RIDHOMU ADALAH KUNCI KESUKSESANKU DAN CINTAMU ADALAH PENGUAT IMANKU

اللهم اغفرلي ذنوبي ولوالدي وارحمهما كما ربياني صغيرا

BIARKAN MASA DEPAN TIDAK JELAS ASAL APA YANG KULAKUKAN HARI INI JELAS

ما مضى فات والمؤمل غيب ولك الساعة التي انت فيها

MY SWETT MEMORY IN THE LARANGAN BADUNG PAMEKASAN 2012-2013

وان فرق الأزمان بيني وبينكم فلا تنسواني وان طال يوم الفراق

JANGAN BERTANYA SIAPA AKU BERTANYALAH DARIMANA SAJA AKU

سوابق الهمم لا تخرق اسوار الاقدار

Sabtu, 23 Juli 2011

Cincin Dua Angsa



Suara speda motor menderu di depan rumahku “Pos...!” terdengar si pengendara berteriak lantang, aku bergegas memenuhi panggilan itu “Dari pelestina”, ucap Pak pos sebari memberikan sepecuk surat dan sebuah bungkusan besar.
“Abi...!!!”, pekik hati kecilku penuh haru biru menerima bingkisan ini.
“Ulfah.... Junda.... ini ada kiriman dari Abi!”, aku memanggil mujahidah dan mujahid kecilku. Tak lama kemudian mereka lari ke arahku dan berebut membuka bungkusan besar itu. Oh, ternyata bungkusan besar itu berisi tiga buah baju, untukku, untuk ulfah dan untuk junda.
“Ah...., Abi masih sempatnya memerhatikan kami ditengah desingan peluru Israel yang siap memnerkammu”, desah hatiku lirih. Ulfah dan Junda kulihat sangat girang menerima kiriman baju dari abinya. Mereka langsung mematuk-matukkan baju itu ke tubuhnya.
“Mi...lebaran ini Abi pulang Nggak ya...? Ulfah sudah rinduu... deh,”ucap si sulungku dengan wajah sendu.
“Tidak..., Ramadhan dan lebaran kali ini Abi  tidak bersama kita,” jawabku sambil coba tersenyum walau hati ini sangat serat dengan gelembung haru.
“Yaaa lebaran sekarang nggak sama Abi .....dong, Mi,” desah ulfah kecewa.
“Tak kenapa Abi nggak datang, kalau Ulfah rindu sama Abi, ingat-ingat saja pesan abi waktu itu, waktu mau pergi dulu. Kalau Ulfah melaksanakan pesan-pesan itu, pasti Allah akan menyampaikan rindu Ulfah sama Abi”, hiburku.
    Setelah mendengar ucapanku si sulung yang baru berusia empat tahun itu langsung menangis tergugu.
“Maafkan Ulfah ya...Bi, Ulfah janji nggak lagi-lagi .....,”ucap Ulfah di sela-sela tangisnya.
“Kenapa ulfah.....?” tanyaku seraya mengusap kepala mungilnya.
“Mi... ulfah suka bandel kalau di suruh Ummi pakai jilbab. Padahal Abi dulu bilang kalau Ulfah mau keluar harus pakai jilbab. Mi..., Abi  maafin Ulfah nggak ya.... Mi?” tanya sulungku lugu.
    Aku tak mampu menjawab pertanyaannya dengan kata-kata, aku takut air mata ini jatuh berderai-derai di depan mujahidah dan mujahid kecilku. Ini merupakan pantangan besar bagiku!!!

        *     *     *

Malam telah menghamparkan gelapnya yang pekat, anak-anakpun sudah terlelap. Aku beringsut dari tempat tidur untuk membuka dan membaca surat dari Mas Pri. Sengaja surat ini ku baca diam-diam agar bila air mataku ini tumpah ruah, mereka tak akan dapat menyaksikannya. Ku buka amplop biru ini dengan getar rindu.

                            Untuk Ummi Thayyibah

Dengan asma Allah ku kirim salam
Dari medan jihad di negri sebrang
Semoga kau di beri ketabahan
Sanpai datang waktu kala itu
Kau ikhlas melepas kepergianku
Beribu kenangan terasa sendu

Dengan asma Allah ku kirim salam
Dari medan jihad di negri sebrang
Semoga kau di beri ketabahan
Satu tahun kini hampir berlalu
Semoga aku segera bersamamu
Membawa beribu kenangan haru
Dari bumi yang menyejukkan kalbu

Ummi Thayyibah....selamat Ramadhan dan Iedul fitri, mudah-mudahan semakin Taqwa walau tidak di sertai Abi. Ini ada baju untuk Ummi dan Anak-anak, tapi Ummi jangan sedih jika baju ini mungkin yang terakhir yang Abi berikan, dan surat yang Ummi baca ini, surat terakhir yang Abi tulis.
“Mi...coba tolong periksa dalam amplop ini, Abi sertakan Cincin Dua Angsa milikmu.
    Ummi Thayyibah... suatu ketika selepas sholat isya, ada seorang teman datang ke Pondok tempat para Mujahid berkumpul, Ia Membawa bantuan dari Muslim Indonesia berupa uang dan Perhiasan. Ketika Ikhwan itu membuka kotak tempat Perhiasan, mata Abi langsung tertuju pada sebuah Cincin Dua Angsa yang rasanya Abi sudah sangat mengenalanya. Ah, Mi... benar saja di dalam Cincin itu tertulis nama kita berdua .....
    Umi Thayyibah, sejak awal menikah, Abi yakin bahwa Ummi tidakkan mengecewakan, telah kau berikan seluruh apa yang kau cintai pada Allah; Abi, Harta bendamu dan skarang Cincin Dua Angsa yang merupakan bukti Cinta kita berdua.
    Ah, Mi..., Abi harus banyak bersyukur mendapatkan Istri se Sholihat engkau. Mi...., berdoa ya! agar Allah mengukirkan nama kita di surga sana seperti yang terukir dalam Cincin Dua Angsa yang telah engkau Infaqkan.
    Mi..., Abi ingin menjadi seperti Rasululah terhadap Ummi, Beliau rela membeli sebuah kalung perhiasan yang pernah di miliki Sitti Fatimah, putrinya. dan kalung perhiasan itu merupakan pemberian Siti Khadijah ketika Sitti Fatimah melangsungkan akad nikah dengan Sayyidina Ali bin Abi Thalib. karena faktor ekonomi yang pas-pasan akhirnya terpaksa Kalung perhiasan itu di jual.
    Alhamdulillah walau dengan susah payah, Abi berhasil mengumpulkan uang untuk menebus Cincin Dua Angsa ini. Sekarang Abi berikan kembali Cincin ini untukmu, Ummi Thayyibahku.
    Ingat Mi..! Cincin ini sebagai Titipan bukan sebagai Mahar. Jadi Ummi harus izin dulu kalau mau menginfaqkannya.
    Mi..., sudah dulu ya, sampaikan salam rindu Abi dan salam jihad Abi buat Ulfah dan Junda.
“Dan apa saja harta yang baik kamu nafkahkan di jalan Allah, maka sesungguhnya Allah maha menetahui,...Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan, niscaya kamu akan di beri pahala yang cukup sedang kamu sedikitppun tidak akan di aniaya.(Qs al- baqoroh: ayat 272-273)

                                Yang mencintaimu  karena Allah Abu Ulfah
                                         
  
Baju  dan kertas biru gelora rindu ini kini kuyup sudah, derai air mata pun sudah tak mau lagi untuk di bendung. Perlahan tanganku menelusuri ujung amplop, dan... ku temukan sesuatu yang berbentuk bundar di sana. Ah, ku pakai Cincin itu dengan hati penuh debar-debar Cinta. Seperti dulu ketika pertama kalinya saat Mas Pri mencapkan... “Saya terima Nikahnya dan Kawinnya Thayyibah binti Shabri dengan maskawin Cincin Emas lima gram tunai...”.

*      *      *
Adzan subuh Telah berkumandang, bunyi takbir dan bedug menggema di udara. Iedul fitri kembali datang mengunjugi manusia-manusia suci selepas Ramadhan. Keluarga berkumpul dalam suka cita. Keriangan menggantung di mana-mana. Termasuk di rumahku, walau tanpa Mas Pri. Kedua orang Anakkupun di liputi kegembiraan sekeliling.
    Kubayangkan Mas Pri membaawa mereka ke kebun binatang, bercengkrama dengan junda dan ulfah sebagai mana kini tengah di lakukan oleh banyak keluarga lainnya, tapi aku menyadari, bahwa pengorbanan ini pasti akan mendapatkan balasan yang setimpal oleh Dzat yng tak pernah tidur.

*      *      *
Beberapa hari setelah Ied berlalu, Seorang Ikhwah datang memberi berita," Akhuna Pri telah gugur sebagai mujahid sejati tengah malam menjelang Iedul Fitri..."
    Rasanya hatiku hancur berkeping-keping, langit seakan runtuh menerpa diriku. Kabar itu menyayat di hatiku," Apkah ini hayalan atau memang kenyataan ", gumamku seakan tidak percaya pada apa yang aku dengar.

























 

Rabu, 20 Juli 2011

Gangguan Khusyu' Dalam Shalat

Khusyu' merupakan sebuah tuntutan dalam menjalankan semua ibadah kepada Allah, baik ibadah tersebut bersifat materi (مالية محضة/مالية غير محض) ataupun yang bersifat non materi (بدنية محضة). Dengan artian semua ibadah yang dilakukan oleh seorang hamba seyogianya harus berlandaskan harapan kepada Allah atau istilah pondoknya لله تعالى.
Khusyu' dalam menjalankan ibadah yang sifatnya materi maksudnya ialah keikhlasan terhadap harta yang telah dikeluarkan dan mengharap apa yang dikerjakannya semata-mata hanya untuk Allah. Adapun khusyu' dalam mengerjakan ibadah yang bersifat non materi seperti shalat misalnya ialah ingatnya hati kepada Allah serta ketengan jiwa dengan tidak memikirkan sesuatu apapun, baik yang berhubungan dengan duniawi ataupun ukhrawi. Dan khusyu' seperti itulah dinobatkan oleh al-Quran dengan  orang-orang yang beruntung. 

Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman,. (yaitu) orang-orang yang khusyu' dalam sembahyangnya (QS. Al-Mu'minuun:1-2)

Mengenai hal ini al-Ghazali dalam kitab ihya' ulumuddin turut menyinggung bahwasanya khusyu' sangat ditekankan dalam dalam shalat bahkan saking pentingnya peranan khusyu' ada sebagian ulama yang menjadikannya sebagai penentu terhdap sahnya shalat. Alasannya cukup sederhana karena diantara tujuan diperintahkannya shalat ialah agar hamba selalu ingat kepada Allah. Sebagaimana Allah berfirman ; 
Sesungguhnya aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, Maka sembahlah aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat aku.(QS.Thahaa:14)
Mungkin dari itu pula mengapa seorang yang shalat itu disunnahkan menghadap tembok atau dingding sebagai antisipasi agar orang lain tidak lewat di depannya atau dengan cara meletakkan sajadah dan semacamnya (سترة) sebagai tanda bahwa dirinya sedang melaksanakan shalat sehingga dengan itu ke-khusyua'-annya senantiasa terjaga. 
Namun satu hal yang kadang kita lupa dan sering menganggap remeh dengan melakukan tindakan yang dapat menghilangkan ke-khusyu'-an orang lain yang sedang mengerjakan shalat seperti sengaja mengganggunya atau sengaja lewat di depannya padahal kita sudah tahu bahwa ia sedang shalat. Bukankah berdzikir yang pada dasarnya itu diperbolehkan dan disunnahhkan namun jika mengganggu itu juga diharamkan. 
Lalu bagaimana sekarang dengan tindakan kita yang memang sengaja mengganggu konsentrasi orang yang shalat dan sengaja lewat didepannya. Padahal kita tahu bahwa hal tersebut diharamkan. Masihkan kita dapat ditolerin atas perbuatan kita?. Bukankah andai kita  tahu akan dosa  yang kita dapat,  niscaya kita akan menyesali perbuatan kita. bukankah pada suatu kesempatan nabi pernah mengatakan bahwa orang yang memang sengaja lewat di depan mushalli itu tak ubahnya seperti syaitan.
إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ إِلَى شَىْءٍ يَسْتُرُهُ مِنَ النَّاسِ ، فَأَرَادَ أَحَدٌ أَنْ يَجْتَازَ بَيْنَ يَدَيْهِ فَلْيَدْفَعْ فِى نَحْرِهِ ، فَإِنْ أَبَى فَلْيُقَاتِلْهُ فَإِنَّمَا هُوَ شَيْطَانٌ ». رَوَاهُ مُسْلِمٌ
Jika salah satudiantara kalian shalat dan sudah menutup dari manusia, maka jika ada seseorang hendak lewat di depanmu maka cegahlah ia, jika ia menolak maka bunuhlah maka sesungguhnya ia adalah syaitan (HR. Imam Muslim)
Akhirnya sebelum tulisan ini ditutup, penulis ingin menyampaikan sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari Muslim yang menjelaskan bahwa hal-hal yang kadang dianggap remeh oleh kita seprti mengganggu, dan sengaja melintas di depan mushalli tanpa alasan yang dapat dibenarkan,  ternyata itu semua diharamkan.
لو يعلم المار بين يدي المصلي ماذا عليه لكان أن يقف أربعين ، خيراً له من أن يمر بين يديه (رواه الشيخان)
Andai tahu seseorang yang lewat di depan orang yang shalat terhadap  apa (dosa) yang akan ia peroleh, niscaya ia akan memilih lebih baik diam selama empat puluh tahun dari pada lewat di depan orang yang shalat (HR. Imam Bukhari Muslim). 
Wallahu a'lam bi nafsil amri wa haqiqatil hal.

Ada Apa Dengan Bulan Maulid
Latar belakang historis perayaan maulid nabi ialah berasal dari tradisi yang dikenalkan oleh Abu Sa’id al-Kokburi, yang dikenal sebagai al-Malik al-Muazzam Muzaffar al-Din yang berkuasa di kota Ibril menyusul pengangkatannya oleh Salahuddin Al-Ayyubi pada 586H. Al-Kokburi terkenal murah hati dan telah mengeluarkan seribu dinar untuk merayakan maulid, dan mengajak sejumlah besar kalangan  masyarakat dari berbagai tempat guna mengikuti ritual tersebut, karena memang  pada masa itu lapisan masyarakat sudah banyak yang melupakan tokoh-tokoh pejuang Islam. Mereka lebih mengenal dan mengidolakan orang-orang non muslim.
Sungguh tradisi maulid nabi sampai sekarang masih mengakar kuat dalam kebudayaan lslam, lebih-lebih di kalangan masyarakat NU, meskipun perayaannya sendiri masih menjadi kontroversi. Di antaranya ketidaksepahaman yang terjadi antara kaum reformis dan kaum tradisionalis. Misalnya Moenawar Chalil dari golongan reformis yang menganggap perayaan tersebut adalah bidah dan ia menuduh kaum tradisionalis telah melestarikan bidah. Ia mengatakan perayaan maulid sebagai bidah dengan alasan bahwa perayaan tersebut tidak berasal dari dogma;  keberadaannya tidak didukung baik oleh al-Quran maupun hadis; dan  tidak dilakukan oleh nabi maupun ulama salaf. Ia juga menuduh kaum tradisionalis telah menggunakan hadis yang salah untuk membenarkan perayaan itu, karena tak satu pun kitab hadis otoritatif yang melaporkan hadis yang demikian. Hadis yang dimaksud itu berbunyi :
“ Barangsiapa yang merayakan hari kelahiranku maka kelak akan kuberi syafaat di hari kiamat.”
Dalam kitab yang berjudul Husnul Maqosid fi Amalil Maulid al-Suyuthi membela pembaharuan yang baik dan menolak karya al-Faqihani al-Maliki yang secara tegas menolak tradisi perayaan maulid nabi dan mengklasifikasikannya sebagai bidah mazmumah,  pendapatnya itu berdasarkan pada pendapat-pendapat al-Asqolany dan al-Haitamy. Begitu juga wakil ketua syuriyah NU Kiai Sahal Mahfud. Ia menjustifikasikan perayaan maulid nabi sebagai anjuran. Ia beralasan bahwa nabi memperingati hari kelahirannya dengan cara berpuasa. Beliau juga menyatakan, selagi perayaan maulid dijadikan hari kegembiraan dengan cara bersedekah dan silaturrahim maka perayaan maulid itu termasuk bidah yang dianjurkan (bid’ah hasanah).  
Jawaban terhadap pertanyaan apakah maulid itu salah atau benar? Kaum tradisionalis merujuk pada pendapat al-Suyuthi yang menyatakan bahwa selama perayaan maulid dijadikan tempat untuk menggembirakan masyarakat dengan memasukkan pembacaan al-Quran, sejarah nabi, dsb maka perayaan itu secara kategoris termasuk bidah hasanah. Tapi masalahnya adalah, berdasarkan realita yang terjadi di sebagian daerah, perayaan maulid hanya dijadikan tempat untuk berpesta pora, bermain musik, dan menyanyi yang di dalamnya terdapat hal-hal yang munkarat dan terlalu berlebihan.
Maka kalau memang seperti itu yang terjadi, masihkah perayaan tersebut dapat ditolerir dan dikategorikan ke dalam bidah hasanah? 
Maka dari itu kita sebagai umat Islam janganlah sekali-kali menjadikan perayaan maulid nabi sebagai ajang yang bukan-bukan. Jadikanlah perayaan maulid nabi sebagai ajang untuk mengingatkan kita kepada sang penyebar agama Islam, Nabi Muhammad saw. 

Selasa, 19 Juli 2011

I Love You Lora

“Bundaku tercinta pengasuh penuh suka, senyum bahagia kutemukan surga
Kusujud bersimpuh ditelapak kaki sebagai tanda wajib ku mengabdi
Bunda….bunda….bunda…”
Lagu itu seakakan menambah kesediahannya, entah kenapa malam itu perasaannya selalu diingatkan kepada sosok wanita yang ia sangat rindukan, padahal tidak seperti biasanya ia bersedih pada saat malam-malam seperti itu.
“ Wi kenapa kamu” pertanyaan yang ditujukan kepadanya membuat lamunannya bubar, iapun bangun dari posisinya yang terlentang “ enggak kok, aku enggak apa-apa” jawab Dewi “ kamu lagi sedih”? Tanya Putri “ enggak juga, aku cuma ingat ibu di rumah, habis lagunya sih sedih banget” lanjut Dewi “oo..ya udahlah Wi lupakan saja ibumu, buat apa ingat ibu terus, lagian beliau gak butuh diingat kok, tapi butuh doa. Apa untungnya kalau cuma diingat kalau beliau gak didoa’in. ya udah kita shalat isya’ dulu, sekarang yuk keburu mau doain ibu soalnya tadi habis maghrib aku gak sempat mendoakannya, biasa keburu dengerin musik mumpung ada kesempatan” ajak Putri pada Dewi. Dewi pun mengiyakan permintaan Putri. Smbari menggelengkan kepalanya, heran atas sikap dan kata-kata putri yang ceplas-ceplos tapi kadang masuk akal..
Jarum jam hampir menunjukkan pukul 10.00 wib, bertanda kalau sebenrtar lagi malam liburan akan ditutup. Mereka pun melangkahkan kakinya ketempat wudlu’ dan setelah selesai merekapun menuju mushallah. Malampun semakin larut, rembulan seakan ikut serta meramaikan suasana malam yang penuh pujian dan munajat kepada Rabbnya.
Selang berapa jam kemudian dewi dan putripun kembali kekamarnya. Trettt…..dewi membuka pintu kamar dengan hati-hati, tatapannya menuju teman-teman yang sedang asyik tidur dengan bermacam-macam ekspresi. Tanpa basa-basi mereka langsung menganti pakainnya kemudian menuju tempat tidur di sebelah pojok dekat dengan lemarinya masing-masing. “ wi udah dengar belum kalu putra kiyai besok mau datang kesini, katanya sih beliau udah lulus dan mau boyong”? tanya putri disela-sela kesenyapan. “Enggak kok, emangnya kamu tahu dari mana”? tadi dari ustadazah iis waktu di mushallah, katanya beliau besok udah mau boyong dari pondoknya, maklum beliaukan udah lama mondoknya bosan kali, atau beliau mau cari pendamping” husst…jangan-macam-macam put” ingat dewi pada putri “ ya udah tidur aja kalau gak mau dengar cerita aku. O iya wi kalau kamu liat beliua kamu pasti jatuh hati” udah put jangan macam-macam.
Malampun semakin pekat bertanda kalau malam sebentar lagi akan digantikan siang, walaupun sebenaranya ia tidak ingin cepat-cepat menuju keperaduan. Tapi itulah takdir yang ditentukan Tuhan kepada malam dan siang yang harus bergantian melaksanakan titah Tuhannya.


*****

Pagipun telah menampakkan wujudnya dengan penuh ceria dipagi buta itu. Para santri sibuk aktivitasnya masing-masing tak terkecuali dewi dan teman-teman sekamarnya, mereka sibk membersihkan kamrnya yang kotor “ put kamu pernah lihat putra kiyai yang katanya mau pulang sekarang itu ”? tanya dewi di tengah kesibukannya “ memangnya kenapa”? balas putri “ya enggak kenapa Cuma nanya, soalnya cerita kamu tadi malam serius banget” “ya wi kalau aku enggak pernah lihat ngapain aku cerita sama kamu. o iya wi kata ustadzah Iis kalau sudah nyampek katanya beliau mau ngisi kajian kitab al-hikam mau menggantikan kiyai sepuh di mushallah” berarti beliau pinter ya put” sambung dewi “ ya iyalah wi kalau enggak pinter mau dikemanakan pesantren ini” jawab putri meyakinkan dewi

****

Sore itu adalah sore pertama bagi lora ilzam menggantikan abahnya kiayai yahya sebagai khodimul ma’had yang biasa mengisi kajian kitab al-hikam di mushallah. Para santri putra pun sudah berkumpul memadati mushallah menunggu sebagiamana biasanya mereka menunggu kiyai sepuh. Tak terkecualipun di bagian putri, walaupun mereka hanya sebatas mendengar melalui suara sound sistem mushallah namun mereka sangat antusias ingin segera menyimak paparan lora ilzam yang masih muda namun keilmuannya tidak diragukan lagi. “ para santri-santri sekalian yang dimuliakan Allah. sebenaranya saya enggan menggantikan kiyai mengisi ta’lim ini, disamping karena saya belum pantas, saya juga merasa khawatir akan tidak bisa mengamalkan apa yang saya ajarkan nanti, namun palah daya sebab ini adalah titah dari beliu yang harus saya terima. Lagi pula beliau telah memantapkan hati saya bahwa kata beliau “antara apa yang kita pelajari dan pengamalannya itu dua hal yang sifatnya berbeda, namun alangkah bijaknya jika setelah dipelajari itu diamalkan dan insyaallah ikamu bisa melakukannya zam” itulah sebagai pengantar ilzam sebelum memulai ta’limnya. Lebih lanjut beliau menjelaskan “bahwa kitab yang akan kita pelajari merupakan bagian dari kitab-kitab tasawuf yang ada. Kitab ini merupakan karya seorang tokoh sufi terkenal ibnu ‘athoillah as-sakandari. Dan kitab-kitab ini sangatlah penting untuk kita kaji, lebih-lebih akahir-akhir ini dimana kebanyakan dari kita sudah menyimpang dan lebih mementingkan keduniaan”. Dikesempatan itu ia juga tidak melewatkat dengan bercerita tentang tokoh-tokoh sufi lainnya seperti imam Ghazali, Syaikh Abdul Qadir Jailani. Dan tak kalah serunya saat ia bercerita tentang tokoh sufi perempuan yang bernama Robiah al-adawiah yang hidup pada abad ke2 ia menjelasakan panjang lebar mengenai kehidupan beliau, bahkan di akhir ceritanya ia mengatakan bahwa ia kagum dengan perempuan itu dan ia pun mengatakan kelak andaikata ia menikah semoga ia dikaruniai pendamping seperti itu. Setelah bercerita panjang lebar mengenai para tokoh-tokoh sufi ia pun menutup ta’lim di sore itu dengan pembacaan wallahu a’lam fi nafsil amri wa haqiqotil hal.
Para santripun berdo’a dan turun satu persatu setelah menunggu loranya beranjak menuju dhalem dan ada sebagian yang masih setia duduk menghadap kiblat sambil menunggu adzan maghrib dikomandangkan.

****

Di bagian putri Dewi pun seakan-akan kagum setelah mendengar paparan dari loranya, ia pun sekarang yakin akan cerita-cerita putri temannya tentang sosok dan keilmuan loranya, bahkan dewi merasa penasaran dan seakan-akan ia ingin sesekali melihatnya, bahkan ia merasa terkejut ketika diwaktu mengaji loranya menyebut nama Robiah al-adawiyah, yang hal itu secara kebetulan sama dengan nama aslinya.
Mulai saat itu dewi pun tahu bahwa sebenarnya nama dirinya adalah nama yang pernah tekenal yang dimilki seorang sufi perempuan, sehingga ia pun penasaran dan ingin menanyakan lebih lanjut tentang kehdupan robiah al-adawiah. Walaupun dalam hatinya pesimis niatnya tidak akan kesampaian. Tapi itulah takdir Tuhan yang bisa terjadi kapanpun untuk siapa pun dan di mana pun dan hal itu bukanlah suatu kebetulan. Di pagi itu di papan informasi bagian putri terpampang penguman :
“kepada setiap santri aliyah putri yang hendak mengikuti kajian fiqh, harap siap-siap memenuhi syarat-syarat dibawah ini:
membeli kitab fathu al-muin
niat yang tulus
siap mengamalkan
siap mengaji sampai selesai

setelah membaca innnformasi tersebut, dewipun gembira karenan ia merasa mempunyai kesempatan untuk bertemu. Iapun mempersiapkan apa yanga menjadi keperluanya. Malam itu sehabis sholat maghrib santrri putri kelas XI berkunpul bersiap mengikuti kajian kitab yang akan diasuh oleh lora zain. Denagan menunggu sebentar akhirnya ta’limpun dimualai, dewipun menyimaknya dengan sungguh-sungguh apa yang dipaparkan oleh loranya itu. Kemudian setelah lora zain memaparkan isi kitab fathul mu’in ia hendak mengakhiri, namun, sebelumnya ia meminta kepada para santri yang mengaji untuk menanyakan permasalahan yang bersangkutan dengan apa yang di paparkanya, para santripun diam, mungkin mereka canggung untuk menayakanya. Tapi tidaklah untuk dewi. Ia mengacungkan tanganya. Melihat hal itu, lora zain mempersilahkan dewi.
“ia silahkan” katanya…
“sebelumnaya mohon maaf, karena keluar dari pembahasan ini. Sebab ini berangkat dari rasa penasaran saya. Dan itu dimulai waktu kemarin ketika sampean menjelaskan tentang tokoh sufi perempuan yang bernama Robi’ah al-adewiyah. Jadi berkenan sampean menjelaskan ulang mengenai hal itu, terima kasih.” Ucapnya lembut.

Ssmenjak pertemuan itu, kekaguman dewi berubah menjadi rasa yang ia ssendiri tidak mengerti, bahkan lama-kelamaan sesakan bayangan seorang lora menghantuinya, bahkan dalam hayalnya. Kadang terlintas keinginanya untuk mengucakan satu kalimat “ I Love You Lora” nammun ketika ia sadar akan setatusnya iapun membuang jauh-jauh perasaan itu, dan menganggap itu hanyalah suatu perasaan yangn tidak normal yang semestinya. Ia tidak miliki. Sungguh aneh bagi dewi ketika ia tambah sadar akan statusnya, malah seakan-akan perasaan itu merongrong, seakan memaksa untuk mengungkapkan perasaanyua.

BERSAMBUNG....Tunggu di kesempatan kedua

Jumat, 01 Juli 2011

Kaifa Haluk

Teruntuk Calon Istriku:
Jamilatun Sholihah
Asslamu Alaikum Warrohmah…
Bertahun-tahun sudah aku berkelana tapaki jalan-jalan kehidupanku demi sebuah harapan. lama sudah aku mengasing tegarkan hati demi sebuah cita masa depan. Terkadang aku pun sudah merasa tak tahan lagi dan ingin segera diri terbebaskan namun aku pun sadar ini hanya bagian dari perjalanan yang akan berakhir jua nanti dipenghujung jalan. Kadang harus aku lalui lorong-lorong sunyi-sepi. Kadang harus aku injak kerikil-kerikil tajam dan sedikit duri dan kadang jua aku seakan kehilangan arah, kehabisan tenaga namun lagi-lagi aku harus sadarkan diri bahwa ini adalah bagian dari sandiwara yang aku perankan sendiri. Dan kini… aku sudah hampir sampai dipenghujung jalan yang kini aku jalani.

Calaon istriku Jamilatun Sholihah…
Kaifa haluk…?
Maaf, jika mungkin diwaktu-waktu kemarin aku tidak begitu menghiraukanmu. Jika terkesan aku tidak pedulikanmu dan jika kelihatannya aku hanya pentingkan diriku. Maaf…, itu pun jua aku lakukan  untukmu. Aku masih harus lalui lorong-lorong sana demi sebuah harapan masa depan aku denganmu. Ya…demi aku, kamu dan semua awlad sholih-sholihah aku denganmu.

Calon istriku Jamilatun Sholihah…
Hari-hari kemarin bukan aku buta, tapi aku sengaja enggan untuk menlirik, karena aku tak ingin perhatianku tercecer di jalan sana, pada orang-orang sana. Perhatianku hanya untukmu... Hari-hari kemarin bukan aku tak punya cinta, tapi aku sengaja mengurung rasa, karena aku tak ingin cintaku terbagi di lorong sana, pada orang-orang disana, cintaku hanya untukmu… Aku ingin memberikan yang seutuhnya padamu, cintaku…, rasaku… seutuhnya untukmu dan aku berharap kau pun jua begitu.

Calon istriku Jamilatun Sholihah…
Tenanglah…kini aku sudah hampir sampai dipenghujung jalan,  tersenyumlah… sebentar lagi aku akan datang dan menemuimu. Aku akan menjemputmu dan lalui jalan dan lorong-lorong berikutnya bersamamu. Akan aku berikan semua perhatian yang kemarin belum pernah kau dapatkan dariku, akan kuberikan semua cinta dan kasih sayang yang selama ini belum pernah kau rasakan dariku dan akan kuberikan semua apa yang belum pernah kau dapatkan dariku. Ya…Semuanya.

Calon istriku Jamilatun Sholihah…
Tinggal sebentar lagi…aku akan datang, sambutlah dan persiapkan semuanya, terimalah…apa yang akan aku bawakan dari perjalananku disana, semuanya…, seadanya… Sebab aku pun jua akan menerimamu sepenuhnya…seadanya… Lalu mungkin takkan kutarik semua itu lagi selamanya.
Ya… Kita akan lalui bersama… Kita rangkai bersama cerita-cerita indah berikutnya, kita lukis bersama pemandangan-pemandangan indah yang ada di jalan sana dan kita tembus dan susuri bersama jika mungkin ada lorong-lorong buntu disana, berikutnya… Genggamlah terus dengan erat tanganku…Sebab aku pun kan berusaha sekuatku untuk menggenggam erat genggamanmu, sekuat kita…

Calon istriku Jamilatun Sholihah…
Jika diperjalanan kita nanti sepoi angin telah buatmu senang tersenyumlah padaku, karena akulah orang yang tak akan pernah bosan dengan senyummu. Jika nanti kicau burung telah buatmu bahagia berikanlah tawa riangmu padaku, karena akulah orang yang tak akan pernah bising oleh gelak tawamu dan jika mungkin nanti duri-duri kecil telah menusuk dan melukai telapak kakimu mengadu dan menangislah padaku, karena aku jualah orang yang akan mendengarkanmu, mengusap air matamu, membiarkanmu menangis berpangku serta membalut luka-lukamu, karena akulah orang yang kini datang hanya untukmu, menjemputmu lalu membawamu berdiam bersamaku juga bersama awlad sholih-sholihah aku denganmu.
Dan jika nyatanya selama ini kau ditetapkan oleh-Nya untuk menantiku, maka memohonlah kepada-Nya agar dikehidupan yang akan datang nati kau tak lagi ditetapkan untuk menanti. Jika nyatanya selama ini kita ditetapkan oleh-Nya untuk terpisah sebelum bersama, maka memohonlah pada-Nya agar kelak dikehidupan yang akan datang kita tidak lagi ditetapkan untuk terpisah lagi. Ya…Kita mohon kepa-Nya agar aku, engkau dan semua awlad kita tidak berpisah dikehidupan kini hingga ajal tiba nanti, dan kehidupan nanti setelah semuanya dibangkitkan kembali. Selalu bersama, di dalam rahmat-Nya, ridlo-Nya…
Tsummassalamu Alaikum Warrohmah..
(Disunting dari tulisan Ad-Dlo'ify)