Senin, 17 Oktober 2011

TOLOK UKUR SEBUAH PESANTREN

-->

TOLOK UKUR KEMAJUAN SEBUAH PESANTREN
Sejauh ini, lembaga pesantren masih eksis mempertahankan tradisi lama, yaitu mengkaji karya-karya para ulama salafus shalih atau istilah pondoknyanya dikenal dengan kitab-kitab “gundul”. Hal tersebut telah menjadi ciri khas tersendiri bagi setiap pesantren pada umumnya. Banyak alasan kenapa hal tersebut sangat diprioritaskan di pendidikan pondok pesantren, diantaranya; karena visi dan misi utama pesantren ialah mencetak kader-kader umat yang tafaqquh fi ad-dien dan berakhlaqul karimah. Sehingga langkah pertama yang dilakukan pesantren biasanya menfokuskan kurikulumnya terlebih dahulu terhadap penguasaan ilmu gramatika bahasa arab, dengan tujuan agar dalam mendalami dan mengkaji ilmu dan hukum-hukum syariat dapat terealisasi secara maksimal. Sebab bagaimana mungkin seseorang bisa memahami apa yang ditinggalkan mereka (para ulama) jika ia sendiri belum  paham bahasa yang dieksposkan oleh mereka (para ulama)!
Tidak berhenti disitu saja, setelah mereka para santri bisa membaca kitab. Langkah selanjutnya  yang biasa dilakukan di pesantren ialah mengajari mereka ilmu-ilmu yang mendukung terhadap pemahaman dalam mengkaji al-qur’an dan al-hadist. Seperti ilmu balaghah, mantiq, dan lain semacamnya. Baru kemudian setelah itu, disajikanlah bermacam-macam disiplin ilmu sesuai minat dan fak mereka.
Itulah sebagian upaya yang dilakukan pondok pesantren selama ini, untuk menciptakan kader-kader umat yang tafaqquh fi ad-dien. Dengan hal itu pula, secara tidak langsung pesantren telah memberikan target terhadap semua santri yang terlibat di dalamnya. Targetnya adalah pengetahuan sekaligus penguasaan terhadap ilmu agama. Lebih spesifik lagi dalam bidang kutubiyah-nya. Dengan demikian, tidaklah heran jika ada sebuah pesantren yang mencoba menciptakan teori serta sistem baru, agar para santri kembali berminat untuk mempelajari ilmu-ilmu agama serta mengembalikan semangat baru untuk mempelajari kitab-kitab salaf. Yang hal itu menjadi target prioritas sebuah pesantren. Sebab spekulasi yang ada sampai saat ini, ialah pesantren merupakan satu-satunya pendidikan yang masih intens dalam mengembangkan kutubus salaf. Sehingga, jika ada orang tua yang memondokkan anaknya kepesantren dan setelah boyong dari pondok, ternyata anaknya tidak bisa bahasa inggris atau ahli dalam bidang biologi dan matematika misalnya, maka orang tua tidak akan merasa kecewa dan bisa memaklumi akan kekurangan anaknya. Beda halnya, jika seorang anak yang dimasukkan kepesantren ternyata setelah boyong tidak bisa baca kitab, maka orang tua akan merasa gagal dalam mendidiknya.
Lalu bagaimana sekarang jika ada sebuah pesantren yang sengaja merubah kurikulumnya dan mencoba mengesampingkan pelajaran kutubiah-nya, menganggap bahwa diera ini tidak lagi zamannya untuk belajar kitab kuning lagi, sebab itu tidak akan menjamin masa depannya! padahal itu merupakan kesalahan yang tidak pernah disadari, sehingga tidaklah heran jika akhir-akhir ini banyak pesantren yang kehilangan ruhnya. Namun bukan berarti ketika penulis katakan demikian, penulis harus divonis dari sebagian orang yang ta’assub (fanatik) terhadap ilmu-ilmu agama, sebab menurut penulis, seseorang yang hanya belajar agama tanpa diseimbangi ilmu-ilmu lainnya akan pincang,  tapi yang lebih parah lagi ialah seorang yang hanya bisa ilmu umum dan tidak paham ilmu agama, sebab orang itu akan senantiasa buta dan tidak akan tahu kemana ia harus langkahkan kakinya. Akhirnya penulis mengajak, marilah kita bangun dan temukan kembali eksistensi sebuah pesantren. Ingatlah tolok ukur kemajuan sebuah pesantren bukan dilihat dari banyaknya alumni yang telah dikeluarkan dan di wisuda, melainkan tolok ukur yang sebenarnya ialah dengan banyak tidaknya alumni yang telah menjadi panutan serta memberi manfaat terhadap orang lain, dan mampu menyelamatkn dirinya, baik di dunia lebih-lebih di akhirat.  Wallahu a’lamu binafsil amri wa haqiqatil haal.

0 komentar: