RIDHOMU ADALAH KUNCI KESUKSESANKU DAN CINTAMU ADALAH PENGUAT IMANKU

اللهم اغفرلي ذنوبي ولوالدي وارحمهما كما ربياني صغيرا

BIARKAN MASA DEPAN TIDAK JELAS ASAL APA YANG KULAKUKAN HARI INI JELAS

ما مضى فات والمؤمل غيب ولك الساعة التي انت فيها

MY SWETT MEMORY IN THE LARANGAN BADUNG PAMEKASAN 2012-2013

وان فرق الأزمان بيني وبينكم فلا تنسواني وان طال يوم الفراق

JANGAN BERTANYA SIAPA AKU BERTANYALAH DARIMANA SAJA AKU

سوابق الهمم لا تخرق اسوار الاقدار

Kamis, 27 Oktober 2011

PENTINGNYA MENTRADISIKAN BAHTSUL MASAIL
(Dalam Rangka Meneruskan Detak Jantung Qolam Para Mujtahid)

“Al-Hanafy, al-Malikiy, as-Syafi’i dan Hambali memang telah tiada, namun buah pikir dan karya mereka terus siap iringi masa, dan mungkin kali ini giliran kita untuk menyebarkan dan menghidupkan kembali detak jantung qolam-qolam mereka” (M2KD).
Beberapa abad yang lalu, kita telah mempunyai beberapa tokoh yang nama-namanya sangat terkenal, bahkan sampai saat ini pun nama-nama mereka tetap harum dikalangan kaum muslimin, lebih-lebih di kalangan pesantren.  Pasalnya, mereka adalah tokoh yang sangat berjasa dalam kemajuan dan berkembangnya khazanah keilmuan umat Islam. Itu terbukti, berapa banyak ulama-ulama setelah mereka mencoba mengkaji kembali dan mengembangkan pemikiran mereka. Yang akhirnya ratusan-ratusan kitab pun dari masa kemasa berhasil ditulis sesuai pemikiran mazhab mereka.
Berangkat dari itu, akhirnya banyak pesantren-pesantren, khususnya yang terkenal sebagai pesantren salaf, berupaya melestarikan kajiannya terhadap kitab-kitab peninggalan para ulama salaf. Dan dan diantara salah satu upaya agar para santri tetap intens dalam kajiannya, akhirnya tidak jarang ditemukan di berbagai pesantren sering diadakan semacam batsul masail. Sebab cara itulah yang dianggap paling efektif untuk menumbuhkan kembali himmah (kesemangatan) para santri.
Selain itu, banyak hal yang dapat diambil dari adanya batsul masail. Diantaranya; Pertama: dengan diadakannya semacam bahtsul masail, seorang santri akan senantiasa tahu, sejauh manakah pemahaman dirinya terhadap suatu permasalahan yang sedang dikajinya. Sebab kadang seorang santri dalam mengkaji suatu permasalahan, ia hanya meninjau dari satu sisi saja. Tanpa memperhatikan sisi yang lain. Padahal, ketika ia mencoba untuk menjawabnya, ternyata masih banyak kelemahan-kelemahan yang perlu dibenahi. Dan itu tidak akan pernah didapatkan diluar bahtsul masail. Bahkan bisa dikatakan, seorang yang hanya belajar atau mengkaji suatu permasalahan dengan cara individual, cendrung menganggap bahwa permasalahan itu sepele dan dirinya telah benar. Kedua: Seorang santri ketika menyampaikan pendapatnya, dilatih untuk bisa meyakinkan para “lawananya” bahwa apa yang di sampai adalah sesuai dengan kajiannya. Sehingga, ia pun di tuntut untuk selalu kritis dan dapat mengaktualisasikan sebuah jawaban sesuai permasalahan.
Namun, tidak kalah pentingnya, dengan di adakannya semacam bahtsul masail antar pesantren, seorang santri dapat melakukan silaturrahmi dengan santri dari berbagai pesantren lain, sehingga sedikit banyak ia bisa saling tukar pengalaman.
Sehingga dengan demikian, adanya semacam acara bahtsul masail, penulis rasa sangat perlu untuk di adakan, sebagai motivator agar kesemangatan para santri dalam mengkaji ilmu-ilmu agama kembali lagi. Wallahu a’lamu binafsil amri wa haqiqatil haal

DENGAN QOLAM TELUSURI DUNIA JIHAD

“Maa kutiba qarra wa maa hufidhah farra” (setiap apa yang ditulis senantiasa akan abadi dan setiap apa yang dihafal sesuatu saat akan lepas).
Sebuah adigium yang pernah ditulis oleh Kholil bin Ahmad, rupanya bukanlah suatu hal yang sangat sederahana maknanya. Peran qolam atau sebuah tulisan ternyata mempunyai urgensi yang tersendiri yang tidak dimiliki lainnya, yaitu adanya orientasi “jaka panjang”. Tidak heran kenapa kita selalu ditekankan untuk selalu menulis dan menulis. Rupanya dengan sebuah tulisan kita akan bisa mengingat kembali apa yang telah kita lupakan dan sebagai antisipasi hilangnya apa yang telah diketahui sebelumnya. 
 Terkait dengan hal itu, historis ditulisnya alqur’an -dikarenakan mulai berkurangnya para penghafal-penghafal alqur’an (huffadz)- hingga terkodifiksinya sebuah mushaf di masa kepemimpinan Sayyidina Utsman Bin Affan, cukup untuk dijadikan tendensi betapa urgennya peran sebuah tulisan untuk generasi masa berikutnya. Dari masa terkodofikasinya mushaf alqur’an itulah, kemudian muncul para mufassir-mufassir, hingga akhirnya pada tahun sekitar 80 Hijriyah lahirlah seorang penyusun Mazhab yang pertama, yaitu Imam Abu Hanifah yang menjadi pelopor terbentuknya sebuah  mazhab, kemudian disusul oleh Imam Malik, Imam Syafi’i dan terakhir Imam Ahmad Bin Hambal. Yang mulai saat itu, para pengikut mereka mencoba menulis, mengomentari (men-syarahi ) pendapat-pendapat Imamnya, hingga akhirnya ratusan-ratusan judul kitab dari zaman ke zaman mereka tinggalkan untuk para generasi berikutnya.
Begitulah semangat jihad para mujtahid dalam mengkaji, menulis hingga tanpa terasa tulisan mereka pun menjadi sebuah karya yang dapat  dikenang sampai saat ini, dan tidak kalah pentingnya  tulisan mereka dapat dijadikan rujukan dari generasi ke generasi berikutnya. Mereka seakan tahu bahwa jihad melalui qolam itu lebih efektif dari pada hanya sekedar apologi. Namun, kadang kita hanya bisa takjub akan kegigihan mereka dalam mengkaji kemudian mengeksposnya dalam sebuah tulisan, sebab dari alat tulis yang mereka pakai hanyalah sebuah qolam sederhana, yang kadang tidak memadai. Tapi dengan semangat dan kesungguhan mereka akhirnya walau hanya bekal pena, mereka mampu menulis ratusan-ratusan kitab.
Lalu bagaimana dengan kita sekarang, yang secara fasilitas, kita sudah tercukupi bahkan lebih canggih dari pada masa mereka. Bukankh al-Hanafy, al-Maliky, as-Syafi’i dan al-Hambali   tidak pernah terdengar pernah memiliki sebuah komputer atau sebuah laptop. Dengan hal itu tidaklah heran, jika kita akhir-akhir ini dikatakan sebagai generasi-generasi yang hanya “Ramai dengan gelar namun sepi dengan karya”. Tentunya, demi menepis tuduhan itu, kita harus membuktikan bahwa kita mampu untuk melebihi mereka (para mujtahid), minimalnya kita mampu meneruskan jihad dan menghidupkan kembali detak-detak jantung qolam mereka. Dan tentunya itu tidak hanya berbentuk apologi, melainkan harus dibuktikan.
Dengan demikian, mari kita bangkit bersama. Tumbuhkan semangat jihad kita melalui tulisan. Ingatlah Al-hanafy, al-Malikiy, as-Syafi’i dan Hambali memang telah tiada, namun buah pikir dan karya mereka terus siap iringi masa, dan mungkin kali ini giliran kita untuk menyebarkan dan menghidupkan kembali detak jantung qolam-qolam mereka (M2KD).

Senin, 17 Oktober 2011

ESQ DAN URGENSINYA

-->
Kesopanan Lebih Tinggi Nilainya Daripada Kecerdasan
Sekilas, motto yang coba penulis jadikan judul di atas, memanglah sangat sederhana. Namun ketika penulis telaah, amati dan penulis  kaji, tentunya tidak demikian. Sebab motto tersebut mempunyai orientasi yang sangat dalam dan sangat subtansial.
Jauh sebelum seorang Ary Ginanjar mengeluarkan bukunya yang berjudul Emosional Spiritul Quesent. Motto di atas sudah ditemukan dan biasa dijadikan pijakan khususnya di pondok pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata. Katanya motto tersebut dibuat oleh pengasuh kedua yaitu (RKH. Ahmad Mahfudz Zayyadi). Yang mana beliau secara tidak langsung, memperingatkan kepada santri-santrinya agar lebih memprioritaskan kecerdasan emosianalnya daripada kecerdasan intlektualnya. Yang hal itu sesuai dengan apa yang dituangkan oleh Ary Ginanjar dalam kajiannya mengenai urgennya kecerdasan emosianal.
Banyak alasan kenapa kecerdasan emosianal lebih penting daripada kecerdasan intlektual. Diantranya; orang yang lebih cerdas emosianalnya, lebih peka dan menghargai orang lain, sebab dalam melakukan sesuatu, ia lebih cendrung menggunakan perasaannya. Yang hal itu bersumber dari lubuk hati yang paling dalam, sehingga ia dapat membedakan mana masalah yang dianggap sepele dan mana yang dianggap serius.  Beda halnya, dengan seseorang yang lebih mengandalkan otaknya, ia sering kali harus menyalahkan dan mengacuhkan orang lain, dikarenakan apa yang yang dilakukan oleh orang lain tidak sejalan dengan alur pemikirannya, dikarenakan tidak rasioanal atau tidak ilmiah dan tidak sesuai dengan pengetahuannya. Akibatnya ia kurang dihargai meski apa yang ia katakan logis dan berdasarkan argumen ilmiah.
Hal itu telah terbukti, berapa banyak para cendikiawan yang kecerdasannya di atas rata-rata, namun acapkali mereka dimata masyarakat tidak ada apa-apanya. Sehingga tidak heran, jika dalam bukunya yang berjudul Emosional Spiritual Quesent (ESQ) Ary Ginanjar mengatakan “Mayoritas orang-orang yang sukses ialah dari kalangan orang-rang yang cerdas dalam mengendalikan emosinya, bukan dari orang-orang yang cerdas dalam intlektualnya”.
Sejauh ini pula, dikenal dalam pondok pesantren adanya “barakah”. Barakah akan didapatkan jika, dalam masa pendidikannya dipondok pesantren seorang selalu mematuhi aturan pesantren dan selalu panut dengan apa yang diucapkan kiyai (madura tidak cangkolang). Sehingga kesuksesan seorang santripun seakan-akan, masih ditangguhkan terhadap tindakannya semasa berada dipondok pesantren. Jangan harap seorang santri ketika boyong dari pondoknya akan sukses, jika ia selalu melanggar undang-undang pesantren. Dari adanya hal itu seakan-akan kecerdasan intlektual tidak menjamin akan kesuksesan seorang santri, melainkan kesuksesan seorang santri tergantung dari perilakunya semasa ada dipondok.
Sehingga disini, penulis sengaja angkat judul di atas, dalam rangka mengoreksi ulang bagi para cendikiawan-cendikiawan yang mulai banyak menyisihkan dan menyepelehkan kecerdasan itu. Akibatnya banyak dari mereka yang hanya mengandalkan intlektualnya saja, namun   tetap saja kurang dihargai dimata manusia. Dari itu marilah kita jangan sampai hanya mengisi otak kita dengan berbagai macam ilmu saja, namun marilah kita juga mengisi hati kita dan menjaga sikap kita, lebih-lebih kita masih berada di pondok pesantren. Akhirnya, Wamaa ata mukhalifan lima madlo fababuhun naqlu kasuhtin wa ridlo. Wassalam..

TOLOK UKUR SEBUAH PESANTREN

-->
TOLOK UKUR KEMAJUAN SEBUAH PESANTREN
Sejauh ini, lembaga pesantren masih eksis mempertahankan tradisi lama, yaitu mengkaji karya-karya para ulama salafus shalih atau istilah pondoknyanya dikenal dengan kitab-kitab “gundul”. Hal tersebut telah menjadi ciri khas tersendiri bagi setiap pesantren pada umumnya. Banyak alasan kenapa hal tersebut sangat diprioritaskan di pendidikan pondok pesantren, diantaranya; karena visi dan misi utama pesantren ialah mencetak kader-kader umat yang tafaqquh fi ad-dien dan berakhlaqul karimah. Sehingga langkah pertama yang dilakukan pesantren biasanya menfokuskan kurikulumnya terlebih dahulu terhadap penguasaan ilmu gramatika bahasa arab, dengan tujuan agar dalam mendalami dan mengkaji ilmu dan hukum-hukum syariat dapat terealisasi secara maksimal. Sebab bagaimana mungkin seseorang bisa memahami apa yang ditinggalkan mereka (para ulama) jika ia sendiri belum  paham bahasa yang dieksposkan oleh mereka (para ulama)!
Tidak berhenti disitu saja, setelah mereka para santri bisa membaca kitab. Langkah selanjutnya  yang biasa dilakukan di pesantren ialah mengajari mereka ilmu-ilmu yang mendukung terhadap pemahaman dalam mengkaji al-qur’an dan al-hadist. Seperti ilmu balaghah, mantiq, dan lain semacamnya. Baru kemudian setelah itu, disajikanlah bermacam-macam disiplin ilmu sesuai minat dan fak mereka.
Itulah sebagian upaya yang dilakukan pondok pesantren selama ini, untuk menciptakan kader-kader umat yang tafaqquh fi ad-dien. Dengan hal itu pula, secara tidak langsung pesantren telah memberikan target terhadap semua santri yang terlibat di dalamnya. Targetnya adalah pengetahuan sekaligus penguasaan terhadap ilmu agama. Lebih spesifik lagi dalam bidang kutubiyah-nya. Dengan demikian, tidaklah heran jika ada sebuah pesantren yang mencoba menciptakan teori serta sistem baru, agar para santri kembali berminat untuk mempelajari ilmu-ilmu agama serta mengembalikan semangat baru untuk mempelajari kitab-kitab salaf. Yang hal itu menjadi target prioritas sebuah pesantren. Sebab spekulasi yang ada sampai saat ini, ialah pesantren merupakan satu-satunya pendidikan yang masih intens dalam mengembangkan kutubus salaf. Sehingga, jika ada orang tua yang memondokkan anaknya kepesantren dan setelah boyong dari pondok, ternyata anaknya tidak bisa bahasa inggris atau ahli dalam bidang biologi dan matematika misalnya, maka orang tua tidak akan merasa kecewa dan bisa memaklumi akan kekurangan anaknya. Beda halnya, jika seorang anak yang dimasukkan kepesantren ternyata setelah boyong tidak bisa baca kitab, maka orang tua akan merasa gagal dalam mendidiknya.
Lalu bagaimana sekarang jika ada sebuah pesantren yang sengaja merubah kurikulumnya dan mencoba mengesampingkan pelajaran kutubiah-nya, menganggap bahwa diera ini tidak lagi zamannya untuk belajar kitab kuning lagi, sebab itu tidak akan menjamin masa depannya! padahal itu merupakan kesalahan yang tidak pernah disadari, sehingga tidaklah heran jika akhir-akhir ini banyak pesantren yang kehilangan ruhnya. Namun bukan berarti ketika penulis katakan demikian, penulis harus divonis dari sebagian orang yang ta’assub (fanatik) terhadap ilmu-ilmu agama, sebab menurut penulis, seseorang yang hanya belajar agama tanpa diseimbangi ilmu-ilmu lainnya akan pincang,  tapi yang lebih parah lagi ialah seorang yang hanya bisa ilmu umum dan tidak paham ilmu agama, sebab orang itu akan senantiasa buta dan tidak akan tahu kemana ia harus langkahkan kakinya. Akhirnya penulis mengajak, marilah kita bangun dan temukan kembali eksistensi sebuah pesantren. Ingatlah tolok ukur kemajuan sebuah pesantren bukan dilihat dari banyaknya alumni yang telah dikeluarkan dan di wisuda, melainkan tolok ukur yang sebenarnya ialah dengan banyak tidaknya alumni yang telah menjadi panutan serta memberi manfaat terhadap orang lain, dan mampu menyelamatkn dirinya, baik di dunia lebih-lebih di akhirat.  Wallahu a’lamu binafsil amri wa haqiqatil haal.