“Maa kutiba qarra wa maa hufidhah farra” (setiap apa yang ditulis senantiasa akan abadi dan setiap apa yang dihafal sesuatu saat akan lepas).
Sebuah adigium yang pernah ditulis oleh Kholil bin Ahmad, rupanya bukanlah suatu hal yang sangat sederahana maknanya. Peran qolam atau sebuah tulisan ternyata mempunyai urgensi yang tersendiri yang tidak dimiliki lainnya, yaitu adanya orientasi “jaka panjang”. Tidak heran kenapa kita selalu ditekankan untuk selalu menulis dan menulis. Rupanya dengan sebuah tulisan kita akan bisa mengingat kembali apa yang telah kita lupakan dan sebagai antisipasi hilangnya apa yang telah diketahui sebelumnya.
Terkait dengan hal itu, historis ditulisnya alqur’an -dikarenakan mulai berkurangnya para penghafal-penghafal alqur’an (huffadz)- hingga terkodifiksinya sebuah mushaf di masa kepemimpinan Sayyidina Utsman Bin Affan, cukup untuk dijadikan tendensi betapa urgennya peran sebuah tulisan untuk generasi masa berikutnya. Dari masa terkodofikasinya mushaf alqur’an itulah, kemudian muncul para mufassir-mufassir, hingga akhirnya pada tahun sekitar 80 Hijriyah lahirlah seorang penyusun Mazhab yang pertama, yaitu Imam Abu Hanifah yang menjadi pelopor terbentuknya sebuah mazhab, kemudian disusul oleh Imam Malik, Imam Syafi’i dan terakhir Imam Ahmad Bin Hambal. Yang mulai saat itu, para pengikut mereka mencoba menulis, mengomentari (men-syarahi ) pendapat-pendapat Imamnya, hingga akhirnya ratusan-ratusan judul kitab dari zaman ke zaman mereka tinggalkan untuk para generasi berikutnya.
Begitulah semangat jihad para mujtahid dalam mengkaji, menulis hingga tanpa terasa tulisan mereka pun menjadi sebuah karya yang dapat dikenang sampai saat ini, dan tidak kalah pentingnya tulisan mereka dapat dijadikan rujukan dari generasi ke generasi berikutnya. Mereka seakan tahu bahwa jihad melalui qolam itu lebih efektif dari pada hanya sekedar apologi. Namun, kadang kita hanya bisa takjub akan kegigihan mereka dalam mengkaji kemudian mengeksposnya dalam sebuah tulisan, sebab dari alat tulis yang mereka pakai hanyalah sebuah qolam sederhana, yang kadang tidak memadai. Tapi dengan semangat dan kesungguhan mereka akhirnya walau hanya bekal pena, mereka mampu menulis ratusan-ratusan kitab.
Lalu bagaimana dengan kita sekarang, yang secara fasilitas, kita sudah tercukupi bahkan lebih canggih dari pada masa mereka. Bukankh al-Hanafy, al-Maliky, as-Syafi’i dan al-Hambali tidak pernah terdengar pernah memiliki sebuah komputer atau sebuah laptop. Dengan hal itu tidaklah heran, jika kita akhir-akhir ini dikatakan sebagai generasi-generasi yang hanya “Ramai dengan gelar namun sepi dengan karya”. Tentunya, demi menepis tuduhan itu, kita harus membuktikan bahwa kita mampu untuk melebihi mereka (para mujtahid), minimalnya kita mampu meneruskan jihad dan menghidupkan kembali detak-detak jantung qolam mereka. Dan tentunya itu tidak hanya berbentuk apologi, melainkan harus dibuktikan.
Dengan demikian, mari kita bangkit bersama. Tumbuhkan semangat jihad kita melalui tulisan. Ingatlah Al-hanafy, al-Malikiy, as-Syafi’i dan Hambali memang telah tiada, namun buah pikir dan karya mereka terus siap iringi masa, dan mungkin kali ini giliran kita untuk menyebarkan dan menghidupkan kembali detak jantung qolam-qolam mereka (M2KD).






0 komentar:
Posting Komentar