PENTINGNYA
MENTRADISIKAN BAHTSUL MASAIL
(Dalam
Rangka Meneruskan Detak Jantung Qolam Para
Mujtahid)
“Al-Hanafy, al-Malikiy,
as-Syafi’i dan Hambali memang telah tiada, namun buah pikir dan karya mereka
terus siap iringi masa, dan mungkin kali ini giliran kita untuk menyebarkan dan
menghidupkan kembali detak jantung qolam-qolam mereka” (M2KD).
Beberapa abad yang lalu, kita
telah mempunyai beberapa tokoh yang nama-namanya sangat terkenal, bahkan sampai
saat ini pun nama-nama mereka tetap harum dikalangan kaum muslimin, lebih-lebih
di kalangan pesantren. Pasalnya, mereka
adalah tokoh yang sangat berjasa dalam kemajuan dan berkembangnya khazanah
keilmuan umat Islam. Itu terbukti, berapa banyak ulama-ulama setelah mereka mencoba
mengkaji kembali dan mengembangkan pemikiran mereka. Yang akhirnya
ratusan-ratusan kitab pun dari masa kemasa berhasil ditulis sesuai pemikiran
mazhab mereka.
Berangkat dari itu, akhirnya
banyak pesantren-pesantren, khususnya yang terkenal sebagai pesantren salaf,
berupaya melestarikan kajiannya terhadap kitab-kitab peninggalan para ulama
salaf. Dan dan diantara salah satu upaya agar para santri tetap intens dalam
kajiannya, akhirnya tidak jarang ditemukan di berbagai pesantren sering
diadakan semacam batsul masail. Sebab cara itulah yang dianggap paling efektif
untuk menumbuhkan kembali himmah (kesemangatan) para santri.
Selain itu, banyak hal yang
dapat diambil dari adanya batsul masail. Diantaranya; Pertama: dengan
diadakannya semacam bahtsul masail, seorang santri akan senantiasa tahu, sejauh
manakah pemahaman dirinya terhadap suatu permasalahan yang sedang dikajinya.
Sebab kadang seorang santri dalam mengkaji suatu permasalahan, ia hanya
meninjau dari satu sisi saja. Tanpa memperhatikan sisi yang lain. Padahal,
ketika ia mencoba untuk menjawabnya, ternyata masih banyak kelemahan-kelemahan
yang perlu dibenahi. Dan itu tidak akan pernah didapatkan diluar bahtsul
masail. Bahkan bisa dikatakan, seorang yang hanya belajar atau mengkaji suatu
permasalahan dengan cara individual, cendrung menganggap bahwa permasalahan itu
sepele dan dirinya telah benar. Kedua: Seorang santri ketika
menyampaikan pendapatnya, dilatih untuk bisa meyakinkan para “lawananya” bahwa
apa yang di sampai adalah sesuai dengan kajiannya. Sehingga, ia pun di tuntut
untuk selalu kritis dan dapat mengaktualisasikan sebuah jawaban sesuai
permasalahan.
Namun, tidak kalah pentingnya,
dengan di adakannya semacam bahtsul masail antar pesantren, seorang santri
dapat melakukan silaturrahmi dengan santri dari berbagai pesantren lain, sehingga
sedikit banyak ia bisa saling tukar pengalaman.
Sehingga dengan demikian,
adanya semacam acara bahtsul masail, penulis rasa sangat perlu untuk di adakan,
sebagai motivator agar kesemangatan para santri dalam mengkaji ilmu-ilmu agama
kembali lagi. Wallahu a’lamu binafsil amri wa haqiqatil haal









