Sabtu, 23 Juli 2011

Cincin Dua Angsa



Suara speda motor menderu di depan rumahku “Pos...!” terdengar si pengendara berteriak lantang, aku bergegas memenuhi panggilan itu “Dari pelestina”, ucap Pak pos sebari memberikan sepecuk surat dan sebuah bungkusan besar.
“Abi...!!!”, pekik hati kecilku penuh haru biru menerima bingkisan ini.
“Ulfah.... Junda.... ini ada kiriman dari Abi!”, aku memanggil mujahidah dan mujahid kecilku. Tak lama kemudian mereka lari ke arahku dan berebut membuka bungkusan besar itu. Oh, ternyata bungkusan besar itu berisi tiga buah baju, untukku, untuk ulfah dan untuk junda.
“Ah...., Abi masih sempatnya memerhatikan kami ditengah desingan peluru Israel yang siap memnerkammu”, desah hatiku lirih. Ulfah dan Junda kulihat sangat girang menerima kiriman baju dari abinya. Mereka langsung mematuk-matukkan baju itu ke tubuhnya.
“Mi...lebaran ini Abi pulang Nggak ya...? Ulfah sudah rinduu... deh,”ucap si sulungku dengan wajah sendu.
“Tidak..., Ramadhan dan lebaran kali ini Abi  tidak bersama kita,” jawabku sambil coba tersenyum walau hati ini sangat serat dengan gelembung haru.
“Yaaa lebaran sekarang nggak sama Abi .....dong, Mi,” desah ulfah kecewa.
“Tak kenapa Abi nggak datang, kalau Ulfah rindu sama Abi, ingat-ingat saja pesan abi waktu itu, waktu mau pergi dulu. Kalau Ulfah melaksanakan pesan-pesan itu, pasti Allah akan menyampaikan rindu Ulfah sama Abi”, hiburku.
    Setelah mendengar ucapanku si sulung yang baru berusia empat tahun itu langsung menangis tergugu.
“Maafkan Ulfah ya...Bi, Ulfah janji nggak lagi-lagi .....,”ucap Ulfah di sela-sela tangisnya.
“Kenapa ulfah.....?” tanyaku seraya mengusap kepala mungilnya.
“Mi... ulfah suka bandel kalau di suruh Ummi pakai jilbab. Padahal Abi dulu bilang kalau Ulfah mau keluar harus pakai jilbab. Mi..., Abi  maafin Ulfah nggak ya.... Mi?” tanya sulungku lugu.
    Aku tak mampu menjawab pertanyaannya dengan kata-kata, aku takut air mata ini jatuh berderai-derai di depan mujahidah dan mujahid kecilku. Ini merupakan pantangan besar bagiku!!!

        *     *     *

Malam telah menghamparkan gelapnya yang pekat, anak-anakpun sudah terlelap. Aku beringsut dari tempat tidur untuk membuka dan membaca surat dari Mas Pri. Sengaja surat ini ku baca diam-diam agar bila air mataku ini tumpah ruah, mereka tak akan dapat menyaksikannya. Ku buka amplop biru ini dengan getar rindu.

                            Untuk Ummi Thayyibah

Dengan asma Allah ku kirim salam
Dari medan jihad di negri sebrang
Semoga kau di beri ketabahan
Sanpai datang waktu kala itu
Kau ikhlas melepas kepergianku
Beribu kenangan terasa sendu

Dengan asma Allah ku kirim salam
Dari medan jihad di negri sebrang
Semoga kau di beri ketabahan
Satu tahun kini hampir berlalu
Semoga aku segera bersamamu
Membawa beribu kenangan haru
Dari bumi yang menyejukkan kalbu

Ummi Thayyibah....selamat Ramadhan dan Iedul fitri, mudah-mudahan semakin Taqwa walau tidak di sertai Abi. Ini ada baju untuk Ummi dan Anak-anak, tapi Ummi jangan sedih jika baju ini mungkin yang terakhir yang Abi berikan, dan surat yang Ummi baca ini, surat terakhir yang Abi tulis.
“Mi...coba tolong periksa dalam amplop ini, Abi sertakan Cincin Dua Angsa milikmu.
    Ummi Thayyibah... suatu ketika selepas sholat isya, ada seorang teman datang ke Pondok tempat para Mujahid berkumpul, Ia Membawa bantuan dari Muslim Indonesia berupa uang dan Perhiasan. Ketika Ikhwan itu membuka kotak tempat Perhiasan, mata Abi langsung tertuju pada sebuah Cincin Dua Angsa yang rasanya Abi sudah sangat mengenalanya. Ah, Mi... benar saja di dalam Cincin itu tertulis nama kita berdua .....
    Umi Thayyibah, sejak awal menikah, Abi yakin bahwa Ummi tidakkan mengecewakan, telah kau berikan seluruh apa yang kau cintai pada Allah; Abi, Harta bendamu dan skarang Cincin Dua Angsa yang merupakan bukti Cinta kita berdua.
    Ah, Mi..., Abi harus banyak bersyukur mendapatkan Istri se Sholihat engkau. Mi...., berdoa ya! agar Allah mengukirkan nama kita di surga sana seperti yang terukir dalam Cincin Dua Angsa yang telah engkau Infaqkan.
    Mi..., Abi ingin menjadi seperti Rasululah terhadap Ummi, Beliau rela membeli sebuah kalung perhiasan yang pernah di miliki Sitti Fatimah, putrinya. dan kalung perhiasan itu merupakan pemberian Siti Khadijah ketika Sitti Fatimah melangsungkan akad nikah dengan Sayyidina Ali bin Abi Thalib. karena faktor ekonomi yang pas-pasan akhirnya terpaksa Kalung perhiasan itu di jual.
    Alhamdulillah walau dengan susah payah, Abi berhasil mengumpulkan uang untuk menebus Cincin Dua Angsa ini. Sekarang Abi berikan kembali Cincin ini untukmu, Ummi Thayyibahku.
    Ingat Mi..! Cincin ini sebagai Titipan bukan sebagai Mahar. Jadi Ummi harus izin dulu kalau mau menginfaqkannya.
    Mi..., sudah dulu ya, sampaikan salam rindu Abi dan salam jihad Abi buat Ulfah dan Junda.
“Dan apa saja harta yang baik kamu nafkahkan di jalan Allah, maka sesungguhnya Allah maha menetahui,...Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan, niscaya kamu akan di beri pahala yang cukup sedang kamu sedikitppun tidak akan di aniaya.(Qs al- baqoroh: ayat 272-273)

                                Yang mencintaimu  karena Allah Abu Ulfah
                                         
  
Baju  dan kertas biru gelora rindu ini kini kuyup sudah, derai air mata pun sudah tak mau lagi untuk di bendung. Perlahan tanganku menelusuri ujung amplop, dan... ku temukan sesuatu yang berbentuk bundar di sana. Ah, ku pakai Cincin itu dengan hati penuh debar-debar Cinta. Seperti dulu ketika pertama kalinya saat Mas Pri mencapkan... “Saya terima Nikahnya dan Kawinnya Thayyibah binti Shabri dengan maskawin Cincin Emas lima gram tunai...”.

*      *      *
Adzan subuh Telah berkumandang, bunyi takbir dan bedug menggema di udara. Iedul fitri kembali datang mengunjugi manusia-manusia suci selepas Ramadhan. Keluarga berkumpul dalam suka cita. Keriangan menggantung di mana-mana. Termasuk di rumahku, walau tanpa Mas Pri. Kedua orang Anakkupun di liputi kegembiraan sekeliling.
    Kubayangkan Mas Pri membaawa mereka ke kebun binatang, bercengkrama dengan junda dan ulfah sebagai mana kini tengah di lakukan oleh banyak keluarga lainnya, tapi aku menyadari, bahwa pengorbanan ini pasti akan mendapatkan balasan yang setimpal oleh Dzat yng tak pernah tidur.

*      *      *
Beberapa hari setelah Ied berlalu, Seorang Ikhwah datang memberi berita," Akhuna Pri telah gugur sebagai mujahid sejati tengah malam menjelang Iedul Fitri..."
    Rasanya hatiku hancur berkeping-keping, langit seakan runtuh menerpa diriku. Kabar itu menyayat di hatiku," Apkah ini hayalan atau memang kenyataan ", gumamku seakan tidak percaya pada apa yang aku dengar.

























 

2 komentar:

salam antariksa mengatakan...

thanks...............buat komentx! puisix sangat menxntuh, daftar fotox sangat baxk, sampe'bingung...........do'i pa adk, anak pa ponakan, mbak pa mami !

Unknown mengatakan...

foto yang mana