Kamis, 27 Oktober 2011

PENTINGNYA MENTRADISIKAN BAHTSUL MASAIL
(Dalam Rangka Meneruskan Detak Jantung Qolam Para Mujtahid)

“Al-Hanafy, al-Malikiy, as-Syafi’i dan Hambali memang telah tiada, namun buah pikir dan karya mereka terus siap iringi masa, dan mungkin kali ini giliran kita untuk menyebarkan dan menghidupkan kembali detak jantung qolam-qolam mereka” (M2KD).
Beberapa abad yang lalu, kita telah mempunyai beberapa tokoh yang nama-namanya sangat terkenal, bahkan sampai saat ini pun nama-nama mereka tetap harum dikalangan kaum muslimin, lebih-lebih di kalangan pesantren.  Pasalnya, mereka adalah tokoh yang sangat berjasa dalam kemajuan dan berkembangnya khazanah keilmuan umat Islam. Itu terbukti, berapa banyak ulama-ulama setelah mereka mencoba mengkaji kembali dan mengembangkan pemikiran mereka. Yang akhirnya ratusan-ratusan kitab pun dari masa kemasa berhasil ditulis sesuai pemikiran mazhab mereka.
Berangkat dari itu, akhirnya banyak pesantren-pesantren, khususnya yang terkenal sebagai pesantren salaf, berupaya melestarikan kajiannya terhadap kitab-kitab peninggalan para ulama salaf. Dan dan diantara salah satu upaya agar para santri tetap intens dalam kajiannya, akhirnya tidak jarang ditemukan di berbagai pesantren sering diadakan semacam batsul masail. Sebab cara itulah yang dianggap paling efektif untuk menumbuhkan kembali himmah (kesemangatan) para santri.
Selain itu, banyak hal yang dapat diambil dari adanya batsul masail. Diantaranya; Pertama: dengan diadakannya semacam bahtsul masail, seorang santri akan senantiasa tahu, sejauh manakah pemahaman dirinya terhadap suatu permasalahan yang sedang dikajinya. Sebab kadang seorang santri dalam mengkaji suatu permasalahan, ia hanya meninjau dari satu sisi saja. Tanpa memperhatikan sisi yang lain. Padahal, ketika ia mencoba untuk menjawabnya, ternyata masih banyak kelemahan-kelemahan yang perlu dibenahi. Dan itu tidak akan pernah didapatkan diluar bahtsul masail. Bahkan bisa dikatakan, seorang yang hanya belajar atau mengkaji suatu permasalahan dengan cara individual, cendrung menganggap bahwa permasalahan itu sepele dan dirinya telah benar. Kedua: Seorang santri ketika menyampaikan pendapatnya, dilatih untuk bisa meyakinkan para “lawananya” bahwa apa yang di sampai adalah sesuai dengan kajiannya. Sehingga, ia pun di tuntut untuk selalu kritis dan dapat mengaktualisasikan sebuah jawaban sesuai permasalahan.
Namun, tidak kalah pentingnya, dengan di adakannya semacam bahtsul masail antar pesantren, seorang santri dapat melakukan silaturrahmi dengan santri dari berbagai pesantren lain, sehingga sedikit banyak ia bisa saling tukar pengalaman.
Sehingga dengan demikian, adanya semacam acara bahtsul masail, penulis rasa sangat perlu untuk di adakan, sebagai motivator agar kesemangatan para santri dalam mengkaji ilmu-ilmu agama kembali lagi. Wallahu a’lamu binafsil amri wa haqiqatil haal

0 komentar: