Syarif Husain adalah
putra Maulana Ibrahim Sunan Dalam bin Sunan Giri. Tempat makam beliau berada di
atas sebuah bukit di wilayah Omben kabupaten Sampang Madura.
Di kalangan warga se tempat, beliau lebih dikenal dengan sebutan Bujuk Rokem.
Di wilayah Omben, ada dua makam tua yang sama-sama bernama Husain. Makam pertama yang berada tidak jauh dari pasar Omben, adalah makam Sayyid Husain yang terkenal dengan julukan Bujuk Reyoh, beliau bermarga Alhaddad. Sedangkan yang ke dua berada di atas bukit, yaitu makam Syarif Husain bin Ibrahim bin Ainul Yaqin, Sunan Giri. Beliau inilah yang pernah menjabat menjadi Adipati Omben pada masa kolonial Belanda.
Pada masa tua, beliau lebih lebih memilih hidup berkhalwat di atas bukit untuk menyendiri beribadah kepada Allah. Syarif Husain adalah figur pemimpin yang sangat disegani baik oleh masyarakat maupun oleh kolonial. Di samping karena ketegasan beliau dalam memimpin rakyatnya, beliau juga termasuk orang-orang yang shaleh dalam beribadah kepada Allah. Karena itu pula beliau memilih hidup pada masa tua untuk berkhalwat di bawah pohon rukem (logat Madura : rokem) di atas bukit wilayah Omben.
Dalam khalwatnya, terkadang beliau beribadah kepada Allah dengan bertempat di bawah pohon, tapi tak jarang juga saat berdzikir, beliau berdiam di atas pohon, sehingga masyarakat se tempat menjulukinya dengan sebutan Bujuk Rokem.
Salah seorang anak cucu beliau keturunan ke 5, yang menetap di kabupaten Malang bernama KH. Murtadla Abdurrahim, seorang tokoh masyarakat di wilayahnya, suatu saat kedatangan tamu rombongan yang tidak dikenal sebelumnya. Saat ketua rombongan memperkenalkan diri bahwa mereka berasal dari daerah Omben, tentu saja KH. Murtadla merasa senang karena kedatangan tamu dari daerah tempat tinggal kakek-kakeknya.
Secara spontan, KH. Murtadla mengatakan kepada para tamunya itu, bahwa dirinya adalah keturunan Adipati Omben, Syarif Husain. Mendegar pengakuan polos KH. Murtadla, maka tamu rombongan itu tiba-tiba saja turun secara serentak dari kursi tamu, dan duduk bersimpuh dengan menundukkan wajah di hadapan KH. Murtadla.
Dengan penuh keheranan KH. Murtadla meminta para tamunya untuk kembali ke kursi tempat duduknya, seraya bertanya ada apa gerangan tiba-tiba saja mereka berlaku seperti itu.
Sang pemimpin rombongan tetap saja enggan kembali ke kursi tempat duduknya, dan tetap memilih duduk bersimpuh penuh hormat sambil menerangkan, bahwa sampai saat itu masyarakat Omben masih menganggap Sang Adipati Syarif Husain adalah panutan mereka secara turun temurun. Maka seluruh keturunan Adipati Omben sangatlah dihormati oleh mereka.
Dalam sejarah, Adipati Omben menurunkan anak yang salah satunya bernama Datuk Hasan, beliau terkenal sangat tampan dan selalu berdakwah keliling pulau Madura. Karena ketampanan wajahnya, masyarakat Madura menjulukinya sebagai Bujuk Raden. Karena sering keluar masuk desa, hingga akhirnya wafat di daerah Arusbaya Bangkalan.
Di kalangan warga se tempat, beliau lebih dikenal dengan sebutan Bujuk Rokem.
Di wilayah Omben, ada dua makam tua yang sama-sama bernama Husain. Makam pertama yang berada tidak jauh dari pasar Omben, adalah makam Sayyid Husain yang terkenal dengan julukan Bujuk Reyoh, beliau bermarga Alhaddad. Sedangkan yang ke dua berada di atas bukit, yaitu makam Syarif Husain bin Ibrahim bin Ainul Yaqin, Sunan Giri. Beliau inilah yang pernah menjabat menjadi Adipati Omben pada masa kolonial Belanda.
Pada masa tua, beliau lebih lebih memilih hidup berkhalwat di atas bukit untuk menyendiri beribadah kepada Allah. Syarif Husain adalah figur pemimpin yang sangat disegani baik oleh masyarakat maupun oleh kolonial. Di samping karena ketegasan beliau dalam memimpin rakyatnya, beliau juga termasuk orang-orang yang shaleh dalam beribadah kepada Allah. Karena itu pula beliau memilih hidup pada masa tua untuk berkhalwat di bawah pohon rukem (logat Madura : rokem) di atas bukit wilayah Omben.
Dalam khalwatnya, terkadang beliau beribadah kepada Allah dengan bertempat di bawah pohon, tapi tak jarang juga saat berdzikir, beliau berdiam di atas pohon, sehingga masyarakat se tempat menjulukinya dengan sebutan Bujuk Rokem.
Salah seorang anak cucu beliau keturunan ke 5, yang menetap di kabupaten Malang bernama KH. Murtadla Abdurrahim, seorang tokoh masyarakat di wilayahnya, suatu saat kedatangan tamu rombongan yang tidak dikenal sebelumnya. Saat ketua rombongan memperkenalkan diri bahwa mereka berasal dari daerah Omben, tentu saja KH. Murtadla merasa senang karena kedatangan tamu dari daerah tempat tinggal kakek-kakeknya.
Secara spontan, KH. Murtadla mengatakan kepada para tamunya itu, bahwa dirinya adalah keturunan Adipati Omben, Syarif Husain. Mendegar pengakuan polos KH. Murtadla, maka tamu rombongan itu tiba-tiba saja turun secara serentak dari kursi tamu, dan duduk bersimpuh dengan menundukkan wajah di hadapan KH. Murtadla.
Dengan penuh keheranan KH. Murtadla meminta para tamunya untuk kembali ke kursi tempat duduknya, seraya bertanya ada apa gerangan tiba-tiba saja mereka berlaku seperti itu.
Sang pemimpin rombongan tetap saja enggan kembali ke kursi tempat duduknya, dan tetap memilih duduk bersimpuh penuh hormat sambil menerangkan, bahwa sampai saat itu masyarakat Omben masih menganggap Sang Adipati Syarif Husain adalah panutan mereka secara turun temurun. Maka seluruh keturunan Adipati Omben sangatlah dihormati oleh mereka.
Dalam sejarah, Adipati Omben menurunkan anak yang salah satunya bernama Datuk Hasan, beliau terkenal sangat tampan dan selalu berdakwah keliling pulau Madura. Karena ketampanan wajahnya, masyarakat Madura menjulukinya sebagai Bujuk Raden. Karena sering keluar masuk desa, hingga akhirnya wafat di daerah Arusbaya Bangkalan.
Syarif
Husain adalah putra Maulana Ibrahim Sunan Dalam bin Sunan Giri. Tempat
makam beliau berada di atas sebuah bukit di wilayah Omben kabupaten
Sampang Madura.
Di kalangan warga se tempat, beliau lebih dikenal dengan sebutan Bujuk Rokem.
Di wilayah Omben, ada dua makam tua yang sama-sama bernama Husain. Makam pertama yang berada tidak jauh dari pasar Omben, adalah makam Sayyid Husain yang terkenal dengan julukan Bujuk Reyoh, beliau bermarga Alhaddad. Sedangkan yang ke dua berada di atas bukit, yaitu makam Syarif Husain bin Ibrahim bin Ainul Yaqin, Sunan Giri. Beliau inilah yang pernah menjabat menjadi Adipati Omben pada masa kolonial Belanda.
Pada masa tua, beliau lebih lebih memilih hidup berkhalwat di atas bukit untuk menyendiri beribadah kepada Allah. Syarif Husain adalah figur pemimpin yang sangat disegani baik oleh masyarakat maupun oleh kolonial. Di samping karena ketegasan beliau dalam memimpin rakyatnya, beliau juga termasuk orang-orang yang shaleh dalam beribadah kepada Allah. Karena itu pula beliau memilih hidup pada masa tua untuk berkhalwat di bawah pohon rukem (logat Madura : rokem) di atas bukit wilayah Omben.
Dalam khalwatnya, terkadang beliau beribadah kepada Allah dengan bertempat di bawah pohon, tapi tak jarang juga saat berdzikir, beliau berdiam di atas pohon, sehingga masyarakat se tempat menjulukinya dengan sebutan Bujuk Rokem.
Salah seorang anak cucu beliau keturunan ke 5, yang menetap di kabupaten Malang bernama KH. Murtadla Abdurrahim, seorang tokoh masyarakat di wilayahnya, suatu saat kedatangan tamu rombongan yang tidak dikenal sebelumnya. Saat ketua rombongan memperkenalkan diri bahwa mereka berasal dari daerah Omben, tentu saja KH. Murtadla merasa senang karena kedatangan tamu dari daerah tempat tinggal kakek-kakeknya.
Secara spontan, KH. Murtadla mengatakan kepada para tamunya itu, bahwa dirinya adalah keturunan Adipati Omben, Syarif Husain. Mendegar pengakuan polos KH. Murtadla, maka tamu rombongan itu tiba-tiba saja turun secara serentak dari kursi tamu, dan duduk bersimpuh dengan menundukkan wajah di hadapan KH. Murtadla.
Dengan penuh keheranan KH. Murtadla meminta para tamunya untuk kembali ke kursi tempat duduknya, seraya bertanya ada apa gerangan tiba-tiba saja mereka berlaku seperti itu.
Sang pemimpin rombongan tetap saja enggan kembali ke kursi tempat duduknya, dan tetap memilih duduk bersimpuh penuh hormat sambil menerangkan, bahwa sampai saat itu masyarakat Omben masih menganggap Sang Adipati Syarif Husain adalah panutan mereka secara turun temurun. Maka seluruh keturunan Adipati Omben sangatlah dihormati oleh mereka.
Dalam sejarah, Adipati Omben menurunkan anak yang salah satunya bernama Datuk Hasan, beliau terkenal sangat tampan dan selalu berdakwah keliling pulau Madura. Karena ketampanan wajahnya, masyarakat Madura menjulukinya sebagai Bujuk Raden. Karena sering keluar masuk desa, hingga akhirnya wafat di daerah Arusbaya Bangkalan.
Di kalangan warga se tempat, beliau lebih dikenal dengan sebutan Bujuk Rokem.
Di wilayah Omben, ada dua makam tua yang sama-sama bernama Husain. Makam pertama yang berada tidak jauh dari pasar Omben, adalah makam Sayyid Husain yang terkenal dengan julukan Bujuk Reyoh, beliau bermarga Alhaddad. Sedangkan yang ke dua berada di atas bukit, yaitu makam Syarif Husain bin Ibrahim bin Ainul Yaqin, Sunan Giri. Beliau inilah yang pernah menjabat menjadi Adipati Omben pada masa kolonial Belanda.
Pada masa tua, beliau lebih lebih memilih hidup berkhalwat di atas bukit untuk menyendiri beribadah kepada Allah. Syarif Husain adalah figur pemimpin yang sangat disegani baik oleh masyarakat maupun oleh kolonial. Di samping karena ketegasan beliau dalam memimpin rakyatnya, beliau juga termasuk orang-orang yang shaleh dalam beribadah kepada Allah. Karena itu pula beliau memilih hidup pada masa tua untuk berkhalwat di bawah pohon rukem (logat Madura : rokem) di atas bukit wilayah Omben.
Dalam khalwatnya, terkadang beliau beribadah kepada Allah dengan bertempat di bawah pohon, tapi tak jarang juga saat berdzikir, beliau berdiam di atas pohon, sehingga masyarakat se tempat menjulukinya dengan sebutan Bujuk Rokem.
Salah seorang anak cucu beliau keturunan ke 5, yang menetap di kabupaten Malang bernama KH. Murtadla Abdurrahim, seorang tokoh masyarakat di wilayahnya, suatu saat kedatangan tamu rombongan yang tidak dikenal sebelumnya. Saat ketua rombongan memperkenalkan diri bahwa mereka berasal dari daerah Omben, tentu saja KH. Murtadla merasa senang karena kedatangan tamu dari daerah tempat tinggal kakek-kakeknya.
Secara spontan, KH. Murtadla mengatakan kepada para tamunya itu, bahwa dirinya adalah keturunan Adipati Omben, Syarif Husain. Mendegar pengakuan polos KH. Murtadla, maka tamu rombongan itu tiba-tiba saja turun secara serentak dari kursi tamu, dan duduk bersimpuh dengan menundukkan wajah di hadapan KH. Murtadla.
Dengan penuh keheranan KH. Murtadla meminta para tamunya untuk kembali ke kursi tempat duduknya, seraya bertanya ada apa gerangan tiba-tiba saja mereka berlaku seperti itu.
Sang pemimpin rombongan tetap saja enggan kembali ke kursi tempat duduknya, dan tetap memilih duduk bersimpuh penuh hormat sambil menerangkan, bahwa sampai saat itu masyarakat Omben masih menganggap Sang Adipati Syarif Husain adalah panutan mereka secara turun temurun. Maka seluruh keturunan Adipati Omben sangatlah dihormati oleh mereka.
Dalam sejarah, Adipati Omben menurunkan anak yang salah satunya bernama Datuk Hasan, beliau terkenal sangat tampan dan selalu berdakwah keliling pulau Madura. Karena ketampanan wajahnya, masyarakat Madura menjulukinya sebagai Bujuk Raden. Karena sering keluar masuk desa, hingga akhirnya wafat di daerah Arusbaya Bangkalan.
Syarif
Husain adalah putra Maulana Ibrahim Sunan Dalam bin Sunan Giri. Tempat
makam beliau berada di atas sebuah bukit di wilayah Omben kabupaten
Sampang Madura.
Di kalangan warga se tempat, beliau lebih dikenal dengan sebutan Bujuk Rokem.
Di wilayah Omben, ada dua makam tua yang sama-sama bernama Husain. Makam pertama yang berada tidak jauh dari pasar Omben, adalah makam Sayyid Husain yang terkenal dengan julukan Bujuk Reyoh, beliau bermarga Alhaddad. Sedangkan yang ke dua berada di atas bukit, yaitu makam Syarif Husain bin Ibrahim bin Ainul Yaqin, Sunan Giri. Beliau inilah yang pernah menjabat menjadi Adipati Omben pada masa kolonial Belanda.
Pada masa tua, beliau lebih lebih memilih hidup berkhalwat di atas bukit untuk menyendiri beribadah kepada Allah. Syarif Husain adalah figur pemimpin yang sangat disegani baik oleh masyarakat maupun oleh kolonial. Di samping karena ketegasan beliau dalam memimpin rakyatnya, beliau juga termasuk orang-orang yang shaleh dalam beribadah kepada Allah. Karena itu pula beliau memilih hidup pada masa tua untuk berkhalwat di bawah pohon rukem (logat Madura : rokem) di atas bukit wilayah Omben.
Dalam khalwatnya, terkadang beliau beribadah kepada Allah dengan bertempat di bawah pohon, tapi tak jarang juga saat berdzikir, beliau berdiam di atas pohon, sehingga masyarakat se tempat menjulukinya dengan sebutan Bujuk Rokem.
Salah seorang anak cucu beliau keturunan ke 5, yang menetap di kabupaten Malang bernama KH. Murtadla Abdurrahim, seorang tokoh masyarakat di wilayahnya, suatu saat kedatangan tamu rombongan yang tidak dikenal sebelumnya. Saat ketua rombongan memperkenalkan diri bahwa mereka berasal dari daerah Omben, tentu saja KH. Murtadla merasa senang karena kedatangan tamu dari daerah tempat tinggal kakek-kakeknya.
Secara spontan, KH. Murtadla mengatakan kepada para tamunya itu, bahwa dirinya adalah keturunan Adipati Omben, Syarif Husain. Mendegar pengakuan polos KH. Murtadla, maka tamu rombongan itu tiba-tiba saja turun secara serentak dari kursi tamu, dan duduk bersimpuh dengan menundukkan wajah di hadapan KH. Murtadla.
Dengan penuh keheranan KH. Murtadla meminta para tamunya untuk kembali ke kursi tempat duduknya, seraya bertanya ada apa gerangan tiba-tiba saja mereka berlaku seperti itu.
Sang pemimpin rombongan tetap saja enggan kembali ke kursi tempat duduknya, dan tetap memilih duduk bersimpuh penuh hormat sambil menerangkan, bahwa sampai saat itu masyarakat Omben masih menganggap Sang Adipati Syarif Husain adalah panutan mereka secara turun temurun. Maka seluruh keturunan Adipati Omben sangatlah dihormati oleh mereka.
Dalam sejarah, Adipati Omben menurunkan anak yang salah satunya bernama Datuk Hasan, beliau terkenal sangat tampan dan selalu berdakwah keliling pulau Madura. Karena ketampanan wajahnya, masyarakat Madura menjulukinya sebagai Bujuk Raden. Karena sering keluar masuk desa, hingga akhirnya wafat di daerah Arusbaya Bangkalan.
Di kalangan warga se tempat, beliau lebih dikenal dengan sebutan Bujuk Rokem.
Di wilayah Omben, ada dua makam tua yang sama-sama bernama Husain. Makam pertama yang berada tidak jauh dari pasar Omben, adalah makam Sayyid Husain yang terkenal dengan julukan Bujuk Reyoh, beliau bermarga Alhaddad. Sedangkan yang ke dua berada di atas bukit, yaitu makam Syarif Husain bin Ibrahim bin Ainul Yaqin, Sunan Giri. Beliau inilah yang pernah menjabat menjadi Adipati Omben pada masa kolonial Belanda.
Pada masa tua, beliau lebih lebih memilih hidup berkhalwat di atas bukit untuk menyendiri beribadah kepada Allah. Syarif Husain adalah figur pemimpin yang sangat disegani baik oleh masyarakat maupun oleh kolonial. Di samping karena ketegasan beliau dalam memimpin rakyatnya, beliau juga termasuk orang-orang yang shaleh dalam beribadah kepada Allah. Karena itu pula beliau memilih hidup pada masa tua untuk berkhalwat di bawah pohon rukem (logat Madura : rokem) di atas bukit wilayah Omben.
Dalam khalwatnya, terkadang beliau beribadah kepada Allah dengan bertempat di bawah pohon, tapi tak jarang juga saat berdzikir, beliau berdiam di atas pohon, sehingga masyarakat se tempat menjulukinya dengan sebutan Bujuk Rokem.
Salah seorang anak cucu beliau keturunan ke 5, yang menetap di kabupaten Malang bernama KH. Murtadla Abdurrahim, seorang tokoh masyarakat di wilayahnya, suatu saat kedatangan tamu rombongan yang tidak dikenal sebelumnya. Saat ketua rombongan memperkenalkan diri bahwa mereka berasal dari daerah Omben, tentu saja KH. Murtadla merasa senang karena kedatangan tamu dari daerah tempat tinggal kakek-kakeknya.
Secara spontan, KH. Murtadla mengatakan kepada para tamunya itu, bahwa dirinya adalah keturunan Adipati Omben, Syarif Husain. Mendegar pengakuan polos KH. Murtadla, maka tamu rombongan itu tiba-tiba saja turun secara serentak dari kursi tamu, dan duduk bersimpuh dengan menundukkan wajah di hadapan KH. Murtadla.
Dengan penuh keheranan KH. Murtadla meminta para tamunya untuk kembali ke kursi tempat duduknya, seraya bertanya ada apa gerangan tiba-tiba saja mereka berlaku seperti itu.
Sang pemimpin rombongan tetap saja enggan kembali ke kursi tempat duduknya, dan tetap memilih duduk bersimpuh penuh hormat sambil menerangkan, bahwa sampai saat itu masyarakat Omben masih menganggap Sang Adipati Syarif Husain adalah panutan mereka secara turun temurun. Maka seluruh keturunan Adipati Omben sangatlah dihormati oleh mereka.
Dalam sejarah, Adipati Omben menurunkan anak yang salah satunya bernama Datuk Hasan, beliau terkenal sangat tampan dan selalu berdakwah keliling pulau Madura. Karena ketampanan wajahnya, masyarakat Madura menjulukinya sebagai Bujuk Raden. Karena sering keluar masuk desa, hingga akhirnya wafat di daerah Arusbaya Bangkalan.






2 komentar:
Assalamualaikum. Menurut sejarah Buku keraton sumenep dan Keraton yogyakarta, bahwa keraton adipati Omben menetap di area desa riyoh sehingga warga menyebut makam beliau dengan sebutan buyut riyoh tepatnya nama beliau adalah Syarif Khusein bin Raden Zainal Abidin menantu sekaligus santri Mulana Ainul Yaqin (Sunan Giri). Silahkan di baca buku sejarah Babat Madura Asal Usul Pulau madura keluaran keraton sumenep bersumber dari buku keraton Yogyakarta. Terima Kasih
syarif husein it yg bujuk rokem..itu cucu dri sunan giri...makam nya ada di desa rapa laok bawah bukit ,
Posting Komentar