Selasa, 19 Juli 2011

I Love You Lora

“Bundaku tercinta pengasuh penuh suka, senyum bahagia kutemukan surga
Kusujud bersimpuh ditelapak kaki sebagai tanda wajib ku mengabdi
Bunda….bunda….bunda…”
Lagu itu seakakan menambah kesediahannya, entah kenapa malam itu perasaannya selalu diingatkan kepada sosok wanita yang ia sangat rindukan, padahal tidak seperti biasanya ia bersedih pada saat malam-malam seperti itu.
“ Wi kenapa kamu” pertanyaan yang ditujukan kepadanya membuat lamunannya bubar, iapun bangun dari posisinya yang terlentang “ enggak kok, aku enggak apa-apa” jawab Dewi “ kamu lagi sedih”? Tanya Putri “ enggak juga, aku cuma ingat ibu di rumah, habis lagunya sih sedih banget” lanjut Dewi “oo..ya udahlah Wi lupakan saja ibumu, buat apa ingat ibu terus, lagian beliau gak butuh diingat kok, tapi butuh doa. Apa untungnya kalau cuma diingat kalau beliau gak didoa’in. ya udah kita shalat isya’ dulu, sekarang yuk keburu mau doain ibu soalnya tadi habis maghrib aku gak sempat mendoakannya, biasa keburu dengerin musik mumpung ada kesempatan” ajak Putri pada Dewi. Dewi pun mengiyakan permintaan Putri. Smbari menggelengkan kepalanya, heran atas sikap dan kata-kata putri yang ceplas-ceplos tapi kadang masuk akal..
Jarum jam hampir menunjukkan pukul 10.00 wib, bertanda kalau sebenrtar lagi malam liburan akan ditutup. Mereka pun melangkahkan kakinya ketempat wudlu’ dan setelah selesai merekapun menuju mushallah. Malampun semakin larut, rembulan seakan ikut serta meramaikan suasana malam yang penuh pujian dan munajat kepada Rabbnya.
Selang berapa jam kemudian dewi dan putripun kembali kekamarnya. Trettt…..dewi membuka pintu kamar dengan hati-hati, tatapannya menuju teman-teman yang sedang asyik tidur dengan bermacam-macam ekspresi. Tanpa basa-basi mereka langsung menganti pakainnya kemudian menuju tempat tidur di sebelah pojok dekat dengan lemarinya masing-masing. “ wi udah dengar belum kalu putra kiyai besok mau datang kesini, katanya sih beliau udah lulus dan mau boyong”? tanya putri disela-sela kesenyapan. “Enggak kok, emangnya kamu tahu dari mana”? tadi dari ustadazah iis waktu di mushallah, katanya beliau besok udah mau boyong dari pondoknya, maklum beliaukan udah lama mondoknya bosan kali, atau beliau mau cari pendamping” husst…jangan-macam-macam put” ingat dewi pada putri “ ya udah tidur aja kalau gak mau dengar cerita aku. O iya wi kalau kamu liat beliua kamu pasti jatuh hati” udah put jangan macam-macam.
Malampun semakin pekat bertanda kalau malam sebentar lagi akan digantikan siang, walaupun sebenaranya ia tidak ingin cepat-cepat menuju keperaduan. Tapi itulah takdir yang ditentukan Tuhan kepada malam dan siang yang harus bergantian melaksanakan titah Tuhannya.


*****

Pagipun telah menampakkan wujudnya dengan penuh ceria dipagi buta itu. Para santri sibuk aktivitasnya masing-masing tak terkecuali dewi dan teman-teman sekamarnya, mereka sibk membersihkan kamrnya yang kotor “ put kamu pernah lihat putra kiyai yang katanya mau pulang sekarang itu ”? tanya dewi di tengah kesibukannya “ memangnya kenapa”? balas putri “ya enggak kenapa Cuma nanya, soalnya cerita kamu tadi malam serius banget” “ya wi kalau aku enggak pernah lihat ngapain aku cerita sama kamu. o iya wi kata ustadzah Iis kalau sudah nyampek katanya beliau mau ngisi kajian kitab al-hikam mau menggantikan kiyai sepuh di mushallah” berarti beliau pinter ya put” sambung dewi “ ya iyalah wi kalau enggak pinter mau dikemanakan pesantren ini” jawab putri meyakinkan dewi

****

Sore itu adalah sore pertama bagi lora ilzam menggantikan abahnya kiayai yahya sebagai khodimul ma’had yang biasa mengisi kajian kitab al-hikam di mushallah. Para santri putra pun sudah berkumpul memadati mushallah menunggu sebagiamana biasanya mereka menunggu kiyai sepuh. Tak terkecualipun di bagian putri, walaupun mereka hanya sebatas mendengar melalui suara sound sistem mushallah namun mereka sangat antusias ingin segera menyimak paparan lora ilzam yang masih muda namun keilmuannya tidak diragukan lagi. “ para santri-santri sekalian yang dimuliakan Allah. sebenaranya saya enggan menggantikan kiyai mengisi ta’lim ini, disamping karena saya belum pantas, saya juga merasa khawatir akan tidak bisa mengamalkan apa yang saya ajarkan nanti, namun palah daya sebab ini adalah titah dari beliu yang harus saya terima. Lagi pula beliau telah memantapkan hati saya bahwa kata beliau “antara apa yang kita pelajari dan pengamalannya itu dua hal yang sifatnya berbeda, namun alangkah bijaknya jika setelah dipelajari itu diamalkan dan insyaallah ikamu bisa melakukannya zam” itulah sebagai pengantar ilzam sebelum memulai ta’limnya. Lebih lanjut beliau menjelaskan “bahwa kitab yang akan kita pelajari merupakan bagian dari kitab-kitab tasawuf yang ada. Kitab ini merupakan karya seorang tokoh sufi terkenal ibnu ‘athoillah as-sakandari. Dan kitab-kitab ini sangatlah penting untuk kita kaji, lebih-lebih akahir-akhir ini dimana kebanyakan dari kita sudah menyimpang dan lebih mementingkan keduniaan”. Dikesempatan itu ia juga tidak melewatkat dengan bercerita tentang tokoh-tokoh sufi lainnya seperti imam Ghazali, Syaikh Abdul Qadir Jailani. Dan tak kalah serunya saat ia bercerita tentang tokoh sufi perempuan yang bernama Robiah al-adawiah yang hidup pada abad ke2 ia menjelasakan panjang lebar mengenai kehidupan beliau, bahkan di akhir ceritanya ia mengatakan bahwa ia kagum dengan perempuan itu dan ia pun mengatakan kelak andaikata ia menikah semoga ia dikaruniai pendamping seperti itu. Setelah bercerita panjang lebar mengenai para tokoh-tokoh sufi ia pun menutup ta’lim di sore itu dengan pembacaan wallahu a’lam fi nafsil amri wa haqiqotil hal.
Para santripun berdo’a dan turun satu persatu setelah menunggu loranya beranjak menuju dhalem dan ada sebagian yang masih setia duduk menghadap kiblat sambil menunggu adzan maghrib dikomandangkan.

****

Di bagian putri Dewi pun seakan-akan kagum setelah mendengar paparan dari loranya, ia pun sekarang yakin akan cerita-cerita putri temannya tentang sosok dan keilmuan loranya, bahkan dewi merasa penasaran dan seakan-akan ia ingin sesekali melihatnya, bahkan ia merasa terkejut ketika diwaktu mengaji loranya menyebut nama Robiah al-adawiyah, yang hal itu secara kebetulan sama dengan nama aslinya.
Mulai saat itu dewi pun tahu bahwa sebenarnya nama dirinya adalah nama yang pernah tekenal yang dimilki seorang sufi perempuan, sehingga ia pun penasaran dan ingin menanyakan lebih lanjut tentang kehdupan robiah al-adawiah. Walaupun dalam hatinya pesimis niatnya tidak akan kesampaian. Tapi itulah takdir Tuhan yang bisa terjadi kapanpun untuk siapa pun dan di mana pun dan hal itu bukanlah suatu kebetulan. Di pagi itu di papan informasi bagian putri terpampang penguman :
“kepada setiap santri aliyah putri yang hendak mengikuti kajian fiqh, harap siap-siap memenuhi syarat-syarat dibawah ini:
membeli kitab fathu al-muin
niat yang tulus
siap mengamalkan
siap mengaji sampai selesai

setelah membaca innnformasi tersebut, dewipun gembira karenan ia merasa mempunyai kesempatan untuk bertemu. Iapun mempersiapkan apa yanga menjadi keperluanya. Malam itu sehabis sholat maghrib santrri putri kelas XI berkunpul bersiap mengikuti kajian kitab yang akan diasuh oleh lora zain. Denagan menunggu sebentar akhirnya ta’limpun dimualai, dewipun menyimaknya dengan sungguh-sungguh apa yang dipaparkan oleh loranya itu. Kemudian setelah lora zain memaparkan isi kitab fathul mu’in ia hendak mengakhiri, namun, sebelumnya ia meminta kepada para santri yang mengaji untuk menanyakan permasalahan yang bersangkutan dengan apa yang di paparkanya, para santripun diam, mungkin mereka canggung untuk menayakanya. Tapi tidaklah untuk dewi. Ia mengacungkan tanganya. Melihat hal itu, lora zain mempersilahkan dewi.
“ia silahkan” katanya…
“sebelumnaya mohon maaf, karena keluar dari pembahasan ini. Sebab ini berangkat dari rasa penasaran saya. Dan itu dimulai waktu kemarin ketika sampean menjelaskan tentang tokoh sufi perempuan yang bernama Robi’ah al-adewiyah. Jadi berkenan sampean menjelaskan ulang mengenai hal itu, terima kasih.” Ucapnya lembut.

Ssmenjak pertemuan itu, kekaguman dewi berubah menjadi rasa yang ia ssendiri tidak mengerti, bahkan lama-kelamaan sesakan bayangan seorang lora menghantuinya, bahkan dalam hayalnya. Kadang terlintas keinginanya untuk mengucakan satu kalimat “ I Love You Lora” nammun ketika ia sadar akan setatusnya iapun membuang jauh-jauh perasaan itu, dan menganggap itu hanyalah suatu perasaan yangn tidak normal yang semestinya. Ia tidak miliki. Sungguh aneh bagi dewi ketika ia tambah sadar akan statusnya, malah seakan-akan perasaan itu merongrong, seakan memaksa untuk mengungkapkan perasaanyua.

BERSAMBUNG....Tunggu di kesempatan kedua

0 komentar: