dari subjek centred ke clearer centred (terbentuk/konstruksinya pengetahuan) suatu teori baru yang menyatakan bahwa pengetahuan terbentuk di dalam pikiran sendiri berdasarkan pada pengetahuan yang di punyainya.
5. Peralihan dari teori pemindahan pengatahuan (knowledge transmited) ke bentuk intraktif, investigasi eksploratif, kegiatan-kegiatan terbuka, keterampilan proses dan pemecahan masalah.
6. Peralihan dari belajar menghafal (rote learning) ke belajar pemahaman (learning of understanding)
7. Penyempurnaan evaluasi dengan authentic assessment seperti misalnya poftofolio, jurnal, proyek, laporan siswa, untuk kinerja atau yang lain.

Dari kedua pendapat di atas pembelajaran yang aktif, kretif, efektif dan menyenangkan (PAKEM) pada hakikatnya adalah suatu strategi pembelajaran terpadu yang menggunakan strategi, metode, pendekatan dan teknik pengajaran terpadu sedemikian rupa baik prosedur maupun tujuan pembelajaran dapat terlaksana dan tercapai dengan baik.

2. Dimensi PAKEM Dari Segi Guru Dan Siswa
Tinjau PAKEM dari segi guru dan siswa dalam proses belajar mengajar adalah sebagai berikut :
PAKEM GURU SISWA

A (Aktif) • Memantau kegiatan belajar siswa
• Member umpan balik
• Mengajukan pertanyaan
• Mempertanyakan gagasan siswa • Bertanya
• Mengemukakan gagasan
• Mempertanyakan gagasan orang lain

K (kreatif ) • Mengembangkan kegiatan yang bervariasi
• Membuat alat bantu yang sederana
• Memilih media pembelajaran yang sesuai dengan materi belajar • Merancang atau membuat sesuatu
• Menulis
• Merangkum atau membuat soal sendiri
E (Efektif)

• Tidak membuat anak merasa takut • Hasil belajar meningkat
• Perhatian terhadap tugas
• Senang belajar
• Belajar seumur hidup

3. Hal-hal yang di perlu di perhatikan dalam melaksanakan PAKEM
Menurut Meriawan (2009:75-76) ada beberapa hal yang perlu diperhaikan dalam melaksanakan pembelajaran PAKEM, diantaranya adalah:
a. Memahami sifat yang di miliki anak
b. Mengenal anak secara perorangan
c. Memanfaatkan prilaku anak dalam pengorganisasian belajar
d. Mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kreatif dan kemampuan memecahkan masalah
e. Mengembangkan ruang kelas sebagai lingkungan yang menarik
f. Memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar
g. Memberikan umpan balik yang baik untuk meningkatkan kegiatan belajar.
h. Membedakan yang aktif fisik dan aktif mental.
Adapun uraian rincinya sebagai berikut:
Pada dasarnya anak memiliki ifat: ingin tahu dan berimajinasi. Anak desa, anak kota, anak orang kaya, anak orang miskin, anak Indonesia atau anak bukan Indonesia –selama mereka normal– terlahir memiliki kedua sifat itu. Kedua sifat tersebut merupakan mdal dasar bagi berkembangnya sikap/berpikir kritis dan kreatif. Kegiatan pembelajaran merupakan salah satu lahan yang harus kita olah sehingga subur bagi berkembangnya kedua sifat tersebut. Suasana pembelajaran dimana guru memuji anak karena hasil karyanya, guru mengajukan pertanyaan yang menantang, dan guru yang mendorong anak untuk melakukan percobaan misalnya, merupakan pembelajaran yang subur seperti yang dimaksud.
Para siswa berasal dari lingkungan keluarga yang bervariasi dan memiliki kemampuan yang berbeda. Dalam PAKEM (pembelajaran aktif, kratif efektif, menyenagkan) perbedaan individual perlu diperhatikan dan harus tercermin dalam kegiatan pembelajaran. Semua anak dalam kelas tidak selalu mengerjakan kegiatan yang sama, melainkan berbeda sesuai dengan kecepatan belajarnya. Anak-anak yang memiliki kemampuan lebih dapat dimanfaatkan untuk membantu temannya yang lemah. Dengan mengenal kemampuan anak, kita dapat membantunya bila mendapat kesulitan sehingga belajar anak tersebut menajadi optimal.
Disamping itu sebagai mahluk sosial, anak sejak kecil secara alami bermain berpasangan atau berkelempok dalam bermain. Perilaku ini dapat dimanfaatkan dalam perorganisasian belajar. Dalam melakukan tugas atau membahas sesuatu, anak dapat bekerja berpasangan atau dalam kelompok. Berdasarkan pengalaman, anak akan menyelesaikan tugas dengan baik bila mereka duduk berkelompok. Duduk seperti ini akan memudahkan mereka untuk berinteraksi dan bertukar pikiran. Namun demikian, anak perlu juga menyelesaikan tugas secara perorangan agar bakat individunya berkembang.
Pada dasarnya hidup ini adalah memecahkan masalah. Hal ini memerlukan kemampuan berpikir kritis dan kreatif. Kritis untuk menganalisi masalah; dan keratif untuk melahirkan alternatif pemecahan masalah. Kedua jenis berpikir tersebut berasal dari ingin tahu dan imajinasi yang keduanya ada pada diri anak sejak lahir leh karena itu tugas guru adalah mengembangkannya, antara lain dengan sering-sering memberikan tugas dan mengajukan pertanyaan terbuka. Pertanyaan yang dimlai dengan “Apa yang terjadi jika…” lebih baik daripada dengan “Apa, berapa, kapan” yang umumnya tertutup.
Ruang kelas yang menarik merupakan hal yang sangat disarankan dalam PAKEM. Hasil pekerjaaan siswa sebaiknya dipajangkan diharapkan memotivasi siswa untuk bekerja lebih baik dan menimbulkan inspirasi bagi siswa yang lain. Yang dipajangkan dapat berupa hasil kerja perorangan, atau kelompok. Pajangan dapat berupa gambar, peta, diagram, model, benda asli, puisi, karangan, dan sebagainya. Ruang kelas yang penuh dengan pajangan hasil pekerjaan siswa, ditata dengan baik, dapat membantu guru dalam pembelajaran karena dapat dijadikan rujukan ketika membahas suatu masalah.
Lingkangan (fisik, sosial, atau budaya ) merupakan sumber yang sangat kaya untuk bahan belajar anak. Lingkungan dapat berperan sebagai media belajar, tetapi juga sebagai objek kajian (sumber belajar) penggunaan lingkungan sebagai sumber belajar sering membuat anak senang dalam belajar. Belajar dengan menggunakan lingkungan tidak harus selalu keluar kelas. Bahan dari lingkungan dapat dibawa ke ruang kelas untuk menghemat biaya dan waktu. Pemanfaatan lingkungan dapat mengembangkan sejumlah keterampilan seperti mengamati (dengan seluruh indera), mencatat, merumuskan pertanyaan, berhipotesis, mengklasifikasi, membuat tulisan, dan membuat gambar diagram.
Mutu hasil belajar akan meningkat bila terjadi intraksi dalam belajar. Pemberian umpan balik dari guru kepada siswa merupakan salah satu bentuk intraksi anatara guru dan siswa. Umpan balik hendaknya lebih mengungkap kekuatan daripada kelemahan siswa. Selain itu, cara memberikan umpan balik pun harus dengan santun. Hal ini dimaksudkan agar siswa lebih percaya diri dalam menghadapi tugas-tugas belajar selanjutnya. Guru harus konsisten memeriksa hasil pekerjaan siswa dan memberikan komentar dan catatan. 
Catatan guru berkaitan dengan pekerjaan siswa lebih bermakna bagi pengembangan diri siswa daripada hanya sekedar angka.
Banyak guru yang sudah merasa puas bila menyaksikan para siswa kelihatan sibuk bekerja dan bergerak. Apalagi jika bangku dan meja diataur berkelompok serta siswa duduk saling berhadapan. Keadaan tersebut bukanlah ciri yang sebenarnya dari PAKEM. Aktif mental lebih dinginkan daripada aktif fisikal. Sering bertanya, mempetanyakan gagasan orang lain, dan mengungkapkan gagasan orang merupakan tanda-tanda aktif mental. Syarat berkembangnya aktif mental adalah tumbuhnya perasaan tidak takut: takut ditertawakan, takut disepelekan, atau takut dimarahi jika salah. Oleh karena itu, guru hendaknya menghilangkan penyebab rasa takut tersebut, baik yang datang dari guru itu sendiri, maupun temannya. Berkembangnya rasa takut sangat bertentangan dengan PAKEM.

4. Pelaksanaan PAKEM
Proses pembelajaran akan berlangsung seperti yang di harapkan dalam pelaksanaan konsep pakem jika peran para guru dalam berinteraksi dengan siswanya selalu memberikan motivasi, dan memfasilitasinya tanpa mendominasi, memberikan kesempatan untuk berpartisipasi aktif, membantu dan mengarahkan siswanya untuk mengembangkan bakat dan minat mereka melalui proses pembelajaran yang terencana.
Gambaran PAKEM di perlihatkan dengan berbagai kegiatan yang terjadi selama proses pembelajaran, dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar yang berorientasi pada pakem guru perlu menguasai kemampuan untuk menciptakan situasi pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan. (Suparlan, 2009:79)
Kemampuan tersebut melalui hal-hal berikut :
Kemampuan guru Kemampuan siswa
Guru merancang dan mengelola KBM yang mendorong siswa untuk berperan aktif dalam pembelajaran Guru melaksanakan pembelajaran dalam kegiatan yang beragam, misalnya :
• Percobaan diskusi kelompok
Memecakan masalah
Mencari informasi
Menulis laporan

Guru menggunakan alat bantu dan sumber belajar yang beragam Sesuai mata pelajaran, guru menggunakan, misalnya :
Alat yang tersedia atau yang di buat sendiri
Gambar
• Nara sumber
• Lingkungan

 Guru memberikan kesempata kepada siswa untuk mengembangkan keterampilan.
 Siswa :
Melakukan percobaan, pengamatan Mengumpulkan data/ jawaban dan mengelolanya sendiri
• Menarik kesimpulan, mencari rumus sendiri
• Menulis laporan/hasil karya lain dengan kata-kata sendiri
 Guru memberikan kesempatan untuk mengungkapkan gagasannya sendiri secara lisan atau tulisan  Melalui :
• Diskusi
• Lebi banyak pertanyaan terbuka
• Hasil karya hasil yang merupakan pemikiran sendiri
 Guru menyesuaikan baan dan kegiatan belajar dengan kemampuan siswa  Siswa di kelompokan sesuai dengan kemampuan (untuk kegiatan tertentu)
• Bahan pelajaran di sesuaikan dengan kemampuan kelompok tersebut
• Tugas perbaikan atau pengayaan di berikan
 Guru mengaitkan KBM dengan pengalaman siswa sehari-sehari
 Siswa menceritakan atau memanfaatkan pengalamannya sendiri.
 Menilai KBM dan kemajuan belajar siswa secara terus menerus.  Guru memantau kerja siswa
 Guru memberikan umpan balik
Dari tabel di atas PAKEM menggambarkan kondisi-kondisi, dimana peserta didik terlibat dalam berbagai kegiatan (aktivitas) yang menggambarkan keterampilan, kemampuan, dan pemahaman dengan menekankan pada belajar dengan berbuat (learning bay doing), sedangkan guru menggunakan berbagai stimulus/motivasi dan alat peraga termasuk lingkungan sebagai sumber belajar agar pelajaran lebih menarik, menyenangkan dan relevan bagi peserta didik penerapan Pakem di maksudkan sebagai usaha mendorong untuk selalu aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan.

B. TINJAUAN TENTANG MINAT BELAJAR SISWA
1. Pengertian tentang minat belajar siswa
Minat berperan sangat penting dalam kehidupan peserta didik dan mempunyai dampak yang besar terhadap sikap dan perilaku. Siswa yang berminat terhadap kegiatan belajar akan berusaha lebih keras dibandingkan siswa yang kurang berminat.
Menurut Hilgard (1977 :19) memberi rumusan pengertian tentang minat sebagai berikut: “Interest is persisting tendency to pay attention to and enjoy some activity or content” yang berarti minat adalah kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan mengenang beberapa kegiatan. Kegiatan yang diminati seseorang, diperhatikan terus-menerus yang disertai dengan rasa senang dan diperoleh suatu kepuasan.
Menurut Slameto (2003 : 57) minat adalah kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan mengenang beberapa kegiatan. Kegiatan yang diminati siswa, diperhatikan terus-menerus yang disertai rasa senang dan diperoleh rasa kepuasan. Lebih lanjut dijelaskan minat adalah suatu rasa suka dan ketertarikan pada suatu hal atau aktivitas, tanpa ada yang menyuruh.
Minat adalah kecenderungan dalam diri individu untuk tertarik pada sesuatu objek atau menyenangi sesuatu objek (Sumadi Suryabrata, 1988 :109). Sedangkan menurut Kartono (1995), minat merupakan moment-moment dari kecenderungan jiwa yang terarah secara intensif kepada suatu obyek yang dianggap paling efektif (perasaan, emosional) yang didalamnya terdapat elemen-elemen efektif (emosi) yang kuat. Minat juga berkaitan dengan kepribadian. Jadi pada minat terdapat unsur-unsur pengenalan (kognitif), emosi (afektif), dan kemampuan (konatif) untuk mencapai suatu objek, seseorang suatu soal atau suatu situasi yang bersangkutan dengan diri pribadi (Buchori, 1985)
Menurut Hardjana (1994), minat merupakan kecenderungan hati yang tinggi terhadap sesuatu yang timbul karena kebutuhan, yang dirasa atau tidak dirasakan atau keinginan hal tertentu. Minat dapat diartikan kecenderungan untuk dapat tertarik atau terdorong untuk memperhatikan seseorang sesuatu barang atau kegiatan dalam bidang-bidang tertentu (Lockmono, 1994).
Minat dapat menjadi sebab sesuatu kegiatan dan sebagai hasil dari keikutsertaan dalam suatu kegiatan. Karena itu minat belajar adalah kecenderungan hati untuk belajar untuk mendapatkan informasi, pengetahuan, kecakapan melalui usaha, pengajaran atau pengalaman (Hardjana, 1994)
Menurut Gie (1998), minat berarti sibuk, tertarik, atau terlihat sepenuhnya dengan sesuatu kegiatan karena menyadari pentingnya kegiatan itu. Dengan demikian, minat belajar adalah keterlibatan sepenuhnya seorang siswa dengan segenap kegiatan pikiran secara penuh perhatian untuk memperoleh pengetahuan dan mencapai pemahaman tentang pengetahuan ilmiah yang dituntutnya di sekolah.
Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa minat adalah kecenderungan tertarik pada sesuatu yang relatif tetap untuk lebih memperhatikan dan mengingat secara terus-menerus yang diikuti rasa senang untuk memperoleh suatu kepuasan dalam mencapai tujuan pembelajaran. Dalam belajar diperlukan suatu pemusatan perhatian agar apa yang dipelajari dapatdipahami. Sehingga siswa dapat melakukan sesuatu yang sebelumnya tidak dapat dilakukan, maka terjadilah suatu perubahan kelakuan. Perubahan kelakuan ini meliputi seluruh pribadi siswa; baik kognitip, psikomotor maupun afektif. Untuk meningkatkan minat, maka proses pembelajaran dapat dilakukan dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami apa yang ada di lingkungan secara berkelompok. Sedangkan yang peneliti maksudkan dengan minat belajar di sini adalah suatu kemampuanumum yang dimiliki siswa untuk mencapai hasil belajar yang optimal yang dapat ditunjukkan dengan kegiatan belajar.
2. Ciri-ciri Siswa Berminat dalam Belajar
Menurut Slameto (2003 :58) siswa yang berminat dalam belajar mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
a) Mempunyai kecenderungan yang tetap untuk untuk memperhatikan dan mengenang sesuatu yang dipelajari secara terus menerus.
b) Ada rasa suka dan senang pada sesuatu yang diminati.
c) Memperoleh suatu kebanggaan dan kepuasan pada sesuatu yang diminati.
d) Ada rasa keterikatan pada sesuatu aktivitas-aktivitas yang diminati.
e) Lebih menyukai suatu hal yang menjadi minatnya daripada yang lainnya.
f) Dimanifestasikan melalui partisipasi pada aktivitas dan kegiatan.
3. Membangkitkan Minat Belajar Siswa
Minat sangat besar pengaruhnya terhadap hasil belajar, karena apabila bahan pelajaran yang dipelajari tidak sesuai dengan minat, siswa tidak akan belajar dengan baik sebab tidak menarik baginya. Siswa akan malas belajar dan tidak akan mendapatkan kepuasan dari pelajaran itu. Bahan pelajaran yang menarik minat siswa, lebih mudah dipelajari sehingga dapat mingkatkan prestasi belajar.
Minat terhadap sesuatu hal tidak merupakan yang hakiki untuk dapat mempelajari hal tersebut, asumsi umum menyatakan bahwa minat akan membantu seseorang mempelajarinya. Membangkitkan minat terhadap sesuatu pada dasarnya adalah membantu siswa melihat bagaimana hubungan antara materi yang diharapkan untuk dipelajari dengan diri sendiri sebagai individu.
Menurut Slameto (2003 :180) proses ini berarti menunjukkan pada siswa bagaimana penetahuan atau kecakapan tertentu mempengaruhi dirinya, melayani tujuan-tujuannya, dan memuaskan kebutuhan-kebutuhannya. Bila siswa menyadari bahwa belajar merupakan suatu alat untuk mencapai tujuan yang dianggap penting, dan bila siswa melihat bahwa hasil dari pengalaman belajar akan membawa kemajuan pada dirinya, ia akan lebih berminat untuk mempelajarinya.
Minat pada dasarnya merupakan penerimaan akan suatu hubungan antara diri sendiri dengan sesuatu di luar diri, semakin kuat atau dekat hubungan tersebut, semakin besar minatnya. Jika terdapat siswa yang kurang berminat dalam belajar dapat diusahakan agar mempunyai minat yang lebih besar dengan cara menjelaskan hal-hal yang menarik dan berguna bagi kehidupannya serta berhubungan dengan cita-cita yang berkaitan dengan materi yang dipelajari. Minat dapat diekspresikan melalui suatu pernyataan yang menunjukkan bahwa siswa lebih menyukai suatu hal dari pada hal lainnya, dapat pula dimanifestasikan melalui partisipasi dalam suatu aktivitas. Siswa yang memiliki minat terhadap subyek tertentu cenderung untuk memberikan perhatian yang lebih besar terhadap subyek tersebut. Minat tidak dibawa sejak lahir, melainkan diperoleh kemudian. Minat terhadap pelajaran mempengaruhi belajar selanjutnya serta mempengaruhi minat-minat baru. Menurut ilmuwan pendidikan cara yang paling efektif untuk membangkitkan minat belajar pada siswa adalah dengan menggunakan minat-minat siswa yang telah ada dan membentuk minat-minat baru pada diri siswa. Hal ini dapat dicapai dengan jalan memberikan informasi pada siswa mengenai hubungan antara suatu bahan pengajaran yang akan diberikan dengan bahan pengajaran yang lalu, menguraikan kegunaan bagi siswa dimasa yang akan datang. Minat dapat dibangkitkan dengan cara menghubungkan materi pelajaran dengan suatu berita sensasional yang sudah diketahui kebanyakan siswa.
Indikator-indikator minat belajar siswa terdiri dari: adanya perhatian, adanya ketertarikan, dan rasa senang. Indikator adanya perhatian dijabarkan menjadi tiga bagian yaitu: perhatian terhadap bahan pelajaran, memahami materi pelajaran dan menyelesaikan soal-soal pelajaran. Ketertarikan dibedakan menjadi ketertarikan terhadap bahan pelajaran dan untuk menyelesaikan soal-soal pelajaran. Rasa senang meliputi rasa senang mengetahui bahan belajar, memehami bahan belajar, dan kemampuan menyelesaikan soal-soal.
4. Faktor yang Mempengaruhi Minat Siswa dalam Belajar
Menurut Abdullah (1989), ada beberapa yang mempengaruhi minat sesorang terhadap mata pelajaran tertentu. Secara keseluruhan faktor tersebut digolongkan dalam dua kelompok besar, yaitu faktor eksternal (faktor yang berasal dari luar diri siswa) dan faktor internal (faktor yang berasal dari dalam diri siswa).
Dari beberapa faktor yang dapat mempengaruhi minat siswa dalam pelajaran tertentu, yang menjadi bahan kajian dalam penelitian ini adalah factor, faktor dari dalam diri siswa, faktor metode mengajar, faktor guru, serta sarana dan prasarana. Untuk lebih jelasnya, pengaruh dari masing-masing faktor tersebut dapat diuraikan sebagai berikut :
a. Faktor dari dalam Diri Siswa
Siswa adalah sekelompok manusia yang akan diajar, dibimbing, dan dibina menuju pencapaian tujuan belajar yang ditentukan. Siswa juga mempunyai peranan dalam proses belajar mengajar. Dalam pelaksanaan proses belajar mengajar terjadi interaksi antara guru dan siswa, dan antara siswa yang satu dengan siswa yang lainnya, yaitu terjadinya saling tukar informasi dan pengalaman mengarah kepada interaksi proses belajar mengajar yang optimal (Ali, 1993).
Proses belajar mengajar menurut konsep ini, siswa menggunakan seluruh kemampuan dasar yang memilikinya sebagai dasar untuk melakukan berbagai kegiatan agar memperoleh prestasi belajar yang optimal. Dalam hal ini, fungsi guru dalam proses belajar mengajar seperti diungkapkan oleh Sardiman (1992) adalah :
1. Mencari perangsang atau motivasi agar siswa mau melakukan satu tujuan tertentu.
2. Mengarahkan seluruh kegiatan belajar kepada suatu tujuan tertentu
3. Memberi dorongan agar siswa mau melakukan seluruh kegiatan yang mampu dilakukan untuk mencapai tujuan.
b. Faktor Metode Mengajar
Mengajar atau mentransfer ilmu dari guru kepada siswa memerlukan suatu teknik atau metode tertentu. Metode tersebut dengan istilah metode mengajar. Dalam dunia pendidikan telah dikenal berbagai metode mengajar yang dapat digunakan .
Di sekolah atau lembaga pendidikan tertentu terdapat banyak mata pelajaran dan tiap mata pelajaran mempunyai tujuan-tujuan tersendiri. Untuk mencari tujuan tersebut setiap guru harus memilih metode mengajar yang manakah yang paling tepat untuk mata pelajaran atau pokok bahasan yang akan diajarkannya. Hal tersebut disebabkan karena tidak semua pokok bahasan cocok untuk diterapkan satu mata pelajaran atau pokok bahasan. Oleh karena itu, guru yang mampu menggunakan berbagai metode pengajaran dan menerapkannya dalam proses belajar mengajar akan dapat meningkatkan motivasi dan minat belajar siswa (Roestiyah, 1993:08).
c. Faktor Guru
Guru merupakan jabatan atau profesi yang memerlukan keahlian khusus. Pekerjaan ini tidak bisa dilakukan oleh seseorang tanpa memiliki keahlian sebagai guru. Untuk menjadi seorang guru, diperlukan syarat-syarat khusus, apa lagi seorang guru yang profesional yang harus menguasai seluk beluk pendidikan dan mengajar dengan berbagai ilmu pengetahuan lainnya yang perlu dikembangkan melalui masa pendidikan tertentu.
Guru merupakan unsur penting dalam keseluruhan sistem pendidikan. Oleh karena itu peranan dan kedudukan guru dalam meningkatkan mutu dan kualitas anak didik perlu diperhitungkan dengan sungguh-sungguh. Status guru bukan hanya sebatas pegawai yang hanya semata-mata melaksanakan tugas tanpa ada rasa tanggung jawab terhadap disiplin ilmu yang diembannya. Dalam pendidikan itu, guru mempunyai tiga tugas pokok yang dapat dilaksanakan sebagai berikut :

1) Tugas professional
Tugas profesional ialah tugas yang berhubungan dengan profesinya.
Tugas profesional ini meliputi tugas mendidik, mengajar, dan melatih. Mendidik berarti meneruskan dan mengembangkan nilai-nilai hidup. Mengajar berarti meneruskan dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi, sedangkan melatih berarti mengembangkan keterampilan.

2) Tugas manusiawi
Tugas manusiawi adalah tugas sebagai manusia. Dalam hal ini bertugas mewujudkan dirinya untuk merealisasikan seluruh potensi yang dimilikinya. Guru di sekolah harus dapat menjadikan dirinya sebagai orang tua kedua. Ia harus mampu menarik simpatik sehingga ia menjadi idola siswa. Di samping itu transformasi diri terhadap kenyataan di kelas atau di masyarakat perlu dibiasakan, sehingga setiap lapisan masyarakat dapat mengerti bila menghadapi guru.

3) Tugas kemasyarakatan
Tugas kemasyarakatan ialah guru sebagai anggota masyarakat dan warga negara seharusnya berfungsi sebagai pencipta masa depan dan penggerak kemampuan. Bahkan keberadaan guru merupakan faktor penentu yang tidak mungkin dapat digantikan oleh komponen manapun dalam kehidupan bangsa sejak dulu terlebih-lebih pada masa kini.
Di samping ketiga tugas pokok tersebut diatas, menurut Muhtar (1992), guru juga berperan sebagai :

a) Fasilitator perkembangan siswa
Kemampuan dan potensi yang dimiliki siswa tidak mungkin dapat berkembang dengan baik apabila tidak mendapat rangsangan dari lingkungannya. Dalam suasana sekolah, guru diharapkan dengan siswa secara individual telah mempunyai kemampuan dan potensi itu. Dengan kata lain mempunyai peranan sebagai fasilitator dalam mengantarkan siswa ke arah hasil pendidikan yang tinggi mutunya.

b) Agen pembaharuan
Kehidupan manusia merupakan serangkaian perubahan-perubahan yang nyata. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi pada era globalisasi ini mengalami kepesatan yang melangit. Dalam hal ini, guru dituntut untuk tanggap terhadap perubahan dan dituntut untuk bertugas sebagai agen pembaharuan dan mampu menularkan kreatifitas dan kesiapan mental siswa.

c) Pengelola kegiatan proses belajar mengajar
Guru dalam hal ini bertugas mengarahkan kegiatan belajar siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran. Oleh karena itu dalam menyajikan materi pelajarannya. Guru berperan dan bertugas sebagai pengelola proses belajar mengajar.
d) Pengganti orang tua di sekolah
Guru dalam hal ini harus dapat menggantikan orang tua siswa apabila siswa sedang berada di sekolah. Dalam melaksanakan tugasnya sebagai pengganti orang tua, guru-guru harus mampu menghayati hubungan kasih sayang seorang bapak atau seorang ibu terhadap anaknya. Oleh karena itu, guru mampu mengenal suasana siswa di rumah atau dalam keluarganya.
d. Faktor Sarana dan Prasarana
Sarana dan prasarana sangat menunjang keberhasilan pengajaran misalnya fasilitas gedung sekolah, perpustakaan, laboratorium, alat peraga dan lain-lain.
Penggunaan alat peraga dalam proses belajar mengajar mempunyai fungsi utama (Nasution, 1990), yaitu :
1) Memperjelas penyajian pesan agar tidak terlalu bersifat verbalistis hanya dalam bentuk kata-kata atau lisan belaka.
2) Mengatasi keterbatasan ruang, waktu, daya indra seperti objek terlalu besar dapat digantikan dengan gambar, film, atau model.
3) Dengan menggunakan media pengajaran secara tepat dan bervariasi dapat diatasi sikap pasif siswa, dan
4) Dengan sikap yang unik untuk tiap siswa dengan lingkungan dan pengalaman yang berbeda, sedangkan kurikulum materi pelajaran yang ditentukan sama untuk setiap siswa, maka guru akan banyak mengalami kesulitan jika harus diatasi sendiri.

5. Meningkatkan Minat Siswa dalam Belajar Mengajar
Minat pada dasarnya adalah penerimaan akan suatu hubungan antara diri dengan sesuatu di luar diri. Semakin kuat atau dekat hubungan tersebut, semakin besar minat yang timbul. Menurut Slameto (1988), suatu minat dapat diekspresikan melalui suatu pernyataan yang menunjukkan bahwa siswa lebih menyukai suatu hal daripada hal lainnya. Dapat pula dimanifestasikan melalui partisipasi dalam suatu aktifitas. Siswa yang minat terhadap objek tertentu cenderung untuk memberikan perhatian yang lebih besar terhadap subyek tersebut.
Minat tidak dibawa sejak lahir melainkan diperoleh kemudian. Minat terhadap sesuatu yang dipelajari dan mempengaruhi belajar selanjutnya serta mempengaruhi penerimaan minat-minat baru. Jadi minat terhadap sesuatu merupakan hasil belajar dan menyokong belajar selanjutnya. Walaupun minat terhadap sesuatu hal tidak merupakan hal yang hakiki untuk dapat mempelajari hal tersebut. Asumsi umum menyatakan bahwa minat akan membantu seseorang mempelajari sesuatu (Slameto, 1988).
Mengembangkan minat siswa terhadap mata pelajaran pada dasarnya adalah membantu siswa melihat bagaimana hubungan antara materi yang diharapkan untuk dipelajari dengan dirinya sendiri sebagai individu. Proses ini berarti menunjukkan pada siswa bagaimana pengetahuan atau kecakapan tertentu mempengaruhi dirinya, melayani tujuan-tujuannya, dan memuaskan kebutuhan-kebutuhan. Bila siswa menyadari bahwa belajar merupakan alat untuk mencapai beberapa tujuan yang dianggapnya penting, dan bila siswa bahwa hasil dari pengalaman akan membawa kemajuan pada dirinya kemungkinan besar ia akan berminat dan bermotivasi untuk mempelajarinya. Beberapa ahli pendidikan berpendapat bahwa cara yang paling efektif untuk membangkitkan minat pada pada suatu subyek yang baru adalah dengan menggunakan minat-minat siswa yang telah ada (Slameto, 1988).
Di samping memanfaatkan minat yang telah ada, Tanner (1975, dalam Slameto, 1988) menyarankan agar para pengajar juga berusaha membentuk minat-minat baru pada diri sendiri. Ini dapat dicapai dengan jalan memberikan informasi kepada siswa mengenai hubungan antara suatu bahan pengajaran yang akan diberikan dengan bahan pelajaran yang lalu, menguraikan kegunaannya bagi siswa di masa yang akan datang. Roijjakkers (1980, dalam Slameto, 1988) berpendapat bahwa untuk menimbulkan minat-minat baru, dapat dicapai dengan cara menghubungkan bahan pengajaran dengan berita sensasional yang sudah diketahui kebanyakan siswa.
Bila usaha-usaha di atas tidak berhasil, pengajar dapat memakai insentif dalam usaha mencapai tujuan pengajaran. Insentif merupakan alat yang dipakai untuk membujuk seseorang agar melakukan sesuatu yang tidak mau dilakukannya atau yang tidak dilakukannya dengan baik.
Studi-studi eksperintal menunjukkan bahwa siswa-siswa yang secara teratur dan sistematis diberi hadiah karena telah bekerja dengan baik atau karena perbaikan dalam kualitas pekerjaannya, cenderung bekerja lebih baik daripada siswa yang dimarahi atau dikritik karena pekerjaannya yang buruk atau tidak ada kemajuan. Menghukum siswa karena hasil kerjanya yang buruk kurang efektif, bahkan hukuman yang terlalu kuat akan sering menghambat proses belajar tetapi hukuman yang ringan masih lebih baik daripada tidak perhatian sama sekali. Hendaknya para pengajar bertindak bijaksana dalam menggunakan insentif. Insentif apapun yang dipakai perlu disesuaikan dengan diri siswa masing-masing (Slameto, 1988).

BAB III
METODE PENELITIAN
A. Pendekatan dan Jenis Penelitian
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif (qualitative approach), karena pendekatan kualitatif ini merupakan seperti yang dikemukakan oleh Bagdan dan Tailor, bahwa metodologi kualiatif: adalah prosedur penelitian yang dapat menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan prilaku yang dapat diamati yang mana pendekatan ini diarahkan latar dan individu tersebut secara holistic (utuh) (Lexi J. Moleong, MA 2005 :4).
Metode kualitatif ini digunakan karena beberapa pertimbangan. Satu: Menyesuaikan metode kualitatif lebih mudah apabila berhadapan dengan pernyataan jamak. Kedua: Metode ini menyajikan secara langsung hakikat hubungan peneliti dengan responden. Ketiga: Metode ini lebih peka dan lebih menyesuaikan diri dengan banyak penajaman pengaruh bersama terhadap pola-pola nilai yang dihadapi (Lexi J. Moleong, MA 2005 :4).
Penggunaan pendekatan kualitatif ini diambil karena peneliti bermaksud untuk mengetahui tentang meningkatnya minat belajar siswa yang dilakukan dengan pendekatan metode PAKEM di PRAKOM PP. Mambaul Ulum Bata-Bata Pamekasan. Hal lain dari pengguna untuk lebih mempermudah proses penelitian ini peneliti juga menggunakan dasar teori “fenomenologi” yang berarti bahwa peneliti menggunakan fenomina yang terjadi di PRAKOM PP. Mambaul Ulum Bata-Bata Pamekasan, yang pada akhirnya akan mengantarkan pada validitas paradigma peneliti dalam mengambil suatu kesimpulan dari problema yang sedang dikaji.
Kemudian jenis penelitian ini adalah studi kasus (case study), yaitu peneliti mencoba ingin mendiskripsikan tentang kejadian-kejadian yang terjadi dan peneliti amati, seperti prestasi belajar siswa dan upaya-upaya yang dilakukan guru professional dalam meningkatkan minat belajar siswa di PRAKOM PP. Mambaul Ulum Bata-Bata Pamekasan.
B. Kehadiran Peneliti
Dalam penelitian yang menggunakan metode pendekatan kualitatif ini, kehadiran peneliti dilapangan merupakan salah satu langkah penting dan mutlak diperlukan. Karena peneliti merupakan instrumen pertama, sekaligus sebagai pengumpul data dalam rangka memperoleh vadilitas data yang diperlukan sesuai tujuan yang telah dicapai.
Dalam hal ini peneliti bertindak sebagai instrument (the main instrument) sekaligus pengumpul data. Maka dengan melakukan observasi, peneliti dapat mengetahui dan memahami gambaran tentang objek yang sedang diteliti, atau dapat berhubungan langsung dengan responden.
Sebelum terjun ke lapangan, peneliti sudah mengenal beberapa informan sebagai sumber informasi, diantaranya adalah ketua dan beberapa orang guru/pembimbing dan beberapa orang siswa di PRAKOM PP. Mambaul Ulum Bata-Bata Pamekasan. Dengan demikian akan membantu mempermudah peneliti dalam melakukan penelitian. Jadi kehadiran peneliti dilapangan sudah diketahui statusnya sebagai peneliti oleh informan.

C. Lokasi Penelitian
Dalam penelitian ini, peneliti mengambil lokasi kursus baca kitab yaitu PRAKOM PP. Mambaul Ulum Bata-Bata Pamekasan sebagai lokasi penelitian. Karena peneliti ingin mengetahui pentingnya pendekatan PAKEM dalam meningkatkan minat belajar siswa di PRAKOM PP. Mambaul Ulum Bata-Bata Pamekasan. Disamping itu, lembaga kursus tersebut merupakan inovasi baru bagi para santri yang berminat untuk bisa baca kitab, yang sangat efektif untuk para pemula serta tidak butuh waktu yang panjang (efesien) yaitu sekitar tiga bulan. Yang hal ini jarang ditemukan dilembaga-lembaga semacam pondok pesantren.
D. Sumber Data
Yang dimaksud sumber data adalah subjek dari mana data dapat diperoleh (Suharsimi Arikunto, 2006 : 129). Dan termasuk sumber data adalah pihak-pihak yang dapat memberikan keterangan data yang diperlukan.
Sumber data dalam penelitian ini dibagi menjadi dua yaitu sumber data utama dan sumber data penunjang. Sumber data utama (primer) adalah sumber data yang diperoleh secara langsung dari lapangan atau individu. Sumber data primer berupa data yang diperoleh dengan lisan maupun tulisan. Sedangkan sumber data penunjang (sekunder) adalah sumber data yang diambil dari literature terkait dengan penelitian (Hallen, 2005 : 92).
Lofland and lofland juga mengemukakan bahwa, sumber data utama dalam pengertian kualitatif adalah kata-kata dan tindakan. Selebihnya adalah data tambahan seperti dokumen dan lain-lain (Moleong, 2002 : 112).
Jadi sumber data utama (primer) dalam penelitian ini adalah sebagian guru/pembimbing yaitu Ust. Muhajir, S.Pd.I, Ust Izzat Fawaid dan ust. Abd. Adzim.HS, serta beberapa orang siswa (anggota kursus), diantaranya adalah saudara Saiful Kohir, sebagai wisuda pertama. Ach. Fauzan sebagai wisuda ke dua, dan Moh. Kholili sebagai calon wisuda.
Guru dan beberapa orang siswa yang dimaksud dijadikan sumber data utama karena mereka merupakan objek utama dalam pelaksanaan dalam proses penelitian dan proses belajar mengajar.
Dengan pernyataan mereka, peneliti bisa mengumpulkan data berdasarkan fokus penelitian yang hal itu akan lebih memperjelas tentang proses pembelajaran yang dilaksanakan di PRAKOM PP. Mambaul Ulum Bata-Bata. Data tersebut dirumuskan dalam bentuk trasnkrip wawancara dan catatan pengamatan lapangan.
Sedangkan sumber data penunjang (sekunder) dalam penelitian ini diperoleh melalui ketua di PRAKOM sekaligus pembina di M2KD, yaitu Ust. Bukhori Muslim dan wakilnya Ust. Ali mansur, S.Pd.I. Hal ini karena termasuk legalitas dalam penelitian yang terkait dengan pengelolaan PRAKOM dan metode yang diterapkannya. Begitu pula beberapa dokumentasi yang ada di PRAKOM PP. Mambaul Ulum Bata-Bata Pamekasan.
E. Prosedur Pengumpulan Data
Prosedur pengumpulan data yang dilakukan peneliti antara lain observasi, wawancara (interview), dan dokumentasi.
1. Observasi
Observasi adalah pengumpulan data yang dilakukan dengan mengadakan pengamatan yang dilengkapi dengan format atau blangko sebagai instrument dalam mencatat yang ingin diteliti (Suharsimi Arikunto, 2006 : 129)
Dalam penelitian ini, observasi atau pengamatan dilakukan untuk melihat tentang metode guru dan upaya-upaya yang dilakukan guru dengan aplikasi PAKEM dalam meningkatkan minat belajar siswa di PRAKOM PP. Mambaul Ulum Bata-Bata Pamekasan, peneliti bisa mengumpulkan data penelitian. Data-data yang peneliti lakukan mengenai metode guru yang dipakai dalam meningkatkan minat belajar siswa adalah, peneliti mengamati dan mengobservasi tentang standar kompetensi dan kompertensi dasar serta metode yang digunakannya dalam meningkatkan minat belajar di PRAKOM PP. Mambaul Ulum Bata-Bata Pamekasan. Hal ini peneliti lakukan agar lebih memfokuskan penelitian yang dilakukan.
Bentuk observasi ini adalah observasi non partisipan, dan pedoman observasi telah dipersiapkan oleh peneliti. Observasi dilakukan pada siswa dan guru. Dan data yang ingin dikumpulkan adalah penerapan PAKEM dalam meningkatkan minat belajar siswa.
Observasi

NO Objek Observasi Lingkup Observasi
1 Guru Proses Pembelajaran : SK & KD
Metode Yang Digunakan
Strategi Yang Digunakan
Kedisiplinan guru
Kompetensi guru
Keaktifan guru dalam mengajar

2 Siswa Proses belajar siswa
Keaktifan siswa ( bertanya dan absensi)
Tingkat Prestasi Siswa
KBM
Nilai siswa
Ketekunan siswa

2. Wawancara (Interview)
Wawancara dapat dipandang sebagai pengumpulan data dengan cara tanya yang dikerjakan dengan sistematis dan tentunya berlandaskan pada tujuan penelitian. Menurut Suharsimi Arikunto, wawancara adalah suatu dialog yang dilakukan oleh pewawancara untuk memperoleh informasi dari orang yang diwawancara (Suharsimi Arikunto, 2003 : 132). Jadi wawanacara merupakan percakapan yang dilakukan dengan melibatkan kedua belah pihak yaitu antara interviewer dan interviewee.
Untuk mengumpulkan data penelitian, peneliti melakukan wawancara dengan para guru, dan beberapa orang siswa di PRAKOM PP. Mambaul Ulum Bata-Bata Pamekasan. Jenis wawancara yang digunakan dalam penelitian ini adalah terbuka dan terstruktur, dengan pertimbangan situasi dan kondisi. Adapun data yang ingin dikumpulkan adalah tentang aplikasi pembelajaran PAKEM dalam meningkatkan minat belajar siswa.

3. Dokumentasi
Dokumentasi merupakan bahan tertulis atau yang tidak bertulis yang dibutuhkan peneliti dalam mengumpulkan data sehingga dapat dijadikan bukti kongkrit hasil penelitian yang diperoleh dilapangan. Dokumentasi adalah “Mencari data mengenai hal-hal atau variable yang berupa catatan, trasnkrip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen rapat, agenda dan sebagainya.(Suharsimi Arikunto, 2002: 206) seperti catatan Aplikasi PAKEM dan minat belajar siswa.
Dokumen adalah kumpulan data yang berbentuk tulisan yang bersumber dari buku, arsip resmi, catatan dan lain-lain yang bisa dijadikan rujukan dalam penelitian kualitatif. (J. Moleong, 2002:161)
Dalam penelitian ini, peneliti melakukan pencatatan dan dokumentasi yang berkaitan dengan lembaga penelitian dan objek penelitian, seperti aplikasi PAKEM, hal-hal yang harus diperhatikan dalam melaksanakan metode PAKEM, pengalaman guru, tingkatan akademik guru, hasil evaluasi, dan potret PRAKOM PP. Mambaul Bata-Bata. Hal ini dimaksud untuk menunjang validitas informasi atau data yang diperoleh peneliti.

F. Analisis Data
Analisis data merupakan proses pengaturan urutan data, mengorganisasikannya kedalam suatu pola kategori, dan satuan urutan data. Menurut Bogdan Biklen dalam Imron Arifin (1996:84) analisis data adalah “proses pelacakan dan pengaturan secara sistematik transkip wawancara, catatan lapangan, dan bahan-bahan lain yang dikumpulkan untuk meningkatkan pemahaman terhadap bahan-bahan tersebut agar dapat dipresentasikan semuanya kepada orang lain”.
Dalam penelitian ini analisis data yang dianalisis adalah data yang terhimpun dalam transkip wawancara dan catatan lapangan hasil observasi maupun dalam dokumen.
Adapun tahapan-tahapan yang dilakukan dalam analisis data, sebagai berikut :

1. Cheking (pengecekan)
Pengecekan data dilakukan dengan memeriksa kembali lembar transkip data wawancara, observasi dan dokumen yang ada, seperti yang diteliti peneliti. Tujuannya adalah untuk mengetahui tingkat kelengkapan data atau informasi yang diperlukan. Dalam hal ini data yang diambil dari guru dan siswa PRAKOM PP. Mambaul Ulum Bata-Bata Pamekasan.

2. Organizing (pengelompokan)
Pengelompokan data dilakukan dengan memilah-milah atau mengklasifikasikan data sesuai dengan arah fokus penelitian. Dalam hal ini data yang sudah terkumpul diurut sesuai dengan urutan fokus penelitian. Pengelompokan ini dilakukan untuk memudahkan peneliti dalam mengurutkan analisis data sesuai dengan fokus penelitian.

3. Coding (pemeberian kode)
Pemeberian kode yang dimaksud untuk menentukan data atau informasi berdasarkan teknik pengumpulan data, baik wawancara, observasi, maupun dokumentasi. Sehingga lebih memudahkan mengidentifikasi data yang peneliti gunakan dalam penelitian ini sebagaimana berikut:
Kode wawancara : (W1/S1/F)
Keterangan : W1 = Wawancara kesatu
: S1 = Sumber kesatu
: F = Faktual (menunjukkan sifat data)
Kode observasi : (O/T1/F)
Keterangan : O = Observasi
: T = Temuan kesatu
: F = Faktual
Kode dokumentasi : (D1/T1/F)
: D =Dokumentasi
: T1 = Temuan dokumentasi
: F = Faktual
G. Pengecekan Keabsahan Data
Untuk mengetahui keabsahan data-data yang diperoleh dari peneliti ini, maka peneliti berusaha mengeceknya secara cermat, sehingga penelitian ini tidak terkesan fiktif dan sia-sia. Dan untuk mengecek validitas keabsahan data temuan tersebut, maka peneliti merasa perlu mengemukakan teknik-teknik yang dilakukan peneliti dalam mengukur keabsahan temuan tersebut adalah sebagai berikut :
1. Ketekunan pengamatan, yaitu untuk menemukan ciri-ciri dan unsur-unsur dalam situasi yang sesuai dengan permasalahan yang sedang diamati seperti Aplikasi PAKEM Dalam Meningkatkan Minat Belajar Siswa Di PRAKOM PP. Mambaul Ulum Bata-Bata.
2. Triangulasi adalah merupakan pemeriksaan keabsahan data dengan memanfaatkan orang lain yang dianggap lebih tahu tentang permasalahan yang diamati, seperti Aplikasi PAKEM Dalam Meningkatkan Minat Belajar Siswa Di PRAKOM PP. Mambaul Ulum Bata-Bata.
3. Triangulasi peneliti tempuh dengan memanfatkan beberapa murid dan guru dan beberapa terkait dilembaga tersebut. Hal ini juga dapat dilakukan sekaligus dengan chek and recheck dari keabsahan data tersebut.
4. Uraian rinci, yaitu data yang diperoleh dipaparkan secara rinci sehingga pembaca dapat mengerti dan memahami temuan-temuan yang dihasilkan oleh peneliti seperti, Aalikasi PAKEM Dalam Meningkatkan minat Belajar Siswa Di PRAKOM PP. Mamabaul Ulam Bata-Bata Pamekasan.
H. Tahap-tahap Penelitian
Tahap-tahap pelaksanaan penelitian yang akan ditempuh peneliti adalah sebagai berikut :
a. Tahap pra lapangan, meliputi :
1) Rancangan penelitian
2) Memilih lapangan penelitian
3) Mengurus perizinan
4) Menjajaki lapangan
5) menilai keadaan lapangan
6) Memilih dan memanfaatkan informasi
7) Manyiapkan perlengkapan penelitian
b. Tahap masuk lapangan
Pada tahap ini, peneliti sudah memasuki lapangan dan berperan serta sambil mengumpulkan data, baik dengan mengadakan wawancara, mengadakan observasi maupun mengumpulkan observasi.
c. Tahap pelaporan
Tahapan penelitian ini meliputi penyalinan hasil wawancara dan pendiskripsiannya, penguraian temuan hasil observasi dan penganalisaan dokumentasi yang diperlukan.

BAB IV
LAPORAN DATA

Setelah membahas tentang metodologi dan jenis penelitian yang peneliti paparkan pada bab III, serta setalah peneliti mengemas perangkat yang akan peneliti gunakan dalam meneliti profesionalitas guru dalam meningkatkan prestasi belajar siswa, serta setelah memaparkan petunjuk umum dan teknis penelitian yang akan penelitilakukan, dan setelah peneliti lakukan dan mengamati, peneliti akan memaparkan temuan dari data-data yang penelitibutuhkan pada penelitian ini.
Kemudian untuk mengarahkan wawancara dalam penelitian ini kami kembangkan fokus penelitian tersebut menjadi beberapa parsial agar pembahasan dan pertanyaan tidak terkesan terlalu umum dan agar deskripsi dari jawaban informan menjadi semakin menyentuh pada segmen-segmen judul. Adapun paparan data dalam penelitian ini disesuaikan dengan sub-sub fokus penelitian tersebut, yang meliputi :
1. Aplikasi Pembelajaran PAKEM Dalam Meningkatkan Minat Belajar Siswa di PRAKOM PP. Mambaul Ulum Bata-Bata Pamekasan.
a. Data Hasil Observasi
Pada waktu peneliti mendatangi lokasi penelitian tepatnya pada tanggal 04 Juni 2012, yaitu Di lembaga kursus baca kitab (PRAKOM PP. Mambaul Ulum Bata-Bata) siswa telah masuk kelas masing-masing, demikian juga para pembimbing. Hal ini sesuai dengan pengamatan peneliti sebagai berikut :
Pada waktu peneliti datang ke lokasi penelitian dalam rangka pengumpulan data, keadaan pada saat itu nampak sepi, kebetulan pada saat itu para siswa sedang menerima bimbingan dari para guru pembimbing masing-masing. Yang nampak diluar hanya ketua dan wakil lembaga kursus tersebut sedang mengontrol jalannya proseses KBM.
Kemudian peneliti juga mengamati bagaimana strategi para guru mengajar, metode yang digunakan, pengelolaan kelompok, kelengkapan perangkat mengajar, penggunaan medianya, juga kondisi siswanya. Nampaknya guru tersebut tidak hanya fokus pada metode ceramah saja, akan tetapi guru memadukannya dengan metode yang lain sesuai dengan tujuan, karakteristik siswa, situasi, dan perbedaan pribadi siswa. Hal tersebut peneliti amati dengan seksama.
Selain itu, peneliti juga amati rencana pembelajaran yang dibuat guru dalam melaksanakan proses pembelajaran. Disana peneliti juga diperlihatkan standart kompetensi dan kompetensi dasar (SK & KD) sebagai rancangan target yang harus dikuasai oleh masing-masing peserta didik.
Pada waktu proses pembelajaran, peneliti juga melihat keadaan peserta didiknya, dan ketika guru tersebut menjelaskan dengan seksama, para peserta didik tersebut mendengarkan dengan antusias dan sesekali mereka bertanya kepada pembimbingnya mengenai hal-hal yang tidak dimengerti. Di samping itu para pembimbing mempersilahkan pada anak didiknya untuk menanyakan hal-hal yang belum jelas dan dimengerti. Sehingga terlihat dalam proses belajar mengajarnya guru dan siswanya sama-sama aktif. Selain terlihat aktif, yang terpenting adalah ketika siswa menerima pelajaran siswa sangat senang karena cara guru mengajarnya sangat kreatif dalam memancing pemahaman siswanya. (O/T1/F)
b. Data hasil interview
Ketika masuk ke kantor, tepatnya di kantor M2KD (Majelis Musyawarah Kutubuddiniyah) peneliti langsung memanggil salam dan kemudian menjumpai ketua PRAKOM, setelah berbincang-bincang sebentar dengan mereka. Kemudian peneliti mengutarakan tentang maksud kedatangan peneliti. Setelah itu peneliti dipersilahkan masuk oleh mereka, dan dipertemukan langsung dengan salah satu seorang guru pembimbing. Pada kesempatan itu peneliti mengutarakan kepada beliau sehubungan dengan rencana penelitian yang telah peneliti tetapkan sebelumnya. Guru tersebut langsung memahaminya karena sebelumnya sudah ada kontak antara peneliti dengan para guru di lembaga tempat penelitian. Namun sebelum peneliti bertanya kepada para guru yang mengajar di PRAKOM, peneliti bertanya kepada ketua PRAKOM kegiatan-kegiatan yang ada di tempat itu, dan beliau menyatakan sebagai berikut :
“ Kegiatan di PRAKOM itu dibagi dua : pertama kegiatan inti atau yang kami istilahkan kegiatan wajib. Yang kedua kegiatan ekstra. Dalam kegiatan inti tersebut, siswa harus mengikuti pemberian materi sekitar satu jam untuk pagi, yaitu jam 05.00-6.00. WIB dan satu jam untuk malam, yaitu jam 07.30.08.00. Adapun untuk kegiatan ekstra di PRAKOM tidak menentukan kapan waktunya. Yang penting setiap hari dan malamnya itu harus ada.” (W1/S1/F)
Untuk lebih lanjut dan memperjelas, peneliti menanyakan langsung kepada sebagian guru/pembimbing yang kebetulan belaiu sudah meluluskan sarjan S1-nya di STAI Al-Khairat Pamekasan yaitu USt. Muhajir, S.Pd.I, tentang metode yang di pakai oleh para guru/pembimbing ketika menyampaikan materi. Beliau menjelaskan sebagai berikut:
“ Sebelum saya menjawab tentang metode yang diterapakan di PRAKOM. Saya sedikit ingin menceritakan awal mula saya dan para pembimibing yang lain mengajar di sana. Pada waktu itu kami sempat kebingungan mengenai metode yang akan dipakai, kemudian ada semacam intruksi dari gus Thohir selaku inspirator adanya program PRAKOM untuk mendatangkan pakar pendidikan. Akhirnya kami mendatang salah satu dosen Al-Khairat selaku pakar pendidikan di Pamekasan, yaitu bapak Drs. Ach. Hidayat.M.Pd. Akhirnya beliau menjelaskan bahwa metode yang efektif untuk dipakai adalah Metode pembelajaran aktif, kreatif, efektif, menyenangkan (PAKEM). Beliau juga mengatakan metode itu adalah metode yang mana para guru tidak hanya menyampaikan isi dari materi saja, melainkan ada semacam fidback dari para siswa. Guru juga dituntut untuk masuk ke “dunia siswa” bukan siswa yang harus masuk ke “dunia” guru. Maka dengan demikian metode yang dipakai kami (para pembimbing) adalah metode yang aktif, kreatif serta menyenangkan dan tentunya hal itu tentu sangat efektif.” (W2/S2/F)

Ditanya lebih lanjut tentang “Apakah cukup efektif dengan metode seperti itu, beliau menyatakan :
“ Iya kami rasa metode itu sangat efektif, sebab dengan metode itu kami telah berhasil meluluskan 75% siswa yang mengikuti program di PRAKOM di setiap pendaftaran siswa baru. Di samping itu, setelah kami amati ternyata metode seperti itu memang cocok untuk diterapakan dalam pembelajaran kitab kuning, sebab selama ini, metode yang digunakan di lembaga-lembaga pembelajaran kitab kuning adalah sistem mendengarkan saja, bahkan kadang tidak dilengkapi sarana yang memadai.” (W2/S2/F)

Kemudian pada waktu itu juga menanyakan kepada guru yang disampingnya, kebetulan beliau masih kelas I Aliyah B di pondok pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata, tentang peningkatan minat belajar siswa setelah mengikuti proses pembelajaran yang dilakukan oleh para pembimbing di PRAKOM. Beliau menjawab :
“Al-Hamdulillah setelah mereka masuk dan lulus dari PRAKOM, kami amati para siswa sangat gemar untuk terus belajar kitab kuning. Sebab mereka sudah menguasai dasar-dasar ilmu gramatika bahasa Arab. Bukan itu saja yang terpenting adalah, pada waktu mereka mengikuti program di PRAKOM oleh para guru pembimbing mereka sudah dibiasakan untuk membaca kitab, yang semula mereka enggan karena menganggap sulit, namun ternyata oleh para pembimbing mereka berhasil diyakinkan bahwa belajar kitab itu tidak sesulit yang mereka bayangkan”. (W2/S2/F)

c. Data Hasil Dokumentasi
Sesuai dengan kenyataan yang peneliti temukan dilapangan, sebagai dokumentasi, maka akan peneliti lampirkan beberapa dokumen penting sebagaimana yang telah diungkapkan oleh sumber data diatas seperti, Nama-nama guru dan nama-nama wisudawan PRAKOM I, II, dan III. Kemudian peneliti juga akan lampirkan standart komptensi yang harus dicapai (SK) setra kompetensi dasarnya (KD) yang dibuat oleh Ketua dan para pembimbing PRAKOM. Yang hal ini peneliti lampirkan pada lampiran berikutnya.
2. Meningkatnya Minat Belajar Siswa Di PRAKOM PP. Mambaul Ulum Bata-Bata.
a. Data Hasil Observasi
Mengenai minat belajar siswa PRAKOM PP. Mambaul Ulum Bata-Bata, dalam proses pembelajaran dan perubahannya, pada kesempatan yang sama pula, sebagaimana hasil pengamatan peneliti ketika berlangsungnya proses pembelajaran yang dilaksanakan dengan metode PAKEM, ternyata proses pembelajaran berjalan aktif, efektif serta menyenangkan.
Siswa dengan giat, antusias dan merasa senang ketika mengikuti pembelajaran tersebut untuk mendapatkan hasil belajar yang optimal, hal ini sebagaimana dilakukan guru pembimbing dalam mengisi pembelajarannya, sehingga minat dalam belajar yang dihasilkan peserta didik dapat dikatakan semakin bertambah dan berkembang, ketika peneliti mengamati peserta didik yang menerima pelajaran yang di jelaskan oleh para guru/pembimbing dengan memakai berberapa metode yang digunakan, nampaknya siswa benar-benar fokus pada pembelajaran guru. Tidak hanya itu, mereka juga aktif dalam pembelajaran tersebut, yakni tidak hanya guru saja yang aktif melainkan siswa juga aktif dalam pembelajaran tersebut.
Pada waktu evaluasi praktik baca kitab, para siswa mampu menjawab semua materi yang telah diajarkan dan hasilnya, bahkan mereka mampu menerapkan hasil materi yang telah disampaikan para guru pembimbing secara maksimal. (O/T2/F)
b. Data Hasil Interview
Pada keesokan harinya tanggal 05 Juni 2012 peneliti mengadakan interview lagi dengan guru PRAKOM, dan kebetulan bertemu dengan guru yang lain yang baru diangkat, Ust Abdul Adzim peneliti langsung mewawancarainya yang berkaitan dengan tingkat prestasi belajar siswa PRAKOM selama ini, beliau menjawab sebagai berikut :
“Pada awal mulanya saya tidak percaya dengan program kilat ini, sebab disamping efesien (hanya tiga bulan) dan programnya pun tidak terlalu padat yaitu sekitar satu jam untuk pagi dan satu jam untuk malam. Lebih-lebih siswa yang masuk di PRAKOM rata-rata adalah anak yang sama sekali tidak pernah belajar gramatika bahasa arab. Namun ternyata program ini mampu membuahkan hasil yang maksimal. Terkait dengan itu juga, mayoritas para lulusan di PRAKOM sangat antusias untuk bisa bergabung di M2KD (majelis musyawarah kutubuddiniyah) yang mana dalam organisasi ini fokusnya adalah kajian kutubiyah yang notabene adalah mengkaji kitab-kitab yang tidak berharkat.” (W1/S1/F)

Kemudian pada waktu itu di tempat terpisah peneliti juga melakukan wawancara dengan Saiful Kohir yaitu siswa lulusan PRAKOM perdana yang sekarang telah bergabung di M2KD, yang mana latar belakangnya adalah siswa lulusan Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Pamekasan, yang sama sekali tidak pernah belajar ilmu nahwu dan sarraf alias nol dalam baca kitab. Ia ditanya tentang apa yang dirasakan ketika mengikuti proses pembelajaran yang dilaksanakan di PRAKOM. Ia menjawab:
“Yang saya rasakan setelah mengikuti pembelajaran di PRAKOM adalah “kesenangan” saya dalam menerima materi yang disampaikan oleh para pembimbing, sebab selama ini saya mengira belajar baca kitab itu sangatlah sulit dan rumit, lebih-lebih ilmu sarraf. Namun ternyata saya hanya dituntut untuk menghafalnya saja. Anehnya cara menghafal di PRAKOM itu sangatlah peraktis, contohnya adalah semua materi tasrif yang biasa digunakan sebagai materi itu dapat dinyanyikan. Yang hal itu mempermudah saya untuk menghafalnya.” (W1/S1/F)
Hal yang sama juga diungkapkan oleh saudara Kholili S.Pd.I siswa/peserta kursus dari luar yang sekarang menetap di PRAKOM. Ia mengatakan:
“Pembelajaran di PRAKOM saya rasa memang sangatlah efekti, itu dikarenakan cara menyampaikan guru pembimbing kepada para siswa sangatlah kreatif. Hal itu bisa dibuktikan dengan adanya lomba kosa kata (mufradat) yang sering ditugaskan kepada kami para siswa, yang kemudian disuruh mentasrif-nya. Dengan itu siswa akan cepat mengerti dari isi materi yang sedang disampaikan kepada kami para siswa.” (W1/S3/F)
Kemudian ditanya lebih lanjut peneliti menanakan tentang adakah peningkatan minat belajar siswa PRAKOM setelah menggunakan metode yang diterapakan oleh para pembimbing, ia menjawab:
“Untuk peningkatan minat belajar, saya rasa memang ada. Sebab pada kegiatan ekstra yang hal itu tidak wajib untuk kami ikuti, ternyata di sana kami sangat senang dan antusias bahkan sampai larut malam pun kadang kami masih belajar ditemani para pembimbing.” (W1/S4/F)
Berdasarkan hasil wawancara dan observasi di atas menunjukkan bahwa siswa di PRAKOM PP. Mambaul Ulum Bata-Bata betul-betul mendapatkan hasil minat belajar yang meningkat. Hal itu ditunjukkan dengan kedisiplinan guru dalam mengola proses pembelajaran, menggunakan metodologi yang tepat serta mengomunikasikan materi pelajaran sesuai dengan keadaan siswa, yang memudahkan siswa memahaminya, begitu juga siswa dalam mengikuti proses pembelajaran tersebut, seehingga sedikit demi sedikit prestasi belajar siswa semakin meningkat dikarenakan banyak motivasi, dorongan dan mengikuti evaluasi untuk mendapatkan hasil dan pelajaran yang memuaskan. Dengan demikian, akan memungkinkan terhadap tercapainya hasil belajar siswa yang optimal, karena sudah tercapai interaksi yang baik antara guru dan siswa dan di sebabkan keprofesional guru dalam menyampaikan materi pembelajaran.
c. Data Hasil Dokumentasi
Untuk lebih memperkuat hasil interview yang peneliti lakukan baik dengan guru maupun siswa, maka peneliti lampirkan nama-nama siswa yang tes masuk serta hasil tesnya dan nama-nama siswa yang berhasil diwisuda dan yang gagal diwisuda, sebagai bukti dokumentasi penelitian ini.
3. Faktor pendukung dan penghambat dalam penerapkan pembelajaran PAKEM dalam meningkatkan minat belajar siswa di PRAKOM PP. Mambaul Ulum Bata-Bata.
a. Data Hasil Observasi.
Mengenai faktor pendukung dan penghambat dalam menerapkan pembelajaran PAKEM dalam meningkatkan minat belajar siswa di PRAKOM PP. Mambaul Ulum Bata-Bata. Pada kesempatan itu pula, sebagaimana hasil pengamatan peneliti ialah dikarenakan lengkap tidaknya media yang digunakan, serta kesesuaian jumlah guru dan siswa.
Dan pada waktu peneliti mengamati lebih lanjut bahwa media yang dipakai di PRAKOM cukuplah memadai,  sebab ketika mengadakan pelatihan soal jawab, peneliti amati guru tidak lagi menggunakan papan tulis lagi, melainkan sudah menggunakan lapto lengkap dengan LCD proyektornya (O/T3/F)

b. Data Hasil Interview
Pada kesempatan itu pula, setelah mengadakan wawancara dengan sebagian guru dan murid di lembaga tempat penelitian, dalam sela-sela waktunya peneliti juga menyempatkan diri bertanya kepada salah satu guru yang sedang mengajar kegiatan ekstra Ust Abdullah Sachol tentang faktor pendukung dan penghambat pembelajaran PAKEM. Guru tersebut menjawab:
“ Mengenai kendala saya rasa memang ada, yaitu kurangnya media, namun hal itu dapat disiasati, sebab meskipun di sini hanya punya satu LCD proyektor, namun itu menurut saya sudah cukup. Sebab itu cuma dibutuhkan jika sudah selesai semua materi.” (W2/S1.F)
Pernyataan guru pembimbing tersebut diperkuat oleh pernyataan Ust Ali Mansur, S.Pd.I selaku wakil ketua di PRAKOM, mengenai factor pendukung dan penghambat, beliau menyatakan:
“Menurut saya yang paling urgen adalah sarana. Karena samapai saat ini di PRAKOM yang ada cuma satu laptop dan satu LCD proyektor. Andaikata kami punya satu lagi insyaallah tidak ada kendala. Sebab, akhir-akhir ini minat santri yang ingin mengikuti program tersebut tambah pesat. Yang semula kami hanya menerima “empat puluh” siswa, tapi akhirnya kami harus menerima lebih dari “seratus” siswa. sehingga tempat dan medianya pun tudak memadai. Namun sekali lagi itu dapat disiasati.” (W2/S2/F)
a. Data Hasil Dokmentasi
Untuk lebih memperkuat hasil interview yang peneliti lakukan baik dengan guru maupun siswa, maka peneliti lampirkan berkas-berkas yang dalam penelitian ini, sebagai bukti dokumentasi penelitian ini.

BAB V
PEMBAHASAN

Pada bab ini merupakan pembahasan dari apa yang telah ditemukan peneliti dilapangan baik dari hasil observasi, dokumentasi dan wawancara seperti yang telah dipaparkan pada Bab IV mengenai Aplikasi Pembelajaran PAKEM Dalam Meningkatkan minat Belajar Sisiwa di PRAKOM PP. Mambaul Ulum Bata-Bata Pamekasan. Kemudian dijustifikasikan pada teori-teori yang ada di Bab II.
1. Aplikasi Pembelajaran Dengan Pendekatan PAKEM Dalam Meningkatkan minat Belajar Siswa Di PRAKOM PP. Mambaul Ulum Bata-Bata Pamekasan.
Berdasarkan hasil penelitian, baik melalui observasi, dokumentasi, dan wawancara, bahwa penerapan metode PAKEM Dalam Upaya Meningkatkan minat belajar Siswa tidak lepas dari adanya perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi.
a. Perencanaan pembelajaran
“Keberhasilan pelaksanaan pembelajaran terpadu bergantung pada kesesuaian rencana yang dibuat dengan kondisi dan potensi peserta didik
yang meliputi: bakat, minat, kebutuhan, dan kemampuan”. Untuk menyusun perencanaan pembelajaran perlu dilakukan langkah-langkah pembelajaran (Depdiknas, 2008).
b. Pelaksanaan pembelajaran
Pelaksanaan pembelajaran yang efektif ialah dengan banyak mengikut sertakan siswa dalam proses pembelajaran dengan cara siswa diberi kesempatan untuk berintregrasi dengan kehidupan nyata. berdasarkan pengetahuan yang dimilikinya, diharapkan siswa dapat mengembangkan daya pikir dan kreatifitasnya. Oleh karena itu perencanaan pembelajaran yang baik akan mendukung suksesnya pelaksanaan pembelajaran.
c. Penilaian
Penilaian mencakup penilaian terhadap proses dan penilaian terhadap hasil belajar peserta didik. Penilaian proses belajar adalah upaya pemberian nilai terhadap kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh guru dan peserta didik. Penilaian hasil belajar adalah proses pemberian nilai terhadap hasil-hasil belajar yang dicapai dengan menggunakan kriteriakriteria tertentu. Kedua penilaian tersebut saling berkaitan satu dengan yang lainnya karena hasil belajar merupakan akibat dari suatu proses belajar.
Terkait dengan pelaksanaan pembelajaran aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan ini, tentunya ada beberapa hal yang harus diperhatikan agar dalam aplikasi pembelajarannya benar-benar tercipta suasana belajar yang efektif. Hal tersebut adalah:
1. Memahami sifat yang dimiliki siswa.
2. Mengenal siswa secara perorangan.
3. Memanfaatkan perilaku siswa dalam pengorganisasian pembelajaran.
4. Mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kreatif, dan kemampuan
memecahkan masalah.
5. Memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar.
6. Memberikan umpan balik yang baik untuk meningkatkan kegiatan
pembelajaran.
7. Membedakan antara aktif dan aktif mental. Banyak guru yang sudah
merasa puas bila menyaksikan para siswanya kelihatan sibuk bekerja
dan bergerak.
Dijelaskan PAKEM dapat digambarkan sebagai berikut:
1. Siswa terlibat dalam berbagai kegiatan yang mengembangkan pemahaman dan kemampuan mereka dengan penekanan pada mata pelajaran melalui perbuatan.
2. Guru menggunakan berbagai alat bantu dan berbagai cara dalammembangkitkan semangat, termasuk menggunakan lingkungan sebagai
sumber belajar untuk menjadikan pembelajaran menarik,menyenangkan, dan cocok bagi peserta didik.
3. Guru menerapkan sistem pembelajaran yang lebih kooperatif dan
interaktif, termasuk cara belajar kelompok.
4. Guru mendorong peserta didik untuk menemukan caranya sendiri
dalam pemecahan suatu masalah, untuk mengungkapkan gagasannya,
dan melibatkan peserta didik dalam menciptakan lingkungan belajar.
Upaya untuk meningkatkan prestasi belajar siswa sebagaimana di atas, harus selalu dilakukan oleh setiap guru dengan menggunakan metode pembelajaran yang kreatif, karena upaya-upaya tersebut sangat membantu terhadap keberhasilan belajar siswa. Mengingat untuk mewujudkan pembelajaran yang efektif sebagaimana yang diharapkan, maka diperlukan optimalisasi semua aspek kependidikan yang dalam hal ini terdapat 6 komponen yang sama-sama mempunyai peran andil dalam menentukan sukses dan tidaknya proses pembelajaran tersebut, yaitu, siswa, kurikulum, guru/pendidik, metode, sarana prasarana, dan lingkungan (Depag RI. 1995:04).
Dari beberapa komponen yan berpengaruh terhadap hasil belajar di atas, komponen metode pembelajaranlah yang lebih menentukan, sehingga dapat meningkatkan hasil proses belajar mengajar. Persoalannya banyak bergantung kepada guru dalam menyampaikan materi sebab guru adalah pengelola dan penyelenggara proses pembelajaran. Dalam konteks ini guru harus menunjukkan tingkat profesionalitas dalam menyampaikan materi pembelajaran.
Hal ini menunjukaan bahwa betapa eksisnya peran metode dalam dunia pendidikan, demikian pula dalam upaya membelajarkan siswa, guru dituntut memiliki berbagai cara agar pembelajaran disenangi sehingga ia mampu menciptakan kondisi belajar yang efektif.
2. Minat Belajar Siswa di PRAKOM PP. Mambaul Ulum Bata-Bata Pamekasan.
Setelah melakukan penelitian dan berdasarkan hasil penelitian dilapangan, baik melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, peneliti menemukan beberapa hal yang perlu diperhatikan agar siswa semakin meningkat minat belajarnya. Sebab berdasarkan hasil penelitian psikologi menunjukkan bahwa kurangnya minat belajar dapat mengakibatkan kurangnya rasa ketertarikan pada suatu bidang tertentu, bahkan dapat melahirkan sikap penolakan kepada guru (Slameto, 1995). Maka dari itu, Minat merupakan salah satu faktor pokok untuk meraih sukses dalam studi. Penelitian-penelitian di Amerika Serikat mengenai salah satu sebab utama dari kegagalan studi para pelajar menunjukkan bahwa penyebabnya adalah kekurangan minat. Dan hal itu disebabkan beberpa faktor, anarata lain:
a. Faktor Kurikulum
b. Faktor dari dalam Diri Siswa
c. Faktor Metode Mengajar
d. Faktor Guru
Maka dari itu hendaknya seorang pengajar harus mampu mensiasati agar menimbulkan minat belajar. Menurut (Sudarnoto, 1994), ada beberapa cara agar siswa meminati pelajarannya, yaitu dengan cara:
1. Mengarahkan perhatian pada tujuan yang hendak dicapai.
2. Mengenai unsur-unsur permainan dalam aktivitas belajar.
3. Merencanakan aktivitas belajar dan mengikuti rencana itu.
4. Pastikan tujuan belajar saat itu misalnya; menyelesaikan PR atau laporan.
5. Dapatkan kepuasan setelah menyelesaikan jadwal belajar.
6. Bersikaplah positif di dalam menghadapi kegiatan belajar.
7. Melatih kebebasan emosi selama belajar.
Adapun menurut Slameto (1995), faktor-faktor yang berpengaruh di atas dapat diatasi oleh guru dengan cara:
1. Penyajian materi yang dirancang secara sistematis, lebih praktis dan penyajiannya lebih berserni.
2. Memberikan rangsangan kepada siswa agar menaruh perhatian yang tinggi terhadap bidang studi yang sedang diajarkan.
3. Mengembangkan kebiasaan yang teratur
4. Meningkatkan kondisi fisik siswa.
5. Memepertahankan cita-cita dan aspirasi siswa.
6. Menyediakan sarana yang menunjang, yang memadai.]
3. Faktor pendukung dan penghambat pendekatan pembelajaran PAKEM dalam meningkatkan minat belajar siswa di PRAKOM PP. Mambaul Ulum Bata-Bata.
Sebagai temuan penelitian yang telah dipaparkan pada bab sebelumnya, bahwa minat belajar siswa yang ada di PRAKOM setelah diterapkannya pemebelajaran PAKEM bisa dikatakan cukup baik. Hal itu sebagaimana hasil dari wawancara yang peneliti sudah lakukan. Faktor pendorong dan penghambat dalam penerapkan PAKEM adalah: PAKEM merupakan strategi pembelajaran yang memberikan kesempatan pada siswa untuk termotivasi dalam pembelajaran, sehingga memperoleh hasil yang baik. Dengan model PAKEM, dapat mengurangi situasi dan kondisi model pembelajaran konvensional yang lebih menitik beratkan pada metode ceramah. Sedangkan faktor penghambatnya adalah: Belum dipahaminya model PAKEM oleh guru. Kurangnya memperoleh kesempatan memahami inovasi dalam pendidikan, termasuk penerapan model PAKEM. Kecenderungan diterapkannya model pembelajaran konvensional yang dipandang lebih mudah dan murah, dan karena kemampuan tingkat berfikir siswa yang beragam, jadi guru masih belum optimal dalam menerapkan PAKEM.
Adapun upaya yang harus dilakukan dilakukan untuk mengatasi hambatan adalah: Guru berusaha untuk menjalin komunikasi yang lebih akrab dengan seluruh siswa, memotivasi siswa agar tidak takut dalam mengemukakan pendapat, tidak takut untuk menjawab pertanyaan dari guru serta tidak takut disalahkan jika jawabannya salah. Guru membentuk kelompok belajar yang sesuai dengan model PAKEM agar pembelajaran lebih efektif, guru terus berupaya memotivasi siswa dengan memberikan penghargaan berupa poin atau ucapan selamat bagi siswa yang aktif memberikan pendapat, menjawab pertanyaan dan menanggapi pendapat temannya.
Berdasarkan temuan penelitian disarankan agar: (1) Sekolah lebih meningkatkan penerapan PAKEM secara berkesinambungan, (2) Guru dituntut untuk lebih dapat memahami karakteristik siswa yaitu dengan memahami sifat yang dimiliki anak dan memahami siswa secara perorangan serta tingkat kemampuan siswa agar PAKEM dapat diterima siswa dengan baik, (3) Dalam PAKEM, guru ataupun siswa diharapkan dapat bersama-sama berperan aktif dalam proses pembelajaran, dan 4) peneliti lain diharapkan dapat menjadikan penelitian ini sebagai bahan referensi sekaligus koreksi untuk penyempurnaan penelitian selanjutnya, sehingga penelitian ini dapat bermanfaat bagi pembaca.

BAB VI
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh dari subyek dan sumber data lainnya sesuai dengan fakta yang ada beserta sekilas pembahasannya, maka dapat diambil kesimpulan menyangkut aplikasi pembelajaran PAKEM dalam meningkatkan minta belajar siswa di PRAKOM PP. Mambaul Ulum Bata-Bata Pamekasan sebagai berikut:
1. APLIKASI PEMBELAJARAN PAKEM DALAM MENINGKATKAN MINAT BELAJAR SISWA DI PRAKOM PP. MAMBAUL ULUM BATA-BATA PAMEKASAN.
Penerapan metode PAKEM di PRAKOM PP. Mambaul Ulum Bata-Bata Pamekasan, menurut peneliti bisa dikatakan sangat baik, sehingga bisa dikatakan cukup efektif untuk dijadikan metode pembelajaran, hal itu terbukti dari hasil lulusannya yang telah diwisuda, serta efesiennya waktu yang ditempuh.
Dalam KBM, sebuah metode ternyata menentukan efektifitas suatu pembelajaran, bahkan kadang sebuah metode lebih urgen dari pada materi yang akan disampaikan, maka tidaklah heran jika dalam pribahasa Arab dikatan bahwa : الطريقة اهم من المادة (metode lebih penting dari pada materi). Sebab seperti apapun kemampuan yang dimiliki oleh seorang guru, namun ia tidak bisa mensiasati agar apa yang disampaikan, maka belajar mangajar tidak bisa dikatakan sukses.
2. MINAT BELAJAR SISWA DI PRAKOM PP. MAMBAUL ULUM BATA-BATA PAMEKASAN
Rendahnya mutu pendidikan yang terjadi sekarang ini merupakan cerminan dari ketidak profesioanalnya seorang guru dalam menyampaikan materi pembelajaran, yang hal itu berakibat kurangnya minat siswa dalam mempelajari materi yang sedang disajikan kepadanya. Jika para siswa sudah tidak berminat lagi dalam belajar, maka yang akan terjadi adalah kegagalan dalam menguasai sebuah materi. Jika demikian, maka pemebelajaran tidak ubahnya seperi halnya permainan.
Terkait dengan hal itu, maka di PRAKOM yang ditekankan adalah bagaimana para guru bisa menciptakan proses belajar mengajar yang efektif serta menyenangkan. Di sana para guru ditekankan agar dalam menyampaikan materi bisa kreatif sehingga bisa memancing keingin tahuan para siswa, sehingga timbulah sebuah minat untuk bersungguh-sungguh dalam mempelajari seatu pelajaran.
3. FAKTOR PENDUKUNG DAN PENGHAMBAT DALAM PENERAPAN PEMBELAJARAN PAKEM DALAM MENINGKATKAN MINAT BELAJAR SISWA DI PRAKOM PP. MAMBAUL ULUM BATA-BATA.
Setiap lembaga pendidikan tentunya pasti mempunyai kendala, baik itu muncul dari siswa, guru atau sarana prasarana yang tidak memadai. Dalam penerapan pembelajaran PAKEM, faktor yang mempengaruhi lancar tidaknya proses pembelajaran ialah lengkap tidaknya sarana atau media yang disediakan. Adapun di PRAKOM sendiri media yang digunakan bisa dikatakan cukup. Meskipun belum semaksimal mungkin.

B. SARAN-SARAN
1. Agar proses belajar mengajar efektif, maka guru hendakanya tidak hanya menyampaikan materi, melainkan mengikut sertakan peran siswa dalam pembelajaran, seperti mengajukan pertanyaan dan semisalnya. Sebagaimana metode tersebut dilakukan oleh Rasulullah saw. beliau sering mengajukan pertanyaan yang kemudian belaiu jawab sendiri untuk merangsang keinginan, dan menarik perhatian. Misalnya diceritakan dari Muadz. Rasul pernah bertanya kepadanya: Maukah engakau kuberitahukan tentang pangkal dan puncak segala perkara? Muadz menjawab: baiklah, Ya Rasulallah. Kemudian beliau pun menjawabnya sendiri. Ibnu Umar juga pernah meriwayatkan bahwa nabi saw. pernah bertanya kepada para sahabat tentang sebatang pohon yang tidak pernah rontok daunnya. Pohon tersebut merupakan perumpamaan orang mukmin. Beliau meminta agar para sahabat menebak nama pohon itu. Maka para sahabat menebak dengan menyebutkan nama-nama pohon yang ada di hutan. Namun, tidak seorang pun menjawab pertanyaan itu dengan tepat. Ibnu Umar berkata lebih lanjut, “Dalam hatiku terlintas bahwa itu adalah pohon kurma tapi entah apa sebabnya aku malu mengemukakannya.” Setelah semua tidak berhasil menjawab dengan tepat, mereka menyerah, “sebutkan Ya Rasulullah, pohon apakah itu?” beliau menjawab, “ Itulah pohon kurma”.
2. Dalam proses belajar mengajar hendaknya guru menggunakan istilah yang abstrak dalam bentuk konkret. Hal itu bertujuan agar para siswa cepat paham, sebagaimana hal itu dilakukan oleh Rasulullah, misalnya ketika Rasulullah mencontohkan ancaman bagi orang-orang yang meminta-minta untuk memperbanyak harta, beliau meminta bara api. Hal itu bertujuan agar para sahabat tidak melakukan profesi itu, mereka akan merasa takut jika langsung dicontohkan ke bara api.
3. Hendaknya guru menyesuaikan bahan dan kegiatan belajar dengan kemampuan siswa. Dengan artian mereka seorang guru bisa menyesuaikan















0 komentar: